Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Luffy menangis setelah dipisahkan dengan krunya.
Luffy menangis setelah dipisahkan dengan krunya. (dok. Toei Animation/One Piece)

Intinya sih...

  • Luffy berkali-kali diuji untuk memilih antara perasaan pribadi dan tanggung jawabnya sebagai kapten.

  • Keputusan sulit seperti merelakan kru, mengganti kapal, dan mengorbankan diri sendiri menunjukkan kedewasaannya.

  • Kedewasaan Luffy menjadi fondasi penting yang menjaga Topi Jerami tetap utuh hingga sejauh ini.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi kapten dari sebuah kru bajak laut bukanlah hal yang mudah. Menjadi kapten tidak selalu tentang kekuatan. Namun, seorang kapten juga harus bijak dalam mengambil keputusan. Itu karena setiap keputusannya akan sangat berdampak besar pada kru.

Luffy memang dikenal sebagai sosok yang impulsif dan ceroboh. Meski begitu, ada kalanya Luffy harus bersikap dewasa guna melindungi krunya. Selama seri One Piece berlangsung, ada beberapa momen yang benar-benar menguji kedewasaan Luffy. Momen apa saja? Simak ulasan berikut!

1. Pertengkaran dengan Usopp

Usopp menantang Luffy. (dok. Toei Animation/One Piece)

Sebagai kru yang diisi oleh berbagai orang dengan latar yang berbeda, Topi Jerami tidak terhindarkan dari konflik internal. Kadang, ada kalanya ketika kru merasa tidak sejalan dengan Luffy. Hal ini dibuktikan melalui pertengkaran antara Luffy dengan Usopp.

Ketika kru tiba di Water 7, Luffy hendak menggantikan Going Merry dengan kapal baru. Bukan tanpa alasan, tetapi karena Going Merry memang sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan bersama Topi Jerami. Kerusakan Going Merry sudah tidak bisa diperbaiki sehingga Luffy harus membeli kapal baru.

Namun, ide tersebut justru ditentang oleh Usopp. Sang penembak jitu menganggap bahwa Going Merry sudah menjadi bagian dari Topi Jerami. Di sini, kedewasaan Luffy sebagai kapten benar-benar diuji. Luffy tidak ingin kehilangan temannya, tetapi dirinya juga tidak ingin perjalanannya berakhir.

Alhasil, Usopp mengundurkan diri dan menantang Luffy untuk memperebutkan Going Merry. Luffy menerima tantangan Usopp bukan karena dirinya membenci Usopp, tetapi karena Luffy hanya ingin menjaga harga diri Usopp. Meski berhasil memenangkan pertarungan, Luffy tetap memberikan Going Merry pada Usopp.

2. Menyelamatkan Robin

Luffy mendeklarasikan perang terhadap Pemerintah Dunia. (dok. Toei Animation/One Piece)

Sebagai kapten, Luffy selalu memastikan keamanan krunya. Tak peduli siapa musuh krunya, Luffy tetap akan melawan mereka. Namun, apa jadinya kalau kru yang ingin dilindungi oleh Luffy justru menolak untuk diselamatkan?

Hal ini terjadi ketika Nico Robin menyerahkan diri ke CP9. Meski CP9 sudah membuat Robin terlihat seperti pengkhianat, Luffy tetap bersikeras untuk menyelamatkan Robin. Namun, ketika Luffy dan krunya tiba di Enies Lobby, yang didapatkan oleh Luffy hanyalah penolakan.

Robin menolak diselamatkan karena dirinya merasa sudah tidak memiliki alasan untuk hidup. Jika dirinya tetap berada dalam Topi Jerami, hal tersebut hanya akan membuat Topi Jerami menjadi musuh Pemerintah Dunia. Namun, Luffy memperlihatkan kedewasaannya dengan memberikan Robin alasan untuk hidup.

Luffy tidak menuntut apa-apa dari Robin selain tetap hidup. Luffy bahkan membakar bendera Pemerintah Dunia hanya untuk membuktikan keseriusannya. Selama Robin tetap ingin hidup, Luffy tidak peduli jika dirinya harus menjadi musuh dunia sekalipun.

3. Merelakan Going Merry

Topi Jerami memberikan penghormatan terakhir kepada Going Merry. (dok. Toei Animation/One Piece)

Seperti yang sudah penulis sebutkan, Going Merry sudah menjadi bagian dari Topi Jerami. Going Merry menjadi kapal yang telah menemani awal perjalanan Topi Jerami. Namun, Topi Jerami tidak bisa selalu bersama Going Merry karena perjalanan selanjutnya akan terus semakin berbahaya.

Setelah Going Merry menyelamatkan Topi Jerami di Enies Lobby dan mengantar mereka kembali ke Water 7, Luffy tahu bahwa itu waktunya untuk berpisah dengan Going Merry. Meski berat, Luffy tetap menunjukkan sikap dewasa dengan merelakan Going Merry. Pada titik ini, Luffy sadar bahwa tidak semua hal yang ia cintai bisa diselamatkan.

4. Kekalahan di Sabaody

Luffy menangis setelah kehilangan krunya. (dok. Toei Animation/One Piece)

Sejak awal, Luffy selalu berpikir bahwa dirinya bisa mengalahkan siapa saja. Namun, kekalahan di Sabaody membuat Luffy sadar bahwa dirinya tidak sekuat yang ia kira. Setelah membuat kekacauan dengan memukul Bangsawan Dunia, Topi Jerami dipisahkan oleh Bartholomew Kuma.

Tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh Luffy selain menyaksikan bagaimana teman-temannya hilang satu per satu. Pada titik ini, Luffy merasa gagal sebagai kapten untuk pertama kalinya. Situasi kemudian diperburuk oleh Luffy yang gagal menyelamatkan Portgas D Ace pada Perang Puncak di Marineford.

Meski sempat terpuruk, Luffy menggunakan kegagalan tersebut untuk berkembang. Luffy akhirnya mengakui bahwa krunya memang belum siap untuk Dunia Baru. Alhasil, Luffy mengambil langkah dewasa dengan menyuruh krunya untuk berlatih selama 2 tahun.

5. Pengorbanan di Pulau Whole Cake

Luffy memecahkan cermin di Dunia Cermin. (dok. Toei Animation/One Piece)

Setelah semua kegagalan yang ia alami, Luffy sadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab yang besar sebagai kapten. Jika Topi Jerami harus melompat ke dalam jurang, Luffy harus menjadi orang pertama yang melompat. Whole Cake Island Arc membuktikan bahwa Luffy sudah jauh lebih berkembang, baik secara kekuatan maupun kedewasaan.

Setelah berhasil menyelamatkan Sanji, Topi Jerami dihadang oleh beberapa anak Big Mom, seperti Charlotte Katakuri, ketika hendak melarikan diri. Luffy tahu bahwa dirinya sedang diburu waktu. Namun, Luffy juga tidak bisa pergi sebelum menyingkirkan Katakuri.

Alhasil, Luffy melakukan pengorbanan yang luar biasa untuk memastikan keamanan krunya. Setelah menyuruh krunya untuk pergi, Luffy sengaja menjebak dirinya sendiri di Dunia Cermin untuk menahan Katakuri. Meski bisa saja mati, Luffy dengan dewasa menyadari bahwa keselamatan krunya merupakan segalanya.

Luffy mungkin memang dikenal sebagai sosok yang kekanak-kanakan. Meski begitu, Luffy tetap memiliki sisi dewasa sebagai seorang kapten. Topi Jerami mungkin tidak akan pernah berada di titik sekarang jika bukan karena kedewasaan Luffy. Jadi, bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