Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Film Hoppers, Lebih dari Sekadar Animasi yang Menggemaskan!
cuplikan film Hoppers (youtube.com/Pixar)
  • Film animasi Hoppers karya Daniel Chong mengisahkan Mabel, mahasiswi pencinta hewan yang mentransfer kesadarannya ke tubuh berang-berang robotik untuk menjelajahi dunia hewan dan menghadapi ancaman Wali Kota Jerry.

  • Visual film ini menonjol dengan desain karakter detail dan estetika alam menyerupai ilustrasi buku cerita, di mana perubahan warna latar turut memperkuat emosi serta pesan lingkungan dalam narasinya.

  • Meski mengangkat isu kompleks tentang keseimbangan alam dan politik, Hoppers tetap ringan berkat humor efektif, alur cepat, serta pesan moral kuat tentang hubungan manusia dengan alam dan hewan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagaimana jadinya jika muncul teknologi canggih yang mampu mentransfer pikiran manusia ke dalam robot mirip hewan agar bisa berkomunikasi dengan dunia hewan? Premis inilah yang diangkat ke dalam film Hoppers garapan sutradara Daniel Chong.

Sebelum dirilis perdana di bioskop hari ini (4/3/2026), saya sudah lebih mengikuti screening film Hoppers pada Kamis (12/2/2026) lalu. Menurut saya, premis film ini awalnya terasa cukup ringan. Hanya tentang mahasiswi yang sedari kecil sangat mencintai dunia hewan.

Namun, seiring berjalannya cerita, saya menyadari bahwa konflik yang dihadirkan ternyata lebih kompleks. Film ini menyelipkan isu yang cukup berat terkait keseimbangan lingkungan hingga sentuhan politik yang dihadirkan melalui karakter Wali Kota Jerry.

Nah, buat yang penasaran, berikut ulasan saya mengenai film Hoppers.

Sinopsis Film Hoppers (2026)

Film Hoppers mengikuti kisah Mabel, mahasiswi pencinta hewan yang menggunakan teknologi baru untuk mentransfer kesadarannya ke dalam tubuh berang-berang robotik. Nah, robot tersebut dirancang menyerupai hewan asli, sehingga memungkinkannya untuk berbaur dan berkomunikasi dengan dunia hewan.

Ketika menjelajahi dunia hewan, Mabel mulai mengungkap berbagai misteri yang jauh melampaui imajinasinya. Ia menjalin persahabatan dengan Raja George, seekor berang-berang karismatik, dan harus menyatukan seluruh kerajaan hewan untuk menghadapi ancaman besar Wali Kota lokal Jerry Generazzo yang licik dan penuh tipu daya.

Hoppers
2026
4.8/5
Directed by Daniel Chong
ProducerNicole Paradis Grindle
WriterAxel Geddes
Age RatingBO-SU (Parental Guidance for All Ages)
GenreAnimasi, Petualangan, Komedi, Fiksi Ilmiah
Duration105 menit Minutes
Release Date04-03-2026
ThemeTeknologi dan lingkungan
Production HousePixar Animation Studios, Walt Disney Pictures
Where to WatchXXI, CGV, Cinepolis
CastPiper Curda, Bobby Moynihan, Jon Hamm, Kathy Najimy

Trailer Film Hoppers (2026)

1. Visualnya artistik!

Berbicara tentang film animasi memang belum lengkap rasanya jika tidak membahas soal visualnya. Gak perlu khawatir, visual film Hoppers ini patut diapresiasi karena menyajikan tampilan yang sangat artistik, lho.

Setiap karakter hewan yang muncul di film ini didesain dengan sangat detail, dengan menjadikan tekstur sebagai daya tarik utamanya. Hal ini terlihat jelas pada karakter berang-berang robotik yang memiliki tampilan unik. Bulu pada tubuhnya dibuat menyerupai kain felt dengan serat halus yang tampak nyata.

Di sisi lain, ia juga memiliki bentuk tubuh yang bulat dan empuk. Dengan kombinasi detail tersebut, visual film ini tidak hanya terasa kaya, tetapi juga terasa nyata, dan mampu mendorong keinginan penonton untuk menyentuhnya. Bahkan, salah satu rekan media yang duduk di sebelah saya, sampai beberapa kali memperlihatkan reaksi gemas, seolah ingin menyentuh berang-berang robotik tersebut.

