Sayangnya, di sinilah film mulai tersandung. Penceritaan Tolong Saya! Dowajuseyo terasa lompat-lompat, dengan banyak loop hole yang mengganggu hubungan sebab-akibat. Film tampak ingin membangun ketakutan lewat rasa tidak nyaman, bukan ketakutan eksplisit. Pilihan ini tepat, namun sayangnya gagal mengajak penonton benar-benar peduli pada nasib Tania.
Banyak dialog terasa tidak merefleksikan situasi yang sedang dihadapi karakter. Visual dibiarkan berbicara sendiri, tanpa penopang emosi yang cukup. Penonton dibiarkan meraba-raba, apa sebenarnya yang sedang terjadi dan mengapa ini penting? Arwah Min Yong lebih sering hadir sebagai simbol trauma ketimbang entitas horor "Wonhon" yang benar-benar menekan. Alih-alih rasa takut, justru rasa ketidaknyamanan yang muncul.
Genre di dalamnya pun terasa terlalu padat. Film ini memadukan horor, misteri-thriller, bahkan romansa love triangle dalam satu paket. Misteri sering kali diselesaikan lewat deus ex machina, alih-alih kemampuan deduktif Tania dan temannya. Pendekatan eksorsisme (dari Islam ke lokal Indonesia) juga terasa janggal mengingat latar cerita berada di Korea. Bagi fans Exhuma (2024), sebaiknya jangan berharap lebih.
Pilihan bahasanya tak kalah membingungkan. Penggunaan bahasa Inggris justru lebih dominan ketimbang bahasa Korea, sehingga rasa "asing" yang seharusnya kuat malah melemah. Dibanding film Indonesia berlatar Korea Selatan seperti Sampai Jumpa, Selamat Tinggal (2024) atau Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024), pendekatan lokalisasi Tolong Saya! Dowajuseyo terasa kurang mantap.