Secara visual, Kokuho itu cantik. Bukan cantik yang dangkal, tapi cantik yang terasa sakral. Benar-benar cantik. Dari desain kostum kabuki yang megah, riasan lintas usia yang meyakinkan, sampai pergerakan kamera yang terasa seperti tarian pelan. Tak heran kalau film ini mendapat nominasi Oscar untuk Tata Rias dan Tata Rambut Terbaik.
Adegan panggung dirancang brilian. Cahaya, warna, dan komposisi frame membuat setiap pertunjukan terasa seperti ritual. Ditambah scoring yang lembut tapi menghantui, pengalaman menontonnya nyaris hipnotis. Banyak detail kecil yang memperkaya makna, seperti tato burung hantu elang di tubuh Kikuo, penyakit yang diderita Hanjiro, atau insiden-insiden yang kelihatannya sepele tapi ternyata simbolis.
Sutradara Lee Sang Il jelas tidak sekadar memamerkan keindahan kulit luar kabuki. Visual di sini terasa seperti surat cinta pada seni tradisi, sekaligus kritik halus tentang bagaimana seni bisa tercemar ambisi dan modernitas. Ia juga memakai banyak close-up, membuat kamera menangkap dari dekat tiap sudut tubuh sang aktor.
Simak betapa menggetarkan aktingnya sewaktu Kikuo menggantikan sang guru memainkan kisah "The Love Suicides at Sonezaki." Ekspresi yang bak corong emosi, ragam eksplorasi gestur yang mendorong kapasitas fisik sampai ke titik ekstrim. Absolute cinema.