Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Run Away dan His & Hers
Run Away dan His & Hers (dok. Netflix Run Away dan His & Hers)

Intinya sih...

  • Run Away dan His & Hers sama-sama thriller adaptasi novel dengan premis rahasia dan relasi personal yang rumit.

  • Run Away berfokus pada perjalanan emosional seorang ayah, sementara His & Hers lebih intim dengan narasi ganda.

  • Run Away menawarkan ritme cepat dan cliffhanger, sementara His & Hers memainkan tekanan psikologis dan chemistry antarkarakter yang kuat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jika kamu tertarik dengan serial His & Hers yang baru-baru ini masuk jajaran Top 10 Netflix, ada satu thriller lain yang juga layak dilirik, yakni Run Away. Menariknya, kedua serial ini sama-sama merupakan adaptasi novel dengan premis yang bertumpu pada rahasia, kebohongan, dan relasi personal yang rumit.

Bagi penonton yang menikmati ketegangan ala His & Hers, Run Away yang tayang lebih awal bisa menjadi pilihan tontonan berikutnya. Keduanya sama-sama bekerja sebagai thriller, tetapi memberi pengalaman menonton yang berbeda. Untuk melihat di mana letak perbedaannya, kita bahas Run Away vs. His & Hers secara lebih mendalam lagi, yuk!

1. Premis serupa yang berangkat dari hubungan dekat

cuplikan serial His & Hers (dok. Netflix/His & Hers)

Run Away membawa penonton ke perjalanan emosional seorang ayah bernama Simon (James Nesbitt) yang hidupnya berubah ketika putrinya, Paige (Ellie de Lange), meninggalkan rumah akibat kecanduan narkoba. Situasi semakin rumit setelah kekasih Paige ditemukan tewas dan kecurigaan justru mengarah pada Simon usai video dirinya menyerang korban beredar luas.

Pencarian Simon pun berkembang menjadi upaya menjawab apakah Paige terlibat dalam kejahatan tersebut, atau justru menjadi target berikutnya. Dugaan awal yang mengarah pada dunia narkoba ini perlahan menyeret ke lapisan yang jauh lebih kelam.

Sebaliknya, His & Hers terasa lebih intim. Berlatar di kota kecil Dahlonega yang suram, serial ini mengikuti Anna (Tessa Thompson), seorang jurnalis, dan Jack (Jon Bernthal), detektif yang sedang menangani sebuah kasus pembunuhan. Korban memiliki keterkaitan personal dengan keduanya, sementara hubungan Anna dan Jack sendiri berada di titik rapuh sebagai pasangan suami istri yang tengah berpisah. Situasi ini membuat kecurigaan bergerak dua arah, dengan masing-masing tampak memiliki motif yang cukup kuat.

2. Ritme cerita keduanya terasa kontras

cuplikan serial Run Away (dok. Netflix/Run Away)

Seperti kebanyakan karya Harlan Coben, Run Away dengan total 8 episode, bergerak sangat cepat dan nyaris selalu menutup tiap episodenya dengan cliffhanger, sehingga mendorong penonton untuk terus lanjut menonton. Sejak awal, serial ini sudah memperkenalkan sejumlah karakter yang terlihat mencurigakan. Namun, seiring cerita berjalan, berbagai rahasia terkuak dan kerap mematahkan tebakan awal penonton, menjaga ketegangannya lewat kejutan yang datang silih berganti.

Sebaliknya, His & Hers yang lebih ringkas dengan 6 episode memilih ritme lebih tertahan, mengandalkan atmosfer dan tekanan psikologis daripada kecepatan peristiwa. Keunikan utamanya terletak pada narasi ganda, di mana peristiwa dilihat dari sudut pandang Anna dan Jack. Informasi tidak diberikan secara utuh sejak awal, melainkan sedikit demi sedikit, sehingga penonton diajak memahami motif dan pilihan karakter melalui tekanan psikologis.

3. Chemistry yang paling terasa hidup

cuplikan serial His & Hers (instagram.com/vivamaude)

Dalam hal chemistry antarkarakter, His & Hers terasa lebih menonjol. Tessa Thompson tampil kuat sekaligus rapuh sebagai Anna dan dinamika hubungannya dengan Jon Bernthal menghadirkan ketegangan emosional yang terasa konsisten. Interaksi keduanya dibangun dari rasa saling curiga, penyesalan yang tak terucap, dan membuat konflik personal terasa hidup di layar.

Run Away tetap solid lewat performa James Nesbitt sebagai ayah yang putus asa dan impulsif. Namun, karena ceritanya sangat berfokus pada pergerakan plot dan kejutan, relasi antarkarakter tidak digali sedalam His & Hers. Banyak karakter hadir dengan rahasia masing-masing, lebih berfungsi untuk menjaga misteri tetap bergerak daripada membangun ikatan emosional yang kompleks.

4. Ending yang meninggalkan rasa berbeda

cuplikan serial Run Away (dok. Netflix/Run Away)

Hal yang membedakan kedua serial ini juga ditemukan dari cara mereka memainkan kejutan di bagian akhir. Run Away menawarkan twist yang terasa rapi dan logis. Bagi penonton penggemar misteri, pelakunya mungkin bisa ditebak sejak awal cerita, tetapi kepuasan justru datang dari bagaimana potongan-potongan cerita disatukan dan memunculkan kejutan lain. Ending-nya terasa mengajak penonton ikut merasakan kepahitan dari keputusan akhir yang diambil, seolah karakter utama tidak memiliki pilihan yang ideal.

Sebaliknya, His & Hers mengambil risiko yang lebih besar. Twist akhirnya terasa lebih berani dan memberi rasa tidak nyaman yang lebih kuat dibanding Run Away, menempatkan penonton di wilayah abu-abu antara rasa ngeri, simpati, dan efek yang tertinggal.

Pada akhirnya, baik Run Away maupun His & Hers sama-sama tahu cara memainkan ketegangan, hanya memilih jalur yang berbeda untuk sampai ke sana. Yang satu mendorong emosi agar penonton terus bergerak, sementara yang lain menahan dan menekan hingga rasa tidak nyaman perlahan mengendap. Perbedaannya bukan soal mana yang lebih unggul, melainkan jenis pengalaman menonton seperti apa yang ingin dirasakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team