Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Film Ready or Not 2: Here I Come, Solid tapi Kehilangan Fokus?
cuplikan film Ready or Not 2 (youtube.com/SearchlightPictures)

Jakarta, IDN Times - Sekuel biasanya memberi ruang untuk bernapas sejenak. Tapi ternyata, hal tersebut tidak berlaku di Ready or Not 2: Here I Come. Tanpa aba-aba, film ini langsung melempar Grace kembali ke permainan maut, seolah kemenangannya di film pertama terasa sia-sia.

Saya pun langsung menghela napas panjang melihat apa yang dialami Grace. Rasanya seperti belum sempat pulih dari teror sebelumnya, namun kembali dipaksa menghadapi mimpi buruk yang baru, tanpa jeda dan peringatan.

Secara keseluruhan, film Ready or Not 2: Here I Come terasa solid karena sejumlah elemennya tampil menonjol. Namun di sisi lain, menurut saya, film ini juga terasa kurang fokus karena terlalu banyak kejutan yang dipaksakan. Berikut review saya setelah melihatnya secara langsung.

Sinopsis Film Ready or Not 2: Here I Come (2026)

Film Ready or Not 2: Here I Come melanjutkan kisah Grace setelah berhasil selamat dari serangan teror keluarga Le Domas. Namun, alih-alih bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, ia justru kembali terjebak dalam permainan maut baru dan dipaksa bertahan hidup selama satu malam lagi.

Kali ini, Grace menghadapi empat keluarga elit lain yang mengincar nyawanya, dengan taruhan yang jauh lebih besar serta berjuang bersama adiknya, Faith.

Ready or Not 2: Here I Come
2026
4.3/5
Directed by Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
ProducerBradley J. Fischer, William Sherak, James Vanderbilt, Tripp Vinson
WriterGuy Busick, R. Christopher Murphy
Age RatingD 17+ (Adults)
GenreKomedi horor, thriller, slasher
Duration108 menit Minutes
Release Date15-04-2026
ThemeSurvival
Production House20th Century Studios
Where to WatchXXI, CGV, Cinepolis
CastSamara Weaving, Kathryn Newton, Sarah Michelle Gellar, Shawn Hatosy

Trailer Film Ready or Not 2: Here I Come (2026)

1. Entertainment value-nya terasa solid

Menurut saya, film Ready or Not 2: Here I Come terasa cukup solid jika dilihat dari sisi entertainment value-nya. Aksi bunuh-bunuhan para pemuja setan disajikan dengan level gore yang memuaskan, bahkan tetap terasa seru dan tidak membosankan.

Film ini juga masih mempertahankan identitas khas pendahulunya dengan mendorong batas antara brutal dan absurd serta menggabungkan kekerasan ekstrem dengan momen-momen konyol, yang membuat pengalaman menonton jadi bercampur aduk, antara jijik, tegang, sekaligus terhibur dalam waktu yang bersamaan.

Saat menyaksikan film ini lebih awal pada 23 Februari 2026 lalu, saya bahkan sempat beberapa kali merasa mual melihat detail adegan gore-nya. Mungkin juga karena saat itu saya sedang berpuasa, sehingga sensitivitasnya terasa lebih tinggi. Namun di saat yang sama, ada sensasi unik yang terasa antara ingin menutup mata, tapi juga penasaran untuk terus melihat sejauh apa film ini berani melangkah.

Hal solid lainnya yang gak bisa dibantah adalah akting Samara Weaving sebagai Grace. Kembali sebagai pemeran utama, Weaving mempersembahkan spektrum emosi yang lebih luas, mulai dari perasaan takut, lelah, hingga kemarahannya terasa tersampaikan secara natural, bahkan hanya lewat tatapan mata.

Energinya juga berasa menembus layar karena detail tampilan fisiknya. Mulai dari gaun pengantin yang sudah dekil dan penuh darah hingga rambutnya yang super lepek, semuanya membuat kondisi Grace terasa semakin nyata, seolah ia benar-benar sedang bertahan di tengah neraka tanpa jeda.

2. Janjikan premis yang lebih besar tapi malah kehilangan fokus

Film Ready or Not 2: Here I Come jelas dibuat dengan ambisi lebih besar dibanding pendahulunya. Film ini tidak lagi hanya berfokus pada satu keluarga Le Domas, tetapi memperluas dunianya dengan menghadirkan berbagai keluarga elit lain yang juga terikat perjanjian dengan Mr. Le Bail. Bahkan, sejarah tentang kultus setannya juga diperluas, konfliknya diperbanyak, dan taruhannya dibuat terasa lebih tinggi.

Secara sinopsis, berbagai perkembangan tersebut memang terdengar menarik. Namun dalam eksekusinya, pendekatan itu justru membuat film terasa terlalu penuh dan melebar ke berbagai arah. Banyaknya karakter dan subplot membuat narasi kehilangan fokus. Akibatnya, tidak semua karakter mendapat ruang yang cukup untuk berkembang. Alih-alih tampil sebagai bagian penting dari film, mereka malah terkesan sebagai tambahan korban.

Bahkan, penambahan karakter Faith sebagai adik Grace yang awalnya menjanjikan juga terasa kurang maksimal dalam eksekusinya. Klimaks emosionalnya terasa terburu-buru, sehingga konflik mereka yang seharusnya menjadi salah satu inti cerita justru kurang meyakinkan dan gagal memberikan dampak emosional yang kuat.

3. Apakah film Ready or Not 2 layak ditonton?

Bagi penonton yang sudah menyaksikan film pertamanya, film ini mungkin terasa kehilangan ketajaman karena ambisinya yang lebih besar. Alih-alih sederhana dan fokus seperti pendahulunya, sekuel ini justru terasa lebih penuh dan kurang terarah di beberapa bagian.

Namun menurut saya, Ready or Not 2: Here I Come tetap layak untuk ditonton, terutama bagi kamu yang mencari tontonan hiburan penuh aksi brutal, gore dan kekacauan yang bombastis serta dark comedy yang tetap seru.

Editorial Team