Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Danur: The Last Chapter, Worth Ditonton di Bioskop?
Danur: The Last Chapter (dok. MD Pictures)

Jakarta, IDN Times - Film horor Indonesia kembali diramaikan lewat kehadiran Danur: The Last Chapter pada Rabu (18/3/2026). Film keempat ini menjadi menutup perjalanan panjang kisah Risa dan para teman ghaibnya alias Peter CS.

Secara konsep, film ini terasa seperti penutup yang dirancang matang. Namun di balik kelengkapan cerita yang ditawarkan, ada durasi yang cukup terasa. Dengan begitu, apakah film Danur: The Last Chapter worth untuk ditonton di bioskop?

Sinopsis Danur: The Last Chapter

Sudah menyaksikan tiga film sebelumnya? Kamu pasti mengetahui bahwa kekuatan Risa untuk melihat hal-hal mistis menghilang. Sejak itu, Risa mulai mencoba menjalani kehidupan yang lebih tenang. Namun, ketenangan itu perlahan terusik sosok misterius mulai mengganggu adiknya. Ia pun harus berurusan dengan masa lalu demi bisa menyelamatkan adiknya.

Di sisi lain, rahasia tentang Peter dan teman-temannya akhirnya mulai terungkap, termasuk kisah tragis di balik kematian mereka. Perjalanan ini menjadi titik penting bagi Risa untuk benar-benar berdamai dengan kemampuannya. Bukan sekadar menghadapi teror, Danur: The Last Chapter menghadirkan penutup emosional tentang penerimaan, kehilangan, dan keberanian untuk melangkah maju.

Danur: The Last Chapter
2026
4/5
Directed by Awi Suryadi
ProducerManoj Punjabi
WriterLele Laila
Age RatingR13
GenreKengerian, Misteri, Cerita Seru
Duration98 Minutes
Release Date18-03-2026
Themebased on novel or book, ballet dancer, sequel, church, ghost, haunted, terror, theater, dutch colonialism, final
Production HouseMD Pictures, Pichouse Films
Where to WatchBioskop
CastPrilly Latuconsina, Zee Asadel, Dito Darmawan, Lewis Robert, Muhammad Fauzan

Trailer Danur: The Last Chapter

1. Danur: The Last Chapter terasa sangat niat dan mahal

Salah satu kekuatan utama Danur: The Last Chapter ini ada pada keberaniannya menjawab rasa penasaran penonton, terutama soal latar belakang Peter CS. Film ini mengungkapkan bagaimana mereka meninggal. Dan jawabannya cukup mengejutkan karena terasa tragis dan emosional.

Di sisi lain, film ini juga terasa seperti penutup perjalanan Risa Saraswati. Karakternya digambarkan sudah lebih mampu mengendalikan kemampuannya dan berdamai dengan masa lalu. Ada rasa haru bagi penonton setia selama satu dekade mengikuti kehidupan Risa di film Danur.

Nah secara visual, kualitas produksi juga terlihat jauh meningkat. Mulai dari teknik kamera, detail properti, hingga penggunaan efek darah dan set yang terasa digarap serius dan tidak asal-asalan. Poin ini rasanya sayang bila disaksikan di layar ponsel kecil atau hanya sebesar tabletmu.

2. Lemah di cerita dan pace yang lambat

Meski terlihat digarap dengan ambisi besar, alur cerita Danur keempat justru terasa berputar di beberapa bagian. Narasinya seperti berjalan di tempat sebelum akhirnya bergerak maju, yang membuat ritme film terasa melambat. Di titik ini, penulis cukup ingin mengeklik dua kali lebih cepat atau memutarnya dengan kecepatan 1,5 kali seperti di platform daring.

Selain itu, penggunaan jumpscare juga terasa cukup intens sejak awal. Alih-alih membangun ketegangan secara bertahap, film ini langsung mengagetkan penonton, sehingga efeknya kurang terasa membangun suasana. Terlalu banyak jumpscare juga membuat momen-momen seram jadi kurang punya jeda untuk benar-benar terasa. Bahkan di tahap sudah tidak bisa kaget lagi, nih.

3. Jadi apakah Danur: The Last Chapter lebih baik ditonton di bioskop?

Jawabannya adalah tetap worth untuk ditonton di bioskop. Terutama buat kamu yang sudah mengikuti seri Danur dari awal, film ini memberikan penutup yang cukup memuaskan dari sisi cerita dan visual.

Namun, kalau kamu ingin menikmati dengan tempo yang lebih santai, menunggu sambil rewatch Danur 1, 2, dan 3 juga bukan pilihan yang buruk. Justru bisa bikin pengalaman nonton Danur 4 terasa lebih utuh saat akhirnya ditonton nanti ketika muncul di platform daring.

Jadi, kamu tim yang mana?

Editorial Team