Membawa genre keluarga, Esok Tanpa Ibu hadir dengan kisah yang menyentuh tentang kehilangan, luka, dan upaya berdamai dengan kenyataan. Sejak awal, film ini mengajak penonton masuk ke ruang emosional yang sulit diungkapkan oleh anak remaja.
Urusan dialog, gak ada yang cringe. Kalimatnya masih bahasa sehari-hari, tidak sepuitis itu sampai bikin mengernyit. Bisa dibilang membumi dan nyaman seperti melihat kejadian nyata dan bukan sebuah cuplikan film.
Tanpa banyak dramatisasi berlebihan, Esok Tanpa Ibu memilih bertutur dengan cara sederhana, tetapi berhasil menghantam perasaan. Adegan menangis tidak terkesan memaksa penonton untuk ikut bersedih sehingga emosinya mengalir apa adanya. Film ini memang cukup menguras perasaan, tapi lebih ke mata berkaca-kaca daripada tangisan hebat yang bikin sesak.