Lupita Nyong'o dan Alfre Woodard dalam film 12 Years a Slave (dok. 20th Century Fox/ 12 Years a Slave)
Masalahnya, tadi itu bukan fenomena universal. Ia hanya berlaku untuk aktor dan aktris kulit putih. Silakan tengok bagaimana nasib para aktor berlatarbelakang kulit berwarna dan minoritas yang pernah memenangkan piala Oscar atau setidaknya dapat nominasi. Lupita Nyong’o (12 Years a Slave), Daniel Kaluuya (Get Out!), Steven Yeun (Minari), Riz Ahmed (Sound of Metal), Lily Gladstone (Killers of the Flower Moon), Halle Berry (Monster’s Ball), Chiwetel Ejiofor (12 Years a Slave), Sophie Okonedo (Hotel Rwanda), dan Yalitza Aparicio (Roma).
Nyong’o, Gladstone, Yeun, Eijofor, dan Ahmed mungkin beberapa nama yang berhasil mempertahankan status elitenya sebagai pemenang Oscar dengan bergabung di proyek-proyek menarik beberapa tahun setelahnya. Namun, coba perhatikan nama lain dari daftar tadi. Mereka hampir bak ditelan bumi. Alasan mereka beragam, kebanyakan berpindah fokus di belakang layar. Eijofor dan Okonedo memang masih aktif, tetapi mereka lebih sering dapat peran pendukung ketimbang lakon.
Nyong’o sendiri mengaku setelah kemenangannya di Oscar 2014, ia memang dapat banyak tawaran film, tetapi masih terpaku pada stigma yang melekat pada etnisitasnya. Lily Gladstone setelah Oscar 2024 memilih untuk fokus pada proyek independen dan cerita dari perspektif penduduk pribumi seperti dirinya. Yeun, Eijofor, dan Ahmed dapat kesempatan mencoba lebih banyak peran di luar stigma etnik mereka. Namun, tetap harus diakui kecepatan mereka dapat proyek bagus tak sebanding dengan yang didapat aktor kulit putih. Kalau mereka butuh hitungan tahun, aktor kulit putih seperti Eddie Redmayne dan Cillian Murphy bisa mendapatkannya dalam hitungan bulan.