Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Paris, Texas
Paris, Texas (dok. Janus Films/Paris, Texas)

Intinya sih...

  • Saturasi warna dan penataan kontras yang tepat

  • CGI dan kamera digital berkualitas tinggi bikin sineas terlena

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau kamu hobi nonton film lawas, terutama yang rilis pada dekade 80—90-an, kamu mungkin setuju kalau mereka superior secara visual. Warnanya lebih vibran; grain atau teksturnya masih terlihat, tetapi gak mengganggu; latarnya naturalistik, tapi nyaman dilihat; dan masih banyak lagi kelebihannya.

Sayang pada dekade 2000-an dan seterusnya, kita seolah kehilangan visual ala film 90-an itu. Film terlihat lebih datar secara warna, tekstur, dan latar, padahal, ketajaman gambar meningkat pesat. Apa kiranya yang mendorong itu semua terjadi?

1. Saturasi warna dan penataan kontras yang tepat

Eyes Wide Shut (dok. Criterion/Eyes Wide Shut)

Sebenarnya visual film bukan soal kamera belaka. Tidak semua film 90-an dibuat dengan kamera analog, lho. Beberapa film seperti Rainbow (1996) dan Festen (1998) dibuat dengan kamera digital dan tetap terlihat menawan, ketimbang datar dan membosankan. Kunci dari tampilan estetik film 90-an ternyata ada pada saturasi warna dan tingkat kekontrasan. Banyak film 80 dan 90-an yang kostum dan latarnya pakai warna vibran. Tak harus warna primer, tetapi perpaduannya serasi. Lihat Paris, Texas (1984), Do the Right Thing (1989), My Own Private Idaho (1991), Farewell My Concubine (1993), dan Drifting Clouds (1996) sebagai sampel.

Tidak soal warna saja, aspek lain yang cukup kental dan jadi kunci estetika film lawas adalah level kekontrasan. Silakan cek Eyes Wide Shut (1999), Bad Lieutenant (1992), dan The Crow (1994). Mereka tidak pakai banyak warna vibran, tetapi berhasil memainkan mata penonton lewat tingkat kekontrasan tersebut. Tidak seperti film-film sekarang yang terang atau bahkan cenderung gelap, film-film 90-an tadi dinamis dari segi pencahayaan. Dalam satu bingkai gambar, kamu disuguhi satu sisi terang dan sisi lain yang gelap, seolah sengaja memaksamu fokus pada elemen-elemen yang tampak saja dan menyembunyikan lainnya.

2. CGI dan kamera digital berkualitas tinggi bikin sineas terlena

Farewell My Concubine (dok. Criterion/Farewell My Concubine)

Tampilan flat dalam film-film terkini tentu terdengar kontraproduktif dengan kemajuan teknologi. Namun, nyatanya justru kamera berkualitas tinggi dan normalisasi pemanfaatan computer-generated-imagery (CGI) membuat sineas terlena. Tidak ada lagi upaya ekstra untuk mempersiapkan set layaknya pada proses pembuatan film pada masa lalu.

Penggunaan CGI dan kamera digital mendorong banyak sineas melakukan pengambilan gambar hampir seadanya saja karena mereka akan melakukan editing belakangan. Dengan bantuan teknologi saat ini, proses editing bisa dikerjakan dengan cepat dan mudah. Ini berbeda dengan proses syuting film pada dekade 80—90-an yang lebih matang dan spontan karena tahu mereka tak akan melakukan banyak editing setelahnya, terlebih bila pakai kamera analog.

Tidak ada pula antusiasme yang sama untuk bermain dengan kontras dan tekstur karena alasan pendekatan naturalistik. Alhasil, banyak film baru yang visualnya tajam dan bersih, tetapi tetap terlihat membosankan dan kurang nyaman di mata. Entah terlalu terang dan jernih, atau sebaliknya kelewat gelap dan abu-abu.

3. Tekanan untuk memampatkan durasi dan biaya produksi

The Lovers on the Bridge (dok. Janus Films/The Lovers on the Bridge)

Alasan lainnya mungkin di sektor biaya dan durasi produksi. Merujuk amatan Wolfcrow, durasi produksi film dari satu dekade ke dekade berikutnya terus berkurang. Mereka mengambil beberapa sampel film dari tahun 1920-an sampai 2010-an. Dari yang 90—180 hari pada 1920—1970, ia berkurang jadi 80-an hari pada 1980—2000-an sampai hanya 75 hari pada 2010-an. Mereka berargumen kalau pola ini terjadi karena beberapa faktor seperti kemajuan teknologi (proses editing dan pemotongan adegan yang lebih mudah karena teknologi digital) sampai faktor ekonomi, tepatnya persaingan pasar yang makin ketat.

Apalagi di era streaming seperti sekarang. Makin banyak pemain di industri ini dan risiko film gagal pun lebih besar. Ini yang memotivasi produser untuk memampatkan biaya produksi dan akhirnya memilih jalan pintas seperti CGI ketimbang harus mempersiapkan set, properti, dan efek visual yang bersifat tangible (berwujud). Risiko rugi juga memudarkan semangat untuk bereksperimen di segi sinematografi layaknya yang dilakukan sineas 80—90-an macam Christopher Doyle (Fallen Angels), Tom DiCillo (Living in Oblivion) atau Jean-Yves Escoffier (The Lovers on the Bridge).

Sebenarnya, masih banyak film masa kini yang dibuat dengan seksama dan vibrasinya seperti film lawas. Sebut saja Nightcrawler (2014), Aftersun (2022), The Holdovers (2023), dan Fallen Leaves (2023), Hanya saja, kita harus bersiap menerima fakta bahwa visual film masa kini memang bergeser ke arah yang berlawanan dengan beberapa dekade lalu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team