Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Tolong Saya! Dowajuseyo, Metro Urban Horror dengan Latar Korea.jpg
Tolong Saya! Dowajuseyo (dok. Heart Pictures/Tolong Saya! Dowajuseyo)

Bioskop Indonesia kembali kedatangan film horor berjudul Tolong Saya! (Dowajuseyo). Disutradarai Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, film ini tidak mengandalkan teror keras atau jumpscare semata, melainkan memilih jalur metro horror yang dingin, slow-burn, dan sarat emosi. Premisnya pun cukup berani: arwah perempuan Korea korban pelecehan seksual meneror mahasiswi Indonesia di Korea Selatan.

Lebih menarik lagi, film horor ini berangkat dari pengalaman nyata Beby Salsabila yang viral di TikTok, lalu dikembangkan menjadi kisah fiksi yang memadukan horor, thriller investigatif, dan romansa. Hasilnya adalah film dengan gagasan segar, meski eksekusinya tak selalu berjalan mulus. Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Simak di bawah ini!

Sinopsis Tolong Saya! Dowajuseyo (2026)

Tolong Saya! (Dowajuseyo) mengikuti kisah Tania (Saskia Chadwick), perempuan 25 tahun yang memiliki indera keenam. Hidupnya berubah setelah mengikuti program pertukaran pelajar ke Korea Selatan. Niat awalnya sederhana: membantu arwah penasaran bernama Min Yong, korban pelecehan seksual yang menuntut keadilan.

Namun, Tania justru masuk ke dalam teror yang semakin intens. Bersama Dr. Park Min Jae (Kim Geba) dan sahabatnya Sherly (Aruma Khadijah), Tania berusaha mengungkap masa lalu kelam Min Yong. Perlahan, batas antara empati, trauma, dan bahaya menjadi kabur. Mampukah Tania memecahkan misteri Min Yong sebelum dirinya sendiri hancur?

Tolong Saya! Dowajuseyo
2026
2/5
Directed by Nur Muhammad Taufik, Sjahfasyat Bianca
ProducerErick Teguh Mulyono
WriterNucke Rahma
Age RatingR13
GenreSupernatural, horror, thriller
Duration93 Minutes
Release Date29 Januari
ThemeDemonic Horror
Production HouseHeart Pictures
Where to WatchBioskop
CastSaskia Chadwick, Cinta Bria, Bung Korea, Kim Seoyoung, Aruma Khadijah, Dito Darmawan, William Roberts, Husein Alatas, Debby Sahertian, Yati Surachman

Trailer Tolong Saya! Dowajuseyo (2026)

1. Padukan budaya Korea-Indonesia dalam genre horor

Keunggulan Tolong Saya! (Dowajuseyo) terletak pada atmosfer lintas budayanya. Korea Selatan tidak digambarkan sebagai latar romantis ala K-drama, melainkan ruang dingin, asing, dan tidak ramah bagi pendatang. Perasaan teralienasi, bahasa yang tak sepenuhnya dipahami, serta kesepian di negeri orang menjadi sumber ketegangan utama. Ini adalah pendekatan yang jarang dipakai film horor Indonesia.

Saskia Chadwick menjadi tulang punggung film ini. Ia berhasil menghadirkan Tania sebagai sosok yang rapuh, lelah secara mental, dan perlahan kehilangan pegangan pada realitas. Ekspresi dan bahasa tubuhnya konsisten menjaga emosi tetap hidup, bahkan ketika dialog minim. Kim Geba tampil cukup solid sebagai Dr. Park Min Jae, figur penenang di tengah kekacauan. Sementara itu, Cinta Brian memberi nuansa gelap dan ambigu sebagai Dion, meski karakternya masih bisa digali lebih dalam.

Aktor Korea Selatan, yakni Kim Seoyoung sebagai Min Yong, berhasil menambah rasa autentik. Sayang, porsinya tidak banyak, sehingga potensi konflik budaya yang lebih tajam tak berhasil sepenuhnya keluar.

2. Plot berbelit dengan pendekatan yang kurang "melokal"

Sayangnya, di sinilah film mulai tersandung. Penceritaan Tolong Saya! Dowajuseyo terasa lompat-lompat, dengan banyak loop hole yang mengganggu hubungan sebab-akibat. Film tampak ingin membangun ketakutan lewat rasa tidak nyaman, bukan ketakutan eksplisit. Pilihan ini tepat, namun sayangnya gagal mengajak penonton benar-benar peduli pada nasib Tania.

Banyak dialog terasa tidak merefleksikan situasi yang sedang dihadapi karakter. Visual dibiarkan berbicara sendiri, tanpa penopang emosi yang cukup. Penonton dibiarkan meraba-raba, apa sebenarnya yang sedang terjadi dan mengapa ini penting? Arwah Min Yong lebih sering hadir sebagai simbol trauma ketimbang entitas horor "Wonhon" yang benar-benar menekan. Alih-alih rasa takut, justru rasa ketidaknyamanan yang muncul.

Genre di dalamnya pun terasa terlalu padat. Film ini memadukan horor, misteri-thriller, bahkan romansa love triangle dalam satu paket. Misteri sering kali diselesaikan lewat deus ex machina, alih-alih kemampuan deduktif Tania dan temannya. Pendekatan eksorsisme (dari Islam ke lokal Indonesia) juga terasa janggal mengingat latar cerita berada di Korea. Bagi fans Exhuma (2024), sebaiknya jangan berharap lebih.

Pilihan bahasanya tak kalah membingungkan. Penggunaan bahasa Inggris justru lebih dominan ketimbang bahasa Korea, sehingga rasa "asing" yang seharusnya kuat malah melemah. Dibanding film Indonesia berlatar Korea Selatan seperti Sampai Jumpa, Selamat Tinggal (2024) atau Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024), pendekatan lokalisasi Tolong Saya! Dowajuseyo terasa kurang mantap.

3. Apakah Tolong Saya! (Dowajuseyo) recommended untuk ditonton?

Tolong Saya! Dowajuseyo adalah film dengan niat baik dan gagasan segar. Ia berani menolak formula horor Indonesia yang itu-itu saja dan mencoba menyentuh isu sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan lewat pendekatan yang lebih sunyi dan reflektif. Keberanian ini patut diapresiasi. Namun, keberanian itu belum sepenuhnya diimbangi dengan eksekusi yang matang.

Dialog yang kurang menggugah, plot yang berbelit, dan banyaknya loop hole membuat dampak emosional film terasa melemah. Tolong Saya! Dowajuseyo bukan film horor yang akan membuatmu berteriak ketakutan, melainkan film yang mungkin membuatmu gelisah sepanjang 93 menit, atau justru merasa terputus dari ceritanya.

Jika kamu tertarik pada horor atmosferik lintas budaya dan isu sosial yang jarang diangkat, Tolong Saya! Dowajuseyo layak dicoba. Tapi jika kamu mengharapkan film horor yang rapi, fokus, dan menghantam emosi dengan presisi, film ini mungkin terasa belum sampai tujuan. Tolong Saya! Dowajuseyo tayang di bioskop mulai 29 Januari 2026.

Editorial Team