Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Taylor Swift dalam MV Teardrops On My Guitar.
Taylor Swift dalam MV Teardrops On My Guitar (youtube.com/Taylor Swift)

Intinya sih...

  • “August” menceritakan kisah cinta singkat yang intens, tapi tidak pernah benar-benar resmi.

  • “You Belong With Me” menggambarkan second choice dari sudut pandang optimis dan penuh harapan.

  • “Foolish One” menyinggung soal diberi perhatian secukupnya agar tetap berharap, tapi tidak pernah diprioritaskan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Putus harapan dalam cinta itu gak selalu datang karena ditinggal, kadang justru karena kita sadar posisinya cuma jadi pilihan kedua. Perasaan ini sering muncul saat seseorang memberi harapan, perhatian, dan kedekatan, tapi pada akhirnya memilih orang lain. Tema seperti ini termasuk yang paling sering diangkat Taylor Swift.

Taylor Swift punya banyak lagu yang menggambarkan rasanya hampir dipilih tapi tidak pernah benar-benar jadi prioritas. Buat yang pernah merasa cuma jadi cadangan, opsi, atau sekadar pelarian sementara, beberapa lagu ini bisa terasa sangat kena. Berikut lima lagu Taylor Swift yang paling kuat menggambarkan perihnya jadi second choice.

1. “August”

“August” menceritakan sudut pandang seseorang menjalani kisah cinta singkat yang intens, tapi tidak pernah benar-benar resmi. Dari awal sudah terasa bahwa hubungan ini bukan prioritas utama, hanya seperti cerita musim panas yang pasti berakhir. Liriknya penuh nuansa rindu, tapi juga pasrah karena sadar dirinya bukan yang dipilih pada akhirnya.

Lagu dari album Folklore ini menyakitkan karena kesadaran bahwa perasaannya nyata, tapi posisinya tidak pernah kuat. Dia tahu dirinya bukan milik orang tersebut, hanya tempat singgah sementara. Taylor menyampaikan perasaan itu dengan cara yang puitis, tapi getir. Cocok buat yang pernah terjebak dalam hubungan abu-abu yang terasa manis tapi rapuh.

2. “You Belong With Me”

Lagu ini jadi salah satu anthem klasik tentang mencintai seseorang yang justru memilih orang lain. Dalam liriknya, Taylor melihat jelas bahwa dia lebih mengerti, lebih peduli, dan lebih cocok, tapi tetap tidak dipilih. Ada rasa frustrasi karena merasa “aku ada di sini, kenapa kamu nggak lihat?”. Nuansanya ceria, tapi isi pesannya cukup menyayat.

Menariknya, lagu ini menggambarkan second choice dari sudut pandang optimis dan penuh harapan. Bukan cuma sakit hati, tapi juga ada keyakinan bahwa suatu hari dia akan disadari. Ini tipe lagu yang cocok untuk mereka yang masih berharap posisinya bisa berubah.

3. “Foolish One”

Ini salah satu lagu Taylor yang paling mengena soal jadi pilihan kedua bahkan cadangan. “Foolish One” terdengar seperti surat untuk diri sendiri di masa lalu yang terus menunggu orang yang tidak pernah benar-benar memilihnya. Liriknya menyinggung soal diberi perhatian secukupnya agar tetap berharap, tapi tidak pernah diprioritaskan. Relatable banget buat situationship yang gak jelas arahnya.

Beberapa baris liriknya secara gamblang menunjukkan rasa sakit jadi opsi, bukan tujuan akhir. Lagu ini bukan cuma curhatan, tapi juga peringatan emosional. Ada nada tegas agar berhenti menunggu pengakuan cinta yang tidak akan datang. Cocok untuk fase sadar diri setelah terlalu lama menggantungkan harapan.

4. “Invisible”

“Invisible” adalah gambaran murni tentang mencintai dari bayangan. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang selalu ada, selalu peduli, tapi tidak pernah dilihat sebagai pilihan romantis. Dia tahu detail kecil tentang orang itu, tapi tetap kalah dari orang yang bahkan mungkin tidak sepeduli dirinya. Rasanya seperti berdiri di depan, tapi dianggap tidak ada.

Versi emosinya lebih lembut dan sendu dibanding lagu-lagu Taylor yang lebih baru. Ada rasa sabar, setia, tapi juga sedih karena tidak dianggap. Lagu ini cocok menggambarkan posisi teman baik yang diam-diam berharap lebih. Perihnya bukan karena ditolak langsung, tapi karena tidak pernah dipertimbangkan.

5. “Teardrops on My Guitar”

Ini salah satu lagu awal Taylor Swift yang paling ikonik soal cinta tak terbalas. Ceritanya tentang menyukai seorang teman yang justru curhat soal gadis lain yang dia cintai. Posisi Taylor dalam lagi ini dekat dan dipercaya, tapi bukan yang diinginkan. Ironisnya, kedekatan itu justru membuat rasa sakit makin terasa.

Lagu ini kuat karena detailnya sangat personal dan sederhana. Tidak ada drama besar, hanya percakapan sehari-hari yang diam-diam menyakitkan. Menjadi tempat curhat orang yang kita suka tentang orang lain itu level second choice yang cukup menohok. Lagu ini terasa seperti soundtrack untuk cinta sepihak masa remaja, dan ternyata tetap relevan sampai dewasa.

Lagu-lagu Taylor Swift tentang jadi pilihan kedua selalu berhasil menyentuh. Dari kisah cinta musim panas sampai friendzone menyakitkan, semuanya menunjukkan bahwa tidak diprioritaskan bisa sama perihnya dengan ditinggalkan. Dari semua lagu tadi, mana yang paling menggambarkan pengalamanmu saat merasa cuma jadi second choice?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team