Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[REVIEW] Suzhou River, Penanda Kebangkitan Skena Film Indie China
Suzhou River (dok. Strands Releasing/Suzhou River)

  • Sekuens pembukanya sederhana, tapi menghipnotis. Lou Ye membawamu menyusuri Sungai Suzhou dengan monolog dari seorang pria yang bekerja sebagai videografer lepas.

  • Tipe film dengan cerita bercabang yang mengingatkanmu pada Wong Kar Wai. Cerita beralih ke sosok Mardar dan kekasihnya Moudan, mirip gaya Wong Kar Wai.

  • Film yang menandai kebangkitan sinema independen China. Menggunakan pendekatan realisme, film karya Lou Ye ini turut menandai salah satu milestone dalam sinema China modern.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menonton film dengan perspektif orang ketiga itu sudah biasa. Bagaimana jadinya kalau sutradara memutuskan pakai point of view (POV) orang pertama? Mungkin kamu jarang atau justru belum pernah mengalaminya, nih. Kebetulan, ada satu rekomendasi film China yang bisa kamu tonton untuk merasakan pengalaman sinematik unik itu. Judulnya Suzhou River yang disutradarai Lou Ye dan dirilis pada 2000.

Berusia lebih dari 25 tahun, film ini rasanya masih jadi salah satu karya sinematik berpengaruh Asia. Ia bahkan disebut salah satu contoh eksekusi teknik first-person-POV terbaik yang pernah dibuat dalam sejarah industri film. Mengapa dan bagaimana bisa? Mari ulas lebih dalam soal film Suzhou River (2000).

  • Genre: romance, noir

  • Pemain: Jia Hongsheng, Zhou Xun, Hua Zhongkai

  • Sutradara: Lou Ye

  • Sinematografer: Wang Yu

  • Skor: 4/5

1. Sekuens pembukanya sederhana, tapi menghipnotis

Suzhou River (dok. Strands Releasing/Suzhou River)

Bersiaplah terpana menonton sekuens pembuka Suzhou River. Sesuai judulnya, sutradara Lou Ye membawamu menyusuri Sungai Suzhou, sebuah kanal air yang pada saat film itu dibuat masih dikelilingi permukiman lawas dan proyek pembangunan gedung tinggi modern masih berlangsung. Bersamaan dengan itu, monolog pun terdengar, datang dari seorang pria yang mengaku bekerja sebagai videografer lepas.

Sembari memperkenalkan Suzhou River yang unik secara geografis dan demografi lewat handheld camera-nya, si videografer mempromosikan jasa dan beberapa proyek yang pernah ia kerjakan. Salah satunya berhasil mengubah hidupnya karena mempertemukannya dengan Meimei (Zhou Xun), perempuan muda yang bekerja sebagai talent untuk atraksi putri duyung di sebuah bar. Mereka saling jatuh cinta dan sepakat berkencan sampai Meimei mulai menyenggol sosok Mardar. Siapa Mardar?

2. Tipe film dengan cerita bercabang yang mengingatkanmu pada Wong Kar Wai

Suzhou River (dok. Strands Releasing/Suzhou River)

Dari sini, cerita beralih ke sosok bernama Mardar (Jia Hongsheng) dan kekasihnya yang bernama Moudan (diperankan juga oleh Zhou Xun). Lou Ye tak lagi memakai POV orang pertama ketika menceritakan kisah Mardar dan Moudan yang tragis itu. Sampai akhirnya, Mardar mendatangi si videografer dan Meimei.

Berwajah mirip dengan kekasihnya yang lama hilang itu, Mardar percaya kalau Moudan berganti identitas jadi Meimei dan pura-pura tak mengenalnya. Dua sejoli itu awalnya skeptis dan menganggap Mardar berhalusinasi. Namun, perlahan relasi mereka ikut terpengaruh gara-gara kehadiran orang ketiga itu. Si videografer khawatir akan kehilangan kekasihny. Sementara di sisi lain, Meimei perlahan menjelma jadi sosok Moudan versi Mardar.

Cerita bercabang seperti ini mungkin mengingatkanmu pada sutradara Hong Kong, Wong Kar Wai yang berhasil mengaplikasikannya dalam dua film legendarisnya, Chungking Express (1994) dan Fallen Angels (1995). Seperti Wong, Lou Ye juga menyiapkan akhir yang cukup mengejutkan dan menohok. Bagian akhir itu layak diapresiasi layaknya sekuens pembuka.

3. Film yang menandai kebangkitan sinema independen China

Suzhou River (dok. Strands Releasing/Suzhou River)

Menggunakan pendekatan realisme, film karya Lou Ye ini turut menandai salah satu milestone dalam sinema China modern. Bersamaan dengan meredupnya sinema Hong Kong karena satu dan lain hal, Lou Ye dan beberapa sineas lain, seperti Jia Zhangke, seolah memanfaatkan momentum untuk mendobrak dominasi film epik sejarah dalam semesta sinematik China daratan.

Tidak seperti Jia Zhangke yang fokus pada kritik sosial, Lou Ye memang lebih suka menjelajahi pergolakan batin personal dan perkembangan emosional individu. Dalam Suzhou River, transformasi urban kota Suzhou dijadikan latar, bukan sesuatu yang secara gamblang memengaruhi jalan cerita. Begitu pula dengan film-filmnya berikutnya, seperti Summer Palace (2006), Spring Fever (2009), dan Saturday Fiction (2019).

Namun, seperti Jia Zhangke, karya-karya Lou Ye juga sering jadi sasaran sensor pemerintah setempat. Keberaniannya menyenggol masalah sosial-politik dan menampilkan hal yang dianggap tabu dalam masyarakat China jadi alasannya. Namun, ini pula yang membuatnya jadi salah satu tokoh prominen buat penikmat film. Tertarik mengulik daftar film garapannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team