Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Lele Laila
potret Lele Laila (Instagram.com/pabrikgulafilm)

Intinya sih...

  • Lele Laila mengaku takut dan mempertanyakan sejak kapan persaingan film Lebaran jadi mirip pilpres

  • Ungkap pengalaman tak menyenangkan saat menjadi penulis film Pabrik Gula sebagai film Lebaran tahun lalu

  • Serukan stop praktik tidak sehat di industri film

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lele Laila, penulis film Danur: The Last Chapter, turut angkat bicara terkait dugaan kampanye hitam yang ramai mempromosikan karyanya di media sosial film Na Willa arahan Ryan Adriandhy. Dalam postingan di Instagram Story-nya, Lele mengaku takut, karena menurutnya, persaingan film Lebaran terasa seperti pemilihan presiden (pilpres) yang dipenuhi black campaign.

Lele mencurahkan keresahannya ini menyusul klarifikasi sang sutradara, Awi Suryadi, yang menegaskan bahwa Danur: The Last Chapter tidak menggunakan praktik buzzer untuk promosi.

1. Lele Laila mengaku takut dan mempertanyakan sejak kapan persaingan film Lebaran jadi mirip pilpres

poster film Danur: The Last Chapter (Instagram.com/danurmovie)

Dalam postingan di Instagram Story-nya, Rabu (21/1/2026), Lele Laila mengaku takut ketika mendengar kabar bahwa film Danur: The Last Chapter tayang pada Lebaran 2026. Menurutnya, intensitas persaingan film Lebaran saat ini sudah seperti pemilihan presiden (pilpres) yang diwarnai praktik black campaign, buzzer, serta komentar negatif yang dinormalisasi. Ia pun mempertanyakan sejak kapan persaingan film Lebaran menjadi seperti itu.

“Entah bagaimana dan sejak kapan Persaingan Film Lebaran, seperti Pilpres. Black Campaign, Buzzer, Hate Komen, jadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa terjadi dan gak papa terjadi,” tulis Lele Laila, Rabu (21/1/2026).

Lele mengungkap, dalam beberapa hari terakhir, komentar-komentar negatif sudah mulai bermunculan, bahkan sebelum timnya menyiapkan strategi promosi. Menurut pengakuannya, terdapat sejumlah netizen yang menyinggung filmnya secara langsung.

“Komentar-komentar itu datang lagi. Sampai ada yang bilang, ‘Siap menghabiskan Danur seperti Pabrik Gula tahun lalu,'” lanjut Lele Laila.

2. Ungkap pengalaman tak menyenangkan saat menjadi penulis film Pabrik Gula sebagai film Lebaran tahun lalu

potret Lele Laila (Instagram.com/pabrikgulafilm)

Lele kemudian menceritakan pengalaman tak menyenangkan yang pernah ia alami saat persaingan film Lebaran tahun lalu. Ia mengaku trauma dan takut diserang oleh komentar negatif hingga ujaran kebencian yang dilontarkan kepadanya seperti saat ia terlibat sebagai penulis film Pabrik Gula.

“Saya takut terjadi seperti Lebaran Tahun Lalu, saya takut diserang lagi. Saya takut dicaci maki hingga disuruh mati lagi,” lanjutnya.

Lele menambahkan, jika hal itu kembali terjadi, ia khawatir tidak akan sanggup menghadapinya lagi karena sosok yang dulu mendampinginya sudah meninggal dunia.

“Saya takut gak akan sanggup menerimanya, orang yang tahun lalu berada di samping saya ketika hal itu terjadi, sudah Mati. Saya pantas kan takut?” ungkap Lele Laila.

3. Serukan stop praktik tidak sehat di industri film

postingan Lele Laila (Instagram.com/pabrikgulafilm)

Sebagai penutup, Lele mengajak semua pihak di industri film untuk tidak menormalisasi praktik negatif ini. Ia menekankan bahwa konflik yang kecil bisa berdampak besar jika terus dipicu dan pada akhirnya hanya meninggalkan dampak buruk bagi semua pihak.

“Kepada sinefil, akun-akun film, temen-temen PH, agency marketing film, teman-teman di Industri Film tersayang, dan semuanya boleh kah kita tidak melanggengkan hal ini? Ketika dipercik, api mulai melebar, akan semakin lebar saat semakin dikasih bahannya, lalu apa yang tersisa dari kebakaran yang sia-sia ini?” katanya.

Editorial Team