Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perbedaan Ending 5 Centimeters per Second Animasi vs Live Action.jpg
5 Centimeters per Second (dok. Toho/5 Centimeters per Second | CoMix Wave Inc./5 Centimeters per Second)

Intinya sih...

  • Versi live action menambahkan karakter baru, Pak Ryuichi, yang menghubungkan Takaki dan Akari secara halus.

  • Ekspresi emosional Takaki lebih terlihat dalam live action, dengan tambahan subplot yang memperkaya perspektifnya.

  • Resolusi dalam live action lebih ramah dan memberikan closure aktif bagi Takaki, berbeda dengan versi animasi yang terkenal kejam.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Versi live action 5 Centimeters per Second resmi tayang di Indonesia sejak 30 Januari 2026, membawa kembali luka lama yang dulu ditorehkan versi animenya. Buat banyak penonton, 5 Centimeters per Second bukan sekadar kisah cinta jarak jauh, tapi semacam "ritual patah hati massal" yang konon ikut menyumbang daftar panjang cinta tak tersampaikan dan rencana pernikahan yang kandas.

Diadaptasi dari anime legendaris karya Makoto Shinkai, versi live action ini tidak hanya memperpanjang durasi cerita, tapi juga mengubah cara kita memahami akhir perjalanan Takaki dan Akari. Berikut tiga perbedaan paling terasa antara ending animasi dan live action-nya.

1. Kehadiran sosok Pak Ryuichi yang menghubungkan Takaki dan Akari

5 Centimeters per Second (dok. Toho/5 Centimeters per Second)

Di versi animasi 5 Centimeters per Second, Takaki dan Akari benar-benar terpisah oleh waktu dan pilihan hidup. Mereka beberapa kali berada di kota yang sama, bahkan di tempat yang sama. Namun, semesta seolah sengaja menutup semua kemungkinan pertemuan. Tidak ada mediator. Tidak ada pesan terakhir. Hanya jarak dan diam.

Live action memilih jalur berbeda lewat kehadiran sosok Pak Ryuichi, karakter baru yang secara halus menghubungkan Takaki dan Akari. Ia bukan cuma orang yang memberi Takaki pekerjaan baru di Planetarium, tapi juga figur yang sempat berinteraksi dengan Akari. Dari sinilah film mulai "lebih murah hati" kepada penontonnya.

Perubahan paling krusial ada pada pesan Akari yang akhirnya benar-benar sampai ke Takaki. Bukan lewat kebetulan romantis, tapi melalui Pak Ryuichi yang menyampaikannya. Saat momen breakdown Takaki di planetarium, pesan itu menjadi titik balik emosional.

Bahkan soal janji di bawah pohon sakura pun diberi konteks baru. Akari secara eksplisit meminta Takaki untuk melupakan janji tersebut. Inilah yang membuat proses move on Takaki terasa lebih logis dan manusiawi dibanding versi animenya yang menggantung.

2. Penampilan Tōno yang lebih emosional, tapi juga lebih dewasa

5 Centimeters per Second (dok. Toho/5 Centimeters per Second)

Dalam anime, emosi Takaki disampaikan lewat monolog batin yang sunyi, tenang, dan sangat tertahan. Kita masuk ke kepalanya, tapi jarang melihat luapan perasaannya secara langsung. Kesedihannya bersifat internal, seperti kabut tipis yang terus menempel sepanjang film. Versi live action menggeser pendekatan itu.

Beban emosional kini dipikul lewat ekspresi wajah, dialog, dan interaksi fisik antar karakter. Takaki terlihat lebih rapuh secara kasat mata, tapi juga lebih dewasa dalam menghadapi kenyataan. Alurnya pun dibuat lebih rapi dan terstruktur, tidak sekadar meloncat dari Takaki kecil ke Takaki dewasa.

Tambahan subplot seperti pertemuan Takaki dengan mantannya, Risa Mizuno, ikut memperkaya perspektif. Kita melihat bahwa Takaki memang mencoba hidup normal, mencoba membuka diri, meski bayangan Akari masih terus membayang. Ini membuat karakternya terasa lebih "hadir" sebagai manusia dewasa, bukan sekadar pria yang kesepian.

3. Resolusi yang lebih adil untuk Takaki

5 Centimeters per Second (dok. Toho/5 Centimeters per Second)

Secara tempo, anime 5 Centimeters per Second sangat mengandalkan keheningan. Jeda panjang, ruang kosong, dan kesunyian menjadi bagian dari narasi. Ending-nya pun terkenal kejam. Takaki tersenyum kecil setelah kereta lewat, Akari sudah pergi, dan lagu One More Time, One More Chance mengunci rasa kehilangan semua penonton.

Live action memilih resolusi yang lebih ramah. Alurnya dibuat lebih mudah diikuti, meski nuansa melankolis khas versi animenya sedikit berkurang. Tidak ada penutup dengan lagu ikonik One more time, One more chance yang bikin galau berjamaah. Sebagai gantinya, film memberi Takaki kesempatan untuk benar-benar menutup satu bab hidupnya.

Alih-alih sekadar menerima bahwa Akari telah pergi, Takaki mendapatkan closure aktif: pesan Akari sampai, luka diakui, dan ia perlahan melangkah maju. Film ini memang tak memiliki akhir bahagia yang klasik, tapi jelas lebih "adil" bagi Takaki. Ia kini tak lagi terjebak dalam lingkaran penyesalan tanpa jawaban.


Editorial Team