Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sidharta Tata Belajar Standar Action Hollywood dari Iko Uwais
potret Sidharta Tata dan Iko Uwais (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai proyek pure action pertamanya, menghadirkan aksi penuh tubuh yang dipadukan dengan unsur drama sebagai elemen utama cerita.
  • Melalui kolaborasi dengan Iko Uwais, Sidharta Tata belajar menerapkan standar teknis Hollywood dalam adegan laga, mulai dari persiapan pemain hingga pengelolaan ritme syuting agar energi aktor tetap terjaga.
  • Iko Uwais menilai industri film Indonesia kini semakin diperhitungkan secara global berkat kekayaan budaya dan gaya uniknya, serta peningkatan kualitas produksi yang kompetitif di kancah internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sidharta Tata mengaku selama ini menyutradarai adegan laga hanya mengandalkan intuisi. Hal itu berubah ketika ia bekerja dengan Iko Uwais di film Ikatan Darah. Meski telah dikenal lewat berbagai serial aksi populer, seperti Petaruhan: The Series dan Zona Merah, sang sutradara mengaku selama ini ia hanya mengandalkan intuisi dalam menggarap adegan laga.

Berbekal pengalaman Iko Uwais di industri film aksi internasional, Sidharta Tata mulai mempelajari berbagai standar teknis ala Hollywood, mulai dari persiapan pemain hingga pengelolaan koreografi aksi di setiap pengambilan gambar. Lantas, seperti apa sih proses belajar yang ia dapatkan dari Iko Uwais?

1. Sidharta Tata sebut Ikatan Darah sebagai project pure action pertamanya

potret Sidharta Tata dan Iko Uwais di presscon film Ikatan Darah (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Sidharta Tata menyebut Ikatan Darah bukan sekadar film panjang aksi pertamanya, tetapi juga project pure action pertama yang ia garap. Menurutnya, selama in lebih sering memasukkan unsur aksi sebagai elemen tambahan dalam berbagai proyek yang dikerjakannya, baik dalam genre horor maupun drama.

“Sebenarnya kalau melihat ulang soal genre-nya apa, itu kan bukan pure action. Jadi, saya iseng-iseng aja masukin. Jadi, saya mau bikinnya horor, saya masukin action. Saya bikin drama, saya masukin action. Jadi, itu sesuatu yang memang saya berharap ada yang melihat, dan akhirnya hari ini dilihat,” kata Sidharta Tata saat dijumpai awak media di XXI Plaza Senayan, Rabu (11/3/2026).

Ia percaya diri menyebut Ikatan Darah sebagai pure action, karena menghadirkan aksi sebagai elemen utama dengan pendekatan full body action yang dipadukan dengan unsur drama.

2. Belajar dari Iko Uwais, Sidharta Tata terapkan standar Hollywood di Ikatan Darah

potret Sidharta Tata dan Iko Uwais (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Rasanya cukup mengejutkan saat mendengar Sidharta Tata mengaku mengerjakan serial-serial aksi populernya dengan lebih bertumpu pada intuisi. Namun, hal tersebut juga sekaligus menjadi bukti bahwa insting kreatifnya memiliki peran besar dalam membentuk gaya penyutradaraannya selama ini. Ia pun mengakui pengalamannya berkembang ketika menggarap film Ikatan Darah.

“Sebelum saya bekerja bareng Ikatan Darah ini kan saya memang punya beberapa series action, tapi kan apa yang saya kerja kan waktu itu memang berdasarkan intuisi aja. Belum ada pengalamannya” ungkap Sidharta Tata dengan nada serius.

Lewat kolaborasi mereka di film Ikatan Darah, Sidharta Tata mengaku mulai mempelajari berbagai pendekatan teknis dalam pembuatan adegan laga dengan standar aksi ala Hollywood yang ia dapatkan dari Iko Uwais.

“Begitu saya masuk ke Uwais Team, saya diajari bagaimana mempersiapkan pemain, bagaimana mengoptimalkan soal kecepatan, dan mengelola shot demi shot,” lanjutnya.

Selain berbagai aspek teknis dalam produksi adegan aksi, Sidharta Tata juga mengaku mempelajari cara mengelola proses pengambilan gambar secara bertahap yang dilakukan untuk menjaga ritme syuting sekaligus memastikan energi para aktor tidak cepat terkuras saat menjalani adegan laga.

3. Iko Uwais merasa industri film Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata

potret Sidharta Tata dan Iko Uwais di presscon film Ikatan Darah (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Ikatan Darah tayang perdana di bioskop mulai 30 April 2026. Namun sebelum itu, film yang dibintangi oleh Derby Romero ini sudah lebih dulu melakukan world premiere di Fantastic Fest 2025 di Texas, Amerika Serikat.

Sebagai produser eksekutif film Ikatan Darah, Iko Uwais merasa bahwa industri film Indonesia saat ini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh pasar global. Menurutnya, perhatian tersebut muncul karena Indonesia sendiri memiliki kekayaan budaya serta gaya yang berbeda dan tidak dimiliki oleh banyak negara lain.

“Indonesia dilirik sama global karena culture yang mungkin beda buat mereka dan style-style yang mungkin mereka gak punya itu. Jadi memang Asia Tenggara ini, Indonesia spesifiknya kita punya tradisi yang kaya, gayanya yang kaya,” lanjut Iko Uwais yang turut hadir dalam doorstop interview bersama awak media saat itu.

Seiring perkembangan kualitas produksi dan penerapan standar teknis yang semakin baik, Iko pun tak heran kalau film-film Indonesia mulai mendapat tempat di kancah internasional.

Suami Audy Item tersebut juga menegaskan bahwa dalam proses pembuatan film, terutama film aksi, faktor yang paling menentukan bukan semata-mata besarnya anggaran. Lebih dari itu, dibutuhkan keseriusan, kesungguhan, serta komitmen dari seluruh tim produksi.

Editorial Team