Visual karakter hewan lainnya juga gak kalah menarik, termasuk visual transformasi ulat menjadi kepompong hingga kupu-kupu. Ada juga visual ulat yang menggeliat, yang terasa sedikit geli, tetapi tetap terlihat menggemaskan.

Tak hanya pada karakter, estetika film ini juga terlihat kuat dari penggambaran alam dan lingkungannya. Latar hutan di film ini terasa lebih hidup karena digarap dengan pendekatan seperti ilustrasi buku cerita, lengkap dengan pencahayaan hangat yang menegaskan suasana alami.

Menariknya, visual tersebut bukan sekadar pemanis, melainkan juga berfungsi sebagai alat narasi. Saat alam mulai tergeser oleh pembangunan, palet warnanya pun mulai berubah menjadi lebih dingin dan kaku. Hal ini menjadi poin plus tersendiri bagi saya karena mampu membangun emosi tanpa perlu membubuhkan banyak dialog atau penjelasan.

2. Awalnya, premisnya tampak ringan tapi ternyata gak sesederhana itu

Hoppers terbilang cukup panjang untuk ukuran film animasi dengan durasi 105 menit. Namun, berkat energi yang konsisten, tempo cerita yang cepat, serta plot twist yang mengejutkan, film ini tetap terasa ringan dan tidak membosankan.

Pada babak awal, saya benar-benar menikmati film ini layaknya kisah petualangan pada umumnya, dengan premis sederhana seorang mahasiswi pencinta hewan dan hubungannya dengan sang nenek. Akan tetapi, seiring cerita bergulir, saya mulai menyadari bahwa film ini tidak sesederhana yang terlihat. Ada isu keseimbangan lingkungan yang menjadi sorotan utama, bahkan terselip pula nuansa politik yang memperkuat konflik dan urgensi ceritanya.

Di balik kemasannya yang hangat dan penuh warna, film ini juga menyimpan pesan moral yang cukup besar, yang mengingatkan tentang betapa besar ketergantungan manusia pada alam sekaligus betapa rapuhnya keseimbangan tersebut.

Konsep rantai makanan di film ini digambarkan secara apa adanya. Kita semua tahu bahwa rantai makanan adalah sistem alami yang tak terelakkan dan konsep ini pun diajarkan saat di sekolah. Namun siapa sangka, ketika divisualisasikan lewat Hoppers, konsep rantai makanan tersebut justru terasa begitu ironis.

Hewan-hewan digambarkan begitu pasrah untuk dimakan sebagai bagian dari siklus tersebut. Ironisnya lagi, mereka juga digambarkan sebagai karakter yang polos karena tidak menyadari bahwa ancaman terbesar terhadap keseimbangan alam bukanlah sesama makhluk hidup, melainkan manusia dengan sikap egois dan serakahnya.

Kontras inilah yang menurut saya membuat cerita film Hoppers ini terasa begitu emosional. Bagi saya pribadi, adegan-adegan tersebut terasa sangat menyentuh, bahkan sempat membuat air mata saya jatuh.

Mengingat cukup kompleksnya isu yang diangkat, gak heran jika pada akhirnya film ini mendapatkan rating BO-SU (Bimbingan Orang Tua – Semua Umur). Tapi jangan khawatir! Meski begitu, secara keseluruhan, Hoppers tetap menjadi tontonan keluarga yang menarik, menghibur, menyentuh, sekaligus menyampaikan refleksi yang relevan tentang hubungan manusia, alam, dan hewan.

3. Unsur komedinya berfungsi efektif

Meski mengangkat isu yang cukup berat, film ini sebenarnya tetap terasa seimbang berkat unsur komedinya. Humor yang disisipkan benar-benar berfungsi untuk mencairkan suasana dan mengundang tawa sejenak, sebelum akhirnya penonton kembali dibawa ke momen yang menegangkan dan bikin emosional. Untungnya, tidak ada adegan komedi yang terasa berlebihan atau cringe.

Satu-satunya keluhan saya adalah penggunaan adegan throwback yang terasa sedikit terlalu sering. Meski begitu, hal tersebut masih dalam batas wajar dan tidak sampai mengganggu pengalaman menonton film ini. Dan sekali lagi, secara keseluruhan, film ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Saat itu, saya keluar dari bioskop, dengan membawa perasaan haru, hangat, sekaligus penuh refleksi tentang hubungan antara manusia, hewan, dan alam.

Gimana, sudah siap untuk menonton Hoppers bersama keluarga?

Editorial Team