Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
film Wuthering Heights.
film Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Intinya sih...

  • Cathy digambarkan dewasa bukan Remaja

  • Perubahan usia karakter mempengaruhi kesan tragedi dan moralitas.

  • Karakter penting dihapus atau ditulis ulang

  • Hilangnya Hindley Earnshaw mengubah dinamika konflik keluarga.

  • Identitas ras Heathcliff dihilangkan

  • Penghapusan lapisan rasial mengurangi kompleksitas moral pilihan Cathy.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Novel klasik seperti Wuthering Heights dikenal karena emosi liar, karakter rumit, dan lapisan cerita yang dalam. Saat kisah ini diadaptasi ke layar, wajar kalau ada perubahan supaya lebih masuk ke format film dan selera penonton modern. Tapi beberapa perubahan ternyata malah benar-benar menggeser makna cerita asli yang ditulis oleh Emily Brontë ini.

Adaptasi terbaru membuat sejumlah keputusan kreatif yang cukup berani. Mulai dari usia karakter yang diubah sampai struktur cerita yang dipotong drastis. Hasilnya tetap dramatis dan romantis, tapi nuansa moral dan pesan sosialnya jadi terasa berbeda. Berikut lima perubahan adaptasi Wuthering Heights yang paling mengubah makna ceritanya.

1. Cathy digambarkan dewasa bukan Remaja

film Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Di novel aslinya, Catherine Earnshaw masih sangat muda ketika konflik cintanya memuncak. Keputusan menikah dengan Edgar lahir dari emosi remaja penuh gengsi dan ambisi sosial. Karena perasaan yang belum stabil itu, tragedinya terasa seperti hasil pilihan impulsif anak muda yang terjebak tekanan kelas sosial. Nuansa salah langkah karena belum matang sangat kuat di versi buku.

Di versi adaptasi, Cathy dibuat jauh lebih dewasa, bahkan tampak sudah matang secara usia dan pengalaman. Dengan perubahan ini, pilihan menikah bukan lagi terlihat gegabah, melainkan seperti keputusan sadar. Dampaknya besar karena tragedi bergeser dari kesalahan remaja menjadi kompromi orang dewasa terhadap tuntutan status. Penonton jadi melihatnya sebagai strategi hidup yang berujung pahit.

2. Karakter penting dihapus atau ditulis ulang

film Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Salah satu perubahan paling mencolok adalah dihilangkannya Hindley Earnshaw, sosok yang di novel berperan besar membentuk dendam Heathcliff. Dalam buku, kebencian dan kekejaman Hindley menjadi bahan bakar utama obsesi balas dendam. Tanpa dia, rantai sebab-akibat yang rumit di cerita asli jadi jauh lebih sederhana sehingga konflik keluarga berubah arah.

Sebagai gantinya, peran kekerasan lebih diarahkan ke figur ayah. Ini membuat luka batin Heathcliff terasa lebih personal, tapi juga mengurangi lapisan konflik sosial antar saudara yang penting di novel. Efeknya, cerita terasa lebih langsung dramatis, tapi kehilangan sudut pandang reflektif khas novel.

3. Identitas ras Heathcliff dihilangkan

film Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Di novel, Heathcliff digambarkan sebagai sosok asing secara fisik dan etnis. Deskripsinya menunjukkan bahwa ia bukan bagian dari mayoritas ras setempat, dan hal itu memicu perlakuan diskriminatif. Statusnya sebagai outsider bukan cuma soal miskin, tapi juga soal identitas. Unsur ini penting untuk kritik sosial dalam cerita.

Adaptasi tahun 2026 ini memilih pemeran kulit putih dan menghapus lapisan rasial tersebut. Akibatnya, hambatan hubungan Cathy dan Heathcliff menjadi murni soal kelas sosial dan temperamen. Cerita tetap tragis, tapi tidak lagi memuat ketegangan rasial yang tajam. Kompleksitas moral pilihan Cathy pun jadi lebih sempit dibanding versi novel.

4. Romansa dibuat lebih terang-terangan

film Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Hubungan Cathy dan Heathcliff di novel terasa intens secara emosional dan spiritual. Banyak perasaan disampaikan lewat dialog, simbol, dan ledakan emosi, bukan adegan fisik. Justru karena ditahan, rasa obsesinya terasa lebih menghantui. Pembaca merasakan cinta yang menguasai jiwa, bukan sekadar hubungan tubuh.

Di adaptasi ini, hubungan mereka sering dibuat jauh lebih eksplisit dan sensual. Pertemuan rahasia, sentuhan, dan adegan intim ditampilkan jelas di layar. Dampaknya, tragedi terasa lebih seperti akibat hasrat tak terkendali, bukan cinta terpendam yang tercekik norma. Dramanya naik, tapi nuansa puitisnya berkurang.

5. Paruh kedua cerita dipotong total

film Wuthering Heights (dok. Warner Bros/Wuthering Heights)

Banyak orang lupa bahwa novel ini tidak berhenti pada kematian Catherine. Setengah bagian akhir justru fokus pada generasi berikutnya yaitu anak-anak mereka dan dampak luka masa lalu. Di situlah penggambaran trauma, pengulangan kesalahan, dan kemungkinan pemulihan dibahas. Struktur ini membuat cerita terasa utuh dan berlapis.

Adaptasi yang disutradarai Emerald Fennell ini memilih mengakhiri cerita tepat di kematian Cathy. Generasi kedua dihapus sehingga tidak ada lengkung penebusan atau perubahan nasib. Cerita jadi murni tragedi cinta, tanpa refleksi jangka panjang. Penonton mendapatkan akhir yang kuat secara emosional, tapi kehilangan pesan tentang siklus luka dan peluang penyembuhan.

Adaptasi memang selalu menuntut penyesuaian, tapi perubahan besar bisa menggeser makna inti cerita. Menarik untuk dibandingkan, mana yang lebih membekas versi novel yang kompleks atau versi film yang lebih intens dan dramatis?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team