Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wicked
Wicked (dok. Universal Pictures/Wicked: Part One)

Intinya sih...

  • Durasi film dan pentas musikal Wicked berbeda signifikan, dengan film adaptasi memiliki durasi hampir dua kali lipat dari versi Broadway.

  • Kilas balik masa kecil Elphaba diperluas dalam film adaptasi, memberikan konteks yang lebih mendalam terhadap karakter utama.

  • Pertemuan pertama Elphaba dan Fiyero serta konflik Dr. Dillamond juga mengalami perubahan signifikan dalam film adaptasi Wicked.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengikuti jejak pentas musikalnya yang sukses besar di Broadway, Wicked (2024) dengan mudah memuncaki box office dunia. Dibagi menjadi dua bagian, film pertamanya yang rilis pada tahun lalu mencakup babak pertama dari novel reinterpertasi dongeng legendaris The Wizard of Oz karya L. Frank Baum. Sementara babak keduanya akan diperlihatkan lewat Wicked: For Good yang tayang di Indonesia pada 19 November 2025.

Sama-sama diangkat dari kisah epik yang menyingkap sisi lain hubungan antara Elphaba dan Glinda, versi Broadway dan film adaptasinya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan Wicked versi film dan Broadway itu sudah IDN Times rangkum khusus untuk kamu.


1. Durasi film dan pentas musikal

Wicked (dok. Universal Pictures/Wicked)

Pentas musikal Wicked di Broadway memiliki durasi 2 jam dan 45 menit. Sementara itu, untuk film adaptasinya memiliki total durasi hampir dua kali lipat. Wicked: Part 1 berdurasi 2 jam dan 45 menit serta Wicked: For Good berdurasi 2 jam dan 18 menit.

Keputusan sutradar Jon. M Chu membagi Wicked ke dalam dua babak sempat diragukan oleh para pengemarnya. Namun setelah menyaksikan bagian pertamanya, kita memahami intensi Chu lewat detail cerita dan pengenalan latar belakang serta motif karakternya yang lebih mendalam. 


2. Kilas balik masa kecil Elphaba

Wicked (dok. Universal Pictures/Wicked)

Dalam pentas musikalnya, masa kecil Elphaba hanya dijelaskan sepintas melalui sebuah adegan di Shiz University bersama Glinda. Dialog tersebut mencakup kematian ibunya ketika ia masih kecil, tidak disukai ayahnya, dan mengurus adiknya Nessarose.

Film adaptasinya turut memuat elemen yang sama, tapi berupa adegan kilas balik. Kita diperlihatkan masa kecil Elphaba yang sulit. Mulai dari dirundung karena warna kulitnya hingga dinamika keluarganya yang jauh lebih kompleks. Adegan kilas balik ini memberikan konteks akan sikap Elphaba menghadapi reaksi para siswa di awal kedatangannya di Shiz University.


3. Pertemuan pertama Elphaba dan Fiyero

Wicked (dok. Universal Pictures/Wicked)

Hubungan antara Elphaba dan Glinda menjadi lebih rumit karena menyukai pria yang sama, yakni Fiyero. Untuk versi musikalnya, ketiganya pertama kali bertemu di Ozdust Ballroom dalam lagu "Dancing Through Life". Terkesan terburu-buru dalam menghadirkan tensi di antara ketiganya, tetapi cukup efekftif sebagai fondasi. 

Jon M. Chu memperbaikinya lewat Wicked. Pertemuan pertama Elphaba dan Fiyero terjadi di hutan usai Elphaba mengunjungi Dr. Dillamond dan berpapasan dengan kuda milik Fiyero. Perubahan ini terasa lebih natural dan membangun chemistry di antara keduanya secara perlahan.

4. Dr. Dillamond dan hewan yang bisa bicara

Wicked (dok. Universal Pictures/Wicked)

Dr. Dillamond dalam pentas musikal dan filmnya memiliki latar belakang yang serupa. Dalam pentas musikal, Dr. Dillamond hidup dalam kekhawatiran akan kehilangan kemampuan berbicara dan penindasan yang semakin menggila terhadap hewan yang bisa berbicara. Keresahannya disampaikan dalam lagu Something Bad yang terjadi di ruang kelasnya.

Untuk versi filmnya, konflik diperluas secara signifikan. Dr. Dillamond bersekutu dengan kelompok rahasia berisi hewan yang bisa berbicara lainnya. Lagu Something Bad dibawakan di tengah pertemuan dan mengobarkan semangat optimisme sebagai bentuk perlawanan terhadap aksi penindasan. Perubahan ini turut mempertegas pesan politik yang ingin disampaikan Gregory Maguire dalam novelnya.


5. Adegan "Defying Gravity" yang dramatis

Wicked (dok. Universal Pictures/Wicked)

"Defying Gravity" menjadi adegan klimaks di mana Elphaba menerima identitasnya sebagai seorang penyihir yang kuat. Di versi Broadway, momen emosional ini didukung lewat pencahayaan teatrikal dan efek panggung yang dramatis. 

Lagu "Defying Gravity" terasa jauh lebih emosional dalam film adaptasinya. Penggunaan CGI sangat membantu dalam memaksimalkan intensitas adegan ini. Upaya Elphaba dalam menguasai kemampuan sihirnya yang diselingi dengan kilas balik masa lalunya menjadikan transformasi Penyihir Jahat terasa jauh lebih menakjubkan.

Masih dibintangi Ariana Grande, Cynthia Erivo, dan Jonathan Bailey, Wicked: For Good akan tayang di bioskop Indonesia pada 19 November 2025 mendatang, nih. Apakah kamu siap bertemu Glinda dan Elphaba?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team