Setelah bertahun-tahun menjadi waralaba mati suri, Silent Hill akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Kebangkitan ini bukan tanpa alasan: game-game barunya kembali dibicarakan, remake Silent Hill 2 menuai antusiasme, dan Konami tampak sadar betul bahwa momentum ini tak boleh terbuang. Salah satu langkah paling berani adalah membawa Silent Hill kembali ke layar lebar.
Return to Silent Hill (2026) menjadi film ketiga dalam seri adaptasi ini dan secara langsung mengadaptasi Silent Hill 2, gameyang oleh banyak penggemar bukan hanya dianggap terbaik di franchise, tetapi juga salah satu horor psikologis paling berpengaruh sepanjang masa. Disutradarai dan ditulis bersama oleh Christophe Gans, film ini dibintangi Jeremy Irvine sebagai James Sunderland dan Hannah Emily Anderson sebagai Mary/Maria.
Di sinilah taruhan besarnya. Silent Hill 2 bukan sekadar kisah kota berkabut dan monster mengerikan. Ia adalah tragedi tentang duka, rasa bersalah, penyangkalan, dan hukuman diri. Horornya lahir dari batin protagonis, bukan dari jumpscare semata. Lalu, apakah Return to Silent Hill merupakan adaptasi yang berhasil? Berikut ulasannya!
