Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Nadine Chandrawinata
potret Nadine Chandrawinata dalam SAT 2026 by IDN Times, Kamis (15/1/2026) (instagram.com/idntimes)

Jakarta, IDN Times - Nadine Chandrawinata telah mendedikasikan hidupnya selama 10 tahun terakhir untuk Seasoldier. Dalam Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 by IDN Times yang menjadi forum diskusi tahunan di IDN HQ, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026), Nadine antusias menceritakan berbagai aksi yang direalisasikan oleh Seasoldier untuk mengurai masalah sampah.

Menurut Nadine, lebih dari sekadar aksi bersih-bersih, Seasoldier juga aktif bergerak memberikan edukasi lingkungan, seperti masuk ke sekolah-sekolah untuk menyusun kurikulum lingkungan.

1. Seasoldier lahir dari gerakan dan kemudian berkembang menjadi NGO

potret Nadine Chandrawinata dalam SAT 2026 by IDN Times, Kamis (15/1/2026) (instagram.com/idntimes)

Nadine Chandrawinata menjelaskan, awalnya ia mendirikan Seasoldier sebagai sebuah gerakan untuk mengurai persoalan sampah secara berkelanjutan. Gerakan ini berangkat dari kesadaran bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dan masalah lingkungan di darat tidak pernah berhenti di darat, melainkan bermuara ke laut, sesuai dengan filosofi Seasoldier, ‘Air mengalir dari hulu ke hilir. Hulu adalah daratan, hilir adalah lautan. Maka yang harus bergerak adalah di daratan.’

Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat, Seasoldier pun tumbuh menjadi organisasi non-pemerintah (NGO) dengan jangkauan yang luas. Nadine menyebut, hingga kini Seasoldier telah memiliki belasan titik regional aktif di berbagai daerah, seperti Tegal, Pacitan, Surabaya, Maluku Utara, Aceh, Banten, hingga wilayah lain dengan karakter dan isu lingkungan yang berbeda-beda.

“Ada isu tentang air bersih, ada isu tentang fenol, jadi isu lingkungan setiap daerah berbeda dengan di Jakarta,” ungkap Nadine.

2. Seasoldier gak cuma bersih-bersih tapi juga memberikan edukasi lingkungan

potret Nadine Chandrawinata dalam SAT 2026 by IDN Times, Kamis (15/1/2026) (instagram.com/idntimes)

Nadine menjelaskan, kegiatan Seasoldier tidak berhenti pada aksi bersih-bersih saja, tetapi juga aktif memberikan edukasi lingkungan kepada anak-anak dan masyarakat. Mereka masuk ke sekolah-sekolah, menyusun kurikulum lingkungan, dan bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Kita di sini menjembatani aja dan yang bisa kita lakukan adalah kita masuk ke sekolah-sekolah, kita bikin kurikulumnya. Ada beberapa titik di Jakarta kita bikinin, terus kita masuk ke beberapa perusahaan untuk juga bantu berkelanjutannya seperti apa. Itu yang benar-benar kita patok selama 6 bulan,” ujar Nadine.

Bahkan, edukasi Seasoldier ini dilakukan lewat kegiatan luar ruangan dengan mengajak anak-anak dan masyarakat untuk berkenalan kembali dengan alam lewat berbagai aktivitas, seperti menanam mangrove, memilah sampah, mengenal sampah organik, hingga membawa kebiasaan baru tersebut ke dalam rumah.

“Kita tahu sampah itu sering dianggap ribet dan biasanya orang gak menyentuh. Tapi bagaimana caranya kita membuat, ‘Persampanan ini seru kok, asik kok’” lanjutnya.

3. Tekankan sampah adalah tanggung jawab pribadi

potret Nadine Chandrawinata dalam SAT 2026 by IDN Times, Kamis (15/1/2026) (instagram.com/idntimes)

Nadine menegaskan Seasoldier hanya mampu menjembatani dan memberi akses pengetahuan serta pengalaman, namun keputusan akhirnya tetap kembali ke individu. Menurut Nadine, meskipun terdengar klise, akan lebih baik jika mengolahnya kembali untuk diri sendiri daripada berpura-pura tidak tahu dan membiarkan sampah-sampah tersebut menumpuk.

“Kita yang ngerjain, kita yang bertanggung jawab sama sampah kita sendiri. Mungkin mindset-nya harus diubah sedikit,” pungkas Nadine.

Editorial Team