Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Annabelle.
Annabelle (dok. Warner Bros/Annabelle)

Intinya sih...

  • It Chapter Two (2019)

  • Opening brutal dengan Pennywise yang menjanjikan kegelapan dan keberanian.

  • Durasi film hampir tiga jam penuh humor canggung dan klimaks mengecewakan.

  • Kekuatan opening-nya sia-sia karena cerita gagal menjaga intensitas hingga akhir.

  • When a Stranger Calls (1979)

  • Babysitter diteror oleh telepon misterius dengan pertanyaan ikonik “Have you checked the children?”

  • Film kehilangan arah menjadi drama polisi yang lambat setelah opening luar biasa tersebut.

  • Pembuka dan penutupnya tetap mengerikan,

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam film horor, adegan pembuka punya peran yang sangat krusial. Opening yang kuat bisa langsung menanamkan rasa takut, membangun atmosfer, dan membuat penonton yakin bahwa mereka akan menyaksikan sesuatu yang benar-benar menyeramkan. Bahkan, beberapa film horor langsung menghantam penontonnya sejak menit pertama dengan adegan brutal.

Sayangnya, tidak semua film mampu mempertahankan standar tinggi yang sudah mereka pasang di awal. Ada film horor yang memulai cerita dengan begitu mengerikan dan menjanjikan, tapi perlahan kehilangan arah. Berikut deretan film horor dengan opening luar biasa menyeramkan, namun sayangnya gagal memenuhi ekspektasi hingga akhir.

1. It Chapter Two (2019)

film It: Chapter Two (dok. Warner Bros/It: Chapter Two)

Meski It (2017) dianggap sebagai salah satu adaptasi Stephen King terbaik, sekuelnya datang dengan ekspektasi yang sangat tinggi, dan itu menjadi pedang bermata dua. It Chapter Two dibuka dengan salah satu adegan paling disturbing dalam film horor modern.

Penonton langsung disuguhi kekerasan brutal bermotif kebencian terhadap pasangan Adrian Mellon dan Don Hagarty di sebuah karnaval, yang terasa sangat realistis dan menyakitkan untuk ditonton. Adegan tersebut semakin menghantam emosi ketika Pennywise muncul dan membunuh Adrian di bawah jembatan, ditemani visual balon merah yang ikonik.

Opening ini terasa seperti pernyataan serius bahwa film ini akan lebih gelap dan berani. Namun, setelah itu, film justru tenggelam dalam durasi hampir tiga jam yang terasa berantakan, penuh humor canggung, CGI berlebihan, dan klimaks mengecewakan. Kekuatan opening-nya terasa sia-sia karena cerita gagal menjaga intensitas hingga akhir.

2. When a Stranger Calls (1979)

When a Stranger Calls (dok. Columbia Pictures/When a Stranger Calls)

Film klasik ini sering disebut sebagai contoh sempurna bagaimana membangun ketegangan secara perlahan. Opening-nya mengikuti seorang babysitter bernama Jill yang terus diteror oleh telepon misterius dengan satu pertanyaan ikonik “Have you checked the children?”

Ketegangan memuncak ketika polisi mengungkap bahwa panggilan itu berasal dari dalam rumah, dan anak-anak yang dijaga Jill sudah lama dibunuh. Masalahnya, setelah opening luar biasa tersebut, film seperti kehilangan arah.

Alih-alih fokus pada trauma Jill atau mempertahankan atmosfer horor, film malah berubah menjadi drama prosedural polisi yang lambat dan membosankan. Karakter utama justru menghilang hampir sepanjang film, dan teror yang dijanjikan di awal tak lagi terasa. Alhasil, bagian tengah film terasa kosong, meski pembuka dan penutupnya tetap mengerikan.

3. Annabelle (2014)

film Annabelle (dok. Warner Bros/Annabelle)

Sebagai spin-off dari The Conjuring (2013), Annabelle datang dengan modal besar berupa opening yang sudah terbukti efektif. Adegan pembuka kembali menampilkan Ed dan Lorraine Warren yang mendengarkan kisah mengerikan tentang boneka Annabelle. Musik mencekam dan aura terkutuk dari boneka tersebut berhasil menciptakan rasa tidak nyaman sejak awal.

Sayangnya, film ini gagal mempertahankan kualitas tersebut. Sepanjang cerita, Annabelle dipenuhi jump scare murahan, karakter datar, dan cerita yang terasa generik. Alih-alih semakin menakutkan, film justru terasa makin hambar. Pengungkapan asal-usul boneka yang dikaitkan dengan pemuja setan juga terasa klise dan tidak memberikan dampak emosional berarti.

4. The Happening (2008)

The Happening (dok. 20th Century Studio/The Happening)

M. Night Shyamalan dikenal sebagai sutradara dengan ide-ide ambisius, dan The Happening sebenarnya dibuka dengan konsep menjanjikan. Film ini dimulai dengan adegan bunuh diri massal yang tiba-tiba dan mengerikan, seorang wanita menusuk lehernya sendiri di taman, sementara orang-orang di sekitarnya membeku tanpa ekspresi. Disusul para pekerja konstruksi melompat dari gedung.

Namun, ketegangan itu cepat runtuh ketika film berubah menjadi sesuatu yang nyaris tidak bisa dianggap serius. Akting Mark Wahlberg yang kaku, dialog aneh, dan adegan-adegan yang terasa tidak sengaja lucu merusak suasana. Ketika penyebab teror akhirnya diungkap, film ini berubah menjadi bahan lelucon. Opening-nya luar biasa, tapi sisanya terasa seperti parodi tanpa arah.

5. The Empty Man (2020)

The Empty Man (dok. 20th Century Studios/The Empty Man)

The Empty Man mungkin memiliki salah satu prolog terbaik dalam film horor. Berlatar di pegunungan bersalju, opening-nya mengikuti sekelompok pendaki yang menemukan kerangka manusia misterius. Salah satu dari mereka kerasukan dan peristiwa mengerikan pun terjadi secara perlahan namun brutal. Adegan ini berdiri kuat sebagai cerita horor tersendiri.

Sayangnya, setelah lompat waktu ke 20 tahun kemudian, film ini kehilangan fokus. Cerita berubah menjadi misteri detektif, kultus aneh, dan remaja penuh rahasia. Alih-alih semakin mencekam, film justru terasa rumit tanpa kedalaman. Penjelasan berlebihan membuat horor kehilangan misterinya, dan film berakhir jauh di bawah potensi menyeramkan yang ditawarkan opening-nya.

Kelima film ini membuktikan bahwa opening yang kuat tidak selalu menjamin film horor yang memuaskan secara keseluruhan. Dari semua film di atas, opening mana yang menurutmu paling menyeramkan, meski filmnya sendiri akhirnya membuatmu kecewa?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team