Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
SAG-AFTRA Kecam Video AI Seedance yang Tiru Artis Hollywood.jpg
Aksi Tom Cruise ditiru oleh AI Seedance (dok. Paramount Pictures/Mission: Impossible – The Final Reckoning | ByteDance/Seedance)

Belakangan ini media sosial diramaikan potongan adegan Brad Pitt yang tampak berkelahi dengan Tom Cruise. Bukan cuplikan film terbaru, melainkan video AI yang dihasilkan oleh model Seedance 2.0, teknologi generatif milik ByteDance, perusahaan asal China yang juga menaungi TikTok.

Kontroversi ini langsung memantik reaksi keras dari industri hiburan Hollywood. Serikat pekerja industri televisi dan radio Amerika Serikat, SAG-AFTRA, resmi bergabung dalam kecaman terbuka karena video-video tersebut dinilai meniru rupa dan suara artis tanpa izin.

1. SAG-AFTRA sebut video buatan Seedance melanggar etika dan standar industri

Kecaman SAG-AFTRA untuk Seedance (dok. x.com/sagaftra)

SAG-AFTRA menyebut video-video hasil Seedance sebagai pelanggaran hak cipta yang terang-terangan.

"SAG-AFTRA mendukung studio-studio dalam mengutuk pelanggaran terang-terangan yang dimungkinkan oleh model video AI baru ByteDance," tulis serikat tersebut lewat unggahan resmi di X/Twitter mereka.

Masalahnya bukan pada visual saja, tetapi juga penggunaan suara dan kemiripan wajah aktor tanpa persetujuan. Presiden SAG-AFTRA, Sean Astin, bahkan termasuk salah satu yang terdampak. Dalam salah satu video AI, wajahnya ditampilkan sebagai Samwise Gamgee dari The Lord of the Rings, lengkap dengan dialog ikoniknya yang diubah.

"Ini tidak dapat diterima dan merusak kemampuan talenta manusia untuk mencari nafkah. Seedance 2.0 mengabaikan hukum, etika, standar industri, dan prinsip dasar persetujuan. Pengembangan AI yang bertanggung jawab menuntut akuntabilitas, dan itu tidak ada di sini," tegas SAG-AFTRA.

Kecaman serupa juga datang dari Asosiasi Industri Film serta Human Artistry Campaign, koalisi kelompok hak seniman yang menilai peluncuran Seedance sebagai serangan langsung terhadap kreator.

"Peluncuran Seedance 2.0 adalah serangan terhadap setiap kreator di seluruh dunia. Mencuri karya kreator manusia dalam upaya untuk menggantinya dengan sampah yang dihasilkan AI merusak budaya kita: mencuri bukanlah inovasi," ujar juru bicara kampanye tersebut.

2. Disney juga mengirimkan surat peringatan atas pencomotan IP mereka

Zootopia 2 (dok. Walt Disney Studios/Zootopia 2)

Tak hanya serikat aktor, Disney juga turun tangan. Studio raksasa itu mengirimkan surat peringatan resmi kepada penasihat hukum ByteDance, John Rogovin, pada hari Jumat (13/2/2026), seperti yang dikonfirmasi oleh Variety.

Dalam suratnya, Disney menilai praktik tersebut sebagai tindakan yang disengaja, seolah-olah kekayaan intelektual mereka diperlakukan seperti klip domain publik gratis. Disney menuding perusahaan tersebut menyediakan "perpustakaan bajakan" karakter-karakter dengan IP dari berbagai waralabanya.

"Pengambilalihan kekayaan intelektual Disney secara virtual oleh ByteDance adalah tindakan yang disengaja, meluas, dan sama sekali tidak dapat diterima," tulis David Singer, seorang mitra di Jenner & Block.

Langkah ini menyusul upaya hukum sebelumnya terhadap platform AI lain, termasuk gugatan terhadap Midjourney, serta teguran kepada Google terkait penggunaan karakter Disney tanpa izin di layanan video AI mereka.

3. Penggunaan AI dalam pembuatan adegan film instan

Ilustrasi AI (dok. Unsplash/Solen Feyissa)

Seedance sendiri dianggap sebagai lompatan besar teknologi video AI karena mampu menggabungkan audio dan visual secara sinematik. Namun justru di sinilah letak kekhawatiran industri.

Sejak 2023, SAG-AFTRA memperjuangkan prinsip "persetujuan dan kompensasi" dalam setiap penggunaan kemiripan aktor oleh AI. Perjuangan itu bahkan sempat memicu aksi mogok besar di Hollywood.

Kini, serikat pekerja tersebut masih bernegosiasi dengan Aliansi Produser Film dan Televisi untuk memperkuat perlindungan bagi para aktor di era kecerdasan buatan, terutama agar wajah dan suara mereka tidak bisa direplikasi sembarangan oleh teknologi.

Jika kamu peduli dengan masa depan kreator dan pekerja seni, isu ini layak terus dipantau. Jangan lupa, dukung karya orisinal buatan manusia dan tetap kritis terhadap konten AI yang makin sulit dibedakan dari dunia nyata.

Editorial Team