Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penjelasan Ending Film Wuthering Heights, Kenapa Beda dari Novelnya?
Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)
  • Film Wuthering Heights (2026) menampilkan akhir berbeda dari novel, dengan fokus pada kematian Cathy dan hubungan tragisnya dengan Heathcliff tanpa melanjutkan kisah generasi berikutnya.
  • Sutradara Emerald Fennell sengaja memusatkan cerita pada intensitas emosional dan obsesi cinta dua tokoh utama, menghapus elemen naratif panjang khas versi Brontë.
  • Meski sukses komersial moderat, perbedaan besar dari sumber aslinya membuat peluang sekuel kecil karena kisah sudah ditutup di puncak tragedi Cathy.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Adaptasi terbaru Wuthering Heights (2026) kembali mengaduk-aduk perasaan penonton. Versi ini bukan sekadar menghidupkan ulang kisah klasik, melainkan menyaringnya lewat perspektif sang sutradara, Emerald Fennell, yang sejak awal terang-terangan menyebut film ini sebagai interpretasi pribadi atas novel legendaris karya Emily Brontë.

Bagi kamu yang bertanya-tanya kenapa kisah cinta Cathy dan Heathcliff berakhir seperti itu, kita akan menelusuri keputusan kreatif film ini, sekaligus membandingkannya dengan novel. Berikut penjelasannya!

Artikel ini mengandung spoiler Wuthering Heights!

1. Apakah akhir film Wuthering Heights (2026) sama dengan novel?

Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)

Secara garis besar, versi film ini memang masih berpijak pada tragedi inti yang ditulis Brontë, tetapi alurnya dipangkas. Catherine "Cathy" Earnshaw (Margot Robbie) hamil. Di sisi lain, Heathcliff (Jacob Elordi) memilih menikahi Isabella setelah merasa kehilangan Cathy untuk selamanya. Depresi Cathy berujung pada komplikasi keguguran yang fatal, dan kematiannya menjadi titik balik emosional film.

Klimaksnya datang saat Heathcliff bergegas menemui Cathy, tetapi terlambat. Dalam salah satu adegan paling menyayat, Heathcliff menangis sambil memintanya untuk "menghantuinya" seumur hidup (pembaca novel pasti paham maksudnya). Setelah itu, film menutup cerita dengan kilas balik masa kecil mereka, seolah ingin mengembalikan penonton ke titik paling murni dari hubungan mereka sebelum semuanya retak.

Pilihan ini berbeda cukup jauh dari novel. Dalam versi Brontë, Heathcliff sempat bertemu Catherine sebelum ia meninggal, dan Cathy melahirkan seorang putri (juga bernama Cathy). Dari situ, cerita berkembang menjadi tragedi antargenerasi yang berlangsung puluhan tahun. Banyak adaptasi lama bahkan melangkah lebih jauh, memperlihatkan kematian Heathcliff dan reuni spiritual mereka. Fennell justru berhenti tepat di kematian Cathy, menutup kisah saat luka masih terbuka. Fokusnya hanya pada kisah cinta mereka, bukan dampak jangka panjangnya.

2. Kenapa akhir Wuthering Heights (2026) berbeda dari novelnya?

Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)

Keputusan mengakhiri film dengan kematian Cathy adalah langkah yang sangat disengaja. Alih-alih membawa penonton ke wilayah drama keluarga lintas generasi, Fennell menyaring cerita sampai ke inti emosionalnya, yakni relasi obsesif Cathy dan Heathcliff. Hasilnya, film terasa seperti tragedi romantis tunggal, bukan saga panjang tentang warisan trauma.

Menariknya, justru di momen duka Heathcliff itulah film ini menemukan kekuatan terbesarnya. Adegan tersebut mengangkat cerita dari sekadar melodrama era Victoria menjadi tragedi besar yang nyaris Shakespearean. Kesedihan Heathcliff bukan lagi simbol posesif semata, melainkan manifestasi dari seluruh pilihan buruk yang mereka buat sepanjang hidup.

Dalam novel asli, kisah Cathy dan Heathcliff disampaikan lewat narator lain (Nelly). Film ini membuang kerangka itu dan menempatkan Cathy sebagai pusat pengalaman penonton. Maka, kematian Cathy bukan hanya tragedi bagi Heathcliff, tapi juga klimaks emosional bagi kita yang mengikuti perjalanan batinnya sejak awal.

Pertanyaannya tinggal satu, apakah film ini berhasil membuat penonton benar-benar terikat dengan Cathy saat ia masih hidup? Jika jawabannya ya, maka ending ini terasa menghantam. Jika tidak, ia hanya jadi tragedi semata.

3. Masihkah ada kemungkinan sekuel untuk Wuthering Heights (2026)?

Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)

Untuk saat ini, jawabannya mungkin "tidak." Opini penonton terbelah tajam. Banyak kritikus menilai film ini terlalu jauh dari sumber aslinya dan terlalu fokus pada steamy romance. Di sisi lain, ada juga penonton yang justru menikmati keberanian Fennell dalam menyoroti sisi paling sensual dan destruktif dari hubungan Cathy-Heathcliff.

Wuthering Heights sendiri sudah meraup sekitar 126 juta dolar AS dari bujet kurang lebih 80 juta dolar AS. Angka itu cukup sehat, tetapi belum tentu cukup kuat untuk mendorong studio membuat sekuel, apalagi mengingat cerita Fennell sudah "ditutup" di kematian Cathy. Tanpa tragedi antargenerasi seperti novelnya, ruang naratif untuk sekuel jadi sangat terbatas.

Editorial Team