The Lovers on the Bridge (dok. Janus Films/The Lovers on the Bridge)
Alasan lainnya mungkin di sektor biaya dan durasi produksi. Merujuk amatan Wolfcrow, durasi produksi film dari satu dekade ke dekade berikutnya terus berkurang. Mereka mengambil beberapa sampel film dari tahun 1920-an sampai 2010-an. Dari yang 90—180 hari pada 1920—1970, ia berkurang jadi 80-an hari pada 1980—2000-an sampai hanya 75 hari pada 2010-an. Mereka berargumen kalau pola ini terjadi karena beberapa faktor seperti kemajuan teknologi (proses editing dan pemotongan adegan yang lebih mudah karena teknologi digital) sampai faktor ekonomi, tepatnya persaingan pasar yang makin ketat.
Apalagi di era streaming seperti sekarang. Makin banyak pemain di industri ini dan risiko film gagal pun lebih besar. Ini yang memotivasi produser untuk memampatkan biaya produksi dan akhirnya memilih jalan pintas seperti CGI ketimbang harus mempersiapkan set, properti, dan efek visual yang bersifat tangible (berwujud). Risiko rugi juga memudarkan semangat untuk bereksperimen di segi sinematografi layaknya yang dilakukan sineas 80—90-an macam Christopher Doyle (Fallen Angels), Tom DiCillo (Living in Oblivion) atau Jean-Yves Escoffier (The Lovers on the Bridge).
Sebenarnya, masih banyak film masa kini yang dibuat dengan seksama dan vibrasinya seperti film lawas. Sebut saja Nightcrawler (2014), Aftersun (2022), The Holdovers (2023), dan Fallen Leaves (2023), Hanya saja, kita harus bersiap menerima fakta bahwa visual film masa kini memang bergeser ke arah yang berlawanan dengan beberapa dekade lalu.