Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Fanny Kondoh
potret Fanny Kondoh (CURHAT BANG Denny Sumargo)

Intinya sih...

  • Fanny Kondoh aktif sebagai kreator konten sejak 2020 dan berjuang melawan kanker bersama Papa Udon, mantan presiden direktur restoran udon ternama.

  • Pasangan ini mengikuti program bayi tabung tiga kali sebelum Papa Udon meninggal saat Fanny hamil 4 bulan.

  • Fanny menceritakan momen-momen saat ia mendampingi suaminya berjuang melawan penyakit kanker hingga akhirnya Papa Udon meninggal pada Oktober 2024.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kisah perjuangan Fanny Kondoh yang sempat viral pada awal 2025 lalu akan diadaptasi ke layar lebar lewat film Baby Udon. Film ini disutradarai oleh Fajar Bustomi dengan naskah yang ditulis oleh Denny Sumargo. Pengumuman adaptasi film ini disampaikan langsung oleh Denny Sumargo melalui postingan di Instagram-nya, Selasa (20/1/2026). Ia memastikan bahwa Baby Udon siap dirilis di bioskop tahun ini juga.

Pengumuman yang dibawa oleh Denny Sumargo tersebut juga disambut antusias oleh netizen karena kisahnya dinilai menyentuh dan mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan, terutama tentang ketabahan dan cinta yang tulus. Sempat diceritakan di podcast Densu, berikut rangkuman kisah nyata Fanny Kondoh yang menginspirasi film Baby Udon.

1. Cerita Fanny Kondoh mulai aktif menjadi kreator konser sejak pandemik hingga awal mula kisah cintanya dengan mendiang Papa Udon

potret Fanny Kondoh (CURHAT BANG Denny Sumargo)

Melalui tayangan podcast di kanal YouTube Denny Sumargo, Fanny Kondoh menceritakan mulai aktif menjadi kreator konten sejak 2020. Saat itu, kontennya tentang aksi sedekah di tengah pandemik COVID-19 disambut hangat oleh netizen.

Menyadari aksi sederhananya merupakan syiar kebaikan, Fanny pun mengajak sang suami, Hajime Kondoh atau Papa Udon, yang sedang berjuang melawan kanker untuk terlibat langsung.

“Terus dia rutin melakukan itu dan karena dia in frame, jadi orang kayak, ‘Oh, orang Jepang, mualaf, sedekah, dan pada saat itu orang gak tahu kalau suamiku cancer,” kata Fanny.

Papa Udon sendiri merupakan mantan presiden direktur restoran udon ternama. Fanny menceritakan bahwa mereka pertama kali bertemu pada 2015. Saat itu, Fanny bekerja sebagai kasir di salah satu cabang di Semarang, sementara Papa Udon masih menjabat sebagai General Manager.

“Pas pertama kali berjabat tangan, aku sudah ngebatin dia pasti akan menjadi suamiku,” cerita Fanny Kondoh sambil tersenyum manis.

Fanny menceritakan bahwa sejak saat itu, ia terus berusaha mendekati Papa Udon yang ternyata sudah berstatus duda anak tiga dan lebih tua 25 tahun darinya. Akhirnya, cintanya pun berbalas dan keduanya menikah pada 2017. Sebelum menikah, Papa Udon telah memantapkan dirinya menjadi seorang mualaf.

“Dia beli buku, dia beli Alquran. Dia beli buku bahasa Jepang tapi tentang Rasulullah,” Fanny mengungkap keseriusan mendiang suaminya masuk Islam.

2. Tiga kali ikut program bayi tabung demi mendapat keturunan

potret Fanny Kondoh (CURHAT BANG Denny Sumargo)

Karena mendambakan keturunan, mereka pun memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung pada 2019. Program ini akhirnya berhasil setelah dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, takdir berkata lain, setelah perjuangan mereka, Papa Udon meninggal dunia saat kandungan Fanny berusia 4 bulan.

“Pas di USG, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya, hidungnya, semuanya. Ya Alhamdulillah ya Bang. Aku takutnya fitnah, kan. Suaminya meninggal, kok kamu hamil? Tapi orang sekitar kan tahu, tapi publik gak ada yang tahu,” lanjutnya yang saat itu masih mengandung.

3. Setia dampingi suami selama berjuang melawan penyakit kanker

potret Fanny Kondoh (CURHAT BANG Denny Sumargo)

Dalam perbincangannya, Fanny Kondoh juga menceritakan momen-momen saat ia mendampingi suaminya berjuang melawan penyakit kanker kandung kemih yang deritanya sejak 2020.

“Harusnya, dia bertahan 2 tahun, tapi Allah kasih kemudahan dia bertahan selama 5 tahun,” lanjut Fanny.

Pada Agustus 2024, kanker Papa Udon sudah menyebar ke otak dan paru-parunya. Namun, di tengah kondisinya yang semakin parah, Papa Udon tetap bertahan karena tidak ingin menyusahkan istrinya.

“Dia ngompol di kasur, tapi sungkan sama aku soalnya aku harus nyuci bed cover. Dia minta maaf berulang kali terus besoknya nyoba ke toilet sampai jatuh karena gak mau nyusahin aku,” kata Fanny Kondoh menahan tangis.

Setelah perjuangannya, Papa Udon meninggal dunia pada 15 Oktober 2024 pukul 23.33 WIB di Tzu Chi Hospital Jakarta Utara. Sementara itu, Fanny telah melahirkan bayi laki-laki bernama Kazuki atau Baby Udon pada 3 Juli 2025 lalu.

Editorial Team