Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)
Keputusan mengakhiri film dengan kematian Cathy adalah langkah yang sangat disengaja. Alih-alih membawa penonton ke wilayah drama keluarga lintas generasi, Fennell menyaring cerita sampai ke inti emosionalnya, yakni relasi obsesif Cathy dan Heathcliff. Hasilnya, film terasa seperti tragedi romantis tunggal, bukan saga panjang tentang warisan trauma.
Menariknya, justru di momen duka Heathcliff itulah film ini menemukan kekuatan terbesarnya. Adegan tersebut mengangkat cerita dari sekadar melodrama era Victoria menjadi tragedi besar yang nyaris Shakespearean. Kesedihan Heathcliff bukan lagi simbol posesif semata, melainkan manifestasi dari seluruh pilihan buruk yang mereka buat sepanjang hidup.
Dalam novel asli, kisah Cathy dan Heathcliff disampaikan lewat narator lain (Nelly). Film ini membuang kerangka itu dan menempatkan Cathy sebagai pusat pengalaman penonton. Maka, kematian Cathy bukan hanya tragedi bagi Heathcliff, tapi juga klimaks emosional bagi kita yang mengikuti perjalanan batinnya sejak awal.
Pertanyaannya tinggal satu, apakah film ini berhasil membuat penonton benar-benar terikat dengan Cathy saat ia masih hidup? Jika jawabannya ya, maka ending ini terasa menghantam. Jika tidak, ia hanya jadi tragedi semata.