Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Britney Spears dan Rihanna.
Britney Spears (instagram.com/britneyspears) | Rihanna (instagram.com/badgalriri)

Intinya sih...

  • "What’s Love Got to Do with It" - Tina Turner

  • "I Will Always Love You" - Whitney Houston

  • "Toxic" - Britney Spears

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di balik gemerlap panggung Grammy dan sorak-sorai penonton, ada banyak lagu legendaris yang nyaris tak pernah kita dengar. Beberapa di antaranya sempat ditawarkan ke artis lain, bahkan ditolak mentah-mentah, sebelum akhirnya jatuh ke tangan yang tepat. Ironisnya, justru lagu-lagu buangan inilah yang kemudian mengubah sejarah musik.

Kisah-kisah ini membuktikan bahwa keberanian mengambil risiko punya peran besar dalam kesuksesan sebuah lagu. Kadang, sebuah lagu hanya menunggu suara yang tepat untuk benar-benar hidup. Berikut lima lagu pemenang Grammy yang sempat diremehkan bahkan ditolak, tapi akhirnya jadi ikonik.

1. “What’s Love Got to Do with It” – Tina Turner

Di awal 1980-an, karier solo Tina Turner sedang berada di titik terendah. Setelah lepas dari hubungan abusif dengan Ike Turner, ia tampil dari satu acara TV ke acara lain hanya demi bertahan. Lagu “What’s Love Got to Do with It” sendiri sebenarnya bukan ditulis untuk Tina, dan bahkan sempat ditolak oleh beberapa artis lain sebelum akhirnya mendarat di mejanya.

Menariknya, Tina sendiri awalnya tak tertarik menyanyikan lagu ini karena terdengar terlalu pop dan ringan. Namun ketika akhirnya direkam, karakter vokalnya justru memberi nyawa baru pada lagu tersebut. Hasilnya luar biasa karena lagu ini melesat ke puncak tangga lagu dan mengantarkan Tina Turner meraih dua Grammy, sekaligus mengukuhkan comeback paling ikonik dalam sejarah musik pop.

2. “I Will Always Love You” – Whitney Houston

Lagu ini sebenarnya ditulis dan dipopulerkan lebih dulu oleh Dolly Parton, yang sempat hampir memberikannya pada Elvis Presley. Namun karena persoalan hak cipta, Parton menolak tawaran tersebut meski berat hati. Keputusan itu baru terasa dampaknya puluhan tahun kemudian, saat Whitney Houston membawakan lagu ini untuk film The Bodyguard (1992).

Versi Whitney mengubah balada country sederhana menjadi anthem cinta paling megah sepanjang masa. Suara vokalnya yang eksplosif membuat lagu ini mendominasi chart dunia dan menyabet banyak Grammy. Keputusan Dolly Parton mempertahankan lagunya terbukti jenius, baik secara artistik maupun finansial.

3. “Toxic” – Britney Spears

“Toxic” adalah salah satu lagu paling ikonik dalam katalog Britney Spears, tapi nyaris tidak menjadi miliknya. Lagu ini sempat ditawarkan ke beberapa artis lain yang memilih melewatkannya karena dianggap terlalu eksperimental. Padahal, aransemen unik dan beat-nya yang tajam justru menjadi daya tarik utama.

Ketika Britney akhirnya merekam “Toxic”, lagu ini langsung terasa berbeda dari karya pop lain di masanya. Kesuksesan globalnya tak hanya menghidupkan kembali citra Britney sebagai pop star, tapi juga memberinya Grammy pertamanya. Lagu ini menjadi bukti bahwa keberanian keluar dari zona nyaman bisa menghasilkan sesuatu yang legendaris.

4. Umbrella – Rihanna feat. Jay-Z

Sebelum menjadi lagu yang identik dengan Rihanna, “Umbrella” sempat ditawarkan ke Britney Spears dan Mary J. Blige. Namun karena berbagai alasan, lagu ini tak pernah benar-benar sampai ke tangan mereka. Hingga akhirnya Rihanna, yang saat itu sedang mencari lagu penentu karier, langsung jatuh cinta pada track ini.

Begitu dirilis, “Umbrella” langsung mendominasi chart dan menjadi soundtrack musim panas 2007. Lagu ini bukan hanya memperkenalkan era baru Rihanna, tapi juga memberinya Grammy pertamanya. Sulit membayangkan lagu ini dinyanyikan orang lain setelah melihat betapa kuatnya identitas Rihanna di dalamnya.

5. Happy – Pharrell Williams

Awalnya, “Happy” ditulis Pharrell untuk CeeLo Green dan bahkan sempat direkam. Namun label memilih menunda perilisan lagu tersebut demi proyek lain, hingga akhirnya lagu itu kembali ke tangan Pharrell. Daripada menunggu, Pharrell memutuskan untuk menyanyikannya sendiri.

Keputusan spontan ini justru menghasilkan fenomena global. “Happy” menjadi lagu yang tak bisa dihindari di mana pun, dari radio hingga iklan. Lagu ini memenangkan Grammy dan membuktikan bahwa terkadang, pencipta lagu adalah orang terbaik untuk menyampaikan emosinya sendiri.

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa penolakan bukanlah akhir segalanya. Dalam dunia musik, satu keputusan kecil bisa mengubah nasib sebuah lagu dan karier seorang artis secara drastis. Dari semua lagu tadi, mana yang paling sulit kamu bayangkan jika dinyanyikan oleh artis lain?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team