Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Soundtrack Film Era 1986 yang Sering Diputar, Kamu Bosan?
The Karate Kid Part II (Dok. Columbia Pictures/The Karate Kid Part II)
  • Tahun 1986 dikenal sebagai masa keemasan film dan soundtrack, namun beberapa lagu dari film populer dianggap kehilangan pesonanya karena terlalu sering diputar atau tidak sekuat lagu lain.
  • Lagu seperti 'Within You', 'Destination Unknown', dan 'Bionic Machine' dinilai kurang berkesan karena tidak mampu menandingi daya tarik utama filmnya atau terasa tidak cocok dengan suasana cerita.
  • 'Scream of Love' dan 'Glory of Love' juga mendapat kritik serupa, dianggap dipaksakan atau terlalu romantis hingga tak lagi mencerminkan kekuatan tema film yang diiringinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tahun 1986 dianggap sebagai salah satu periode terbaik dalam sejarah perfilman. Banyak film ikonik lahir pada tahun tersebut, mulai dari drama olahraga, film aksi, hingga fantasi yang masih dikenang hingga sekarang.

Tak hanya filmnya yang sukses, soundtrack yang menyertainya juga ikut melejit dan menjadi bagian penting dari budaya pop era 1980-an. Namun, tidak semua lagu yang populer mampu bertahan tanpa kehilangan pesonanya.

Uniknya, beberapa soundtrack memang sempat menjadi favorit banyak orang. Namun, karena terlalu sering diputar atau kurang mampu menandingi lagu-lagu lain dalam film yang sama, akhirnya terasa membosankan bagi sebagian penonton.

Berikut lima soundtrack film tahun 1986 yang sering dianggap kurang berkesan dibandingkan dengan reputasi filmnya. Apakah kamu menyetujuinya?

1. “Within You” – Labyrinth (1986)

Labyrinth (dok. Tri Star Pictures/Labyrinth)

Film fantasi Labyrinth memiliki status cult yang sangat kuat berkat dunia magis ciptaan Jim Henson dan penampilan karismatik David Bowie sebagai Raja Goblin, Jareth. Selain berakting, Bowie juga menciptakan sejumlah lagu yang membantu membangun identitas unik film tersebut. Beberapa di antaranya, seperti “Magic Dance” dan “Underground”, masih sangat dicintai hingga sekarang.

Namun, “Within You” sering memunculkan reaksi berbeda dari penonton modern. Lagu ini muncul dalam adegan yang menampilkan hubungan emosional antara Jareth dan Sarah, karakter remaja yang diperankan oleh Jennifer Connelly. Seiring berjalannya waktu, banyak penonton merasa nuansa romantis dalam adegan tersebut terasa agak canggung dan kurang nyaman jika dilihat dari perspektif masa kini.

2. “Destination Unknown” – Top Gun

Top Gun (dok. Paramount Pictures/Top Gun)

Ketika membicarakan soundtrack Top Gun, kebanyakan orang langsung teringat pada “Danger Zone” atau “Take My Breath Away”. Kedua lagu tersebut begitu melekat pada film sehingga menjadi simbol budaya pop selama puluhan tahun. Kesuksesan besar lagu-lagu itu bahkan membantu menjadikan Top Gun salah satu film aksi paling berpengaruh sepanjang masa.

Di tengah soundtrack yang begitu kuat, “Destination Unknown” justru tenggelam dan jarang dianggap sebagai favorit penggemar. Lagu ini muncul pada bagian film yang lebih tenang ketika intensitas aksi menurun, sehingga tidak meninggalkan kesan sebesar lagu-lagu lainnya. Bahkan saat Top Gun: Maverick dirilis puluhan tahun kemudian, lagu ini nyaris tidak mendapat perhatian.

3. “Bionic Machine” – Heartbreak Ridge

Heartbreak Ridge (dok. Warner Bros./Heartbreak Ridge)

Film perang Heartbreak Ridge menampilkan Clint Eastwood sebagai seorang marinir veteran yang harus melatih generasi baru tentara muda. Di balik kisah militernya yang cukup menarik, film ini berusaha memasukkan unsur budaya pop dan gaya hidup anak muda era 1980-an agar terasa lebih relevan bagi penonton saat itu. Sayangnya, tidak semua upaya tersebut berjalan mulus.

“Bionic Machine” menjadi contoh yang paling jelas. Lagu ini terdengar berusaha keras tampil keren dan modern, tetapi justru terasa berlebihan. Nada dan gayanya sering dianggap tidak cocok dengan suasana film yang sebenarnya cukup tradisional sebagai drama militer. Karena sering muncul dalam berbagai kompilasi soundtrack 1980-an, lagu ini kini lebih sering dikenang sebagai bagian yang paling lemah dari film tersebut.

4. “Scream of Love” – Psycho III

Psycho III (dok. Universal Pictures/Psycho III)

Ketika Psycho III dirilis, film ini mencoba membawa warisan franchise horor legendaris ke arah yang sedikit berbeda. Disutradarai langsung oleh Anthony Perkins, pemeran Norman Bates, film ini memiliki pendekatan yang lebih santai dan kadang terasa seperti permainan gelap dengan elemen horor yang sudah dikenal penonton. Banyak kritikus bahkan memuji keberanian Perkins dalam mengembangkan dunia karakter ikonik tersebut.

Sayangnya, soundtrack “Scream of Love” sering dianggap sebagai elemen yang terasa dipaksakan. Lagu ini dimasukkan agar film memiliki peluang lebih besar dipromosikan melalui MTV, sesuatu yang sangat penting pada era tersebut. Meskipun digarap oleh komposer berbakat Carter Burwell, hasil akhirnya terasa kurang menyatu dengan atmosfer mencekam yang selama ini identik dengan seri Psycho.

5. “Glory of Love” – The Karate Kid Part II

The Karate Kid Part II (dok. Columbia Pictures/The Karate Kid Part II)

The Karate Kid Part II melanjutkan kisah Daniel LaRusso dan Mr. Miyagi ke Jepang, menghadirkan konflik baru yang masih berakar pada tema kehormatan dan keluarga. Meski film ini cukup sukses secara komersial dan menampilkan chemistry yang kuat antara Ralph Macchio dan Pat Morita, banyak penggemar merasa sekuelnya terlalu mirip dengan film pertama

Alur ceritanya mengikuti pola yang hampir sama sehingga sulit memberikan kejutan yang benar-benar segar. Hal serupa juga dirasakan pada lagu tema “Glory of Love” yang dibawakan oleh Peter Cetera. Lagu ini memang menjadi hit besar pada masanya, tetapi sering dibandingkan dengan “You’re The Best” dari film pertama yang jauh lebih energik dan membangkitkan semangat.

Nuansa balad romantisnya terasa kurang cocok dengan elemen bela diri yang menjadi daya tarik utama franchise ini. Karena terlalu sering diputar di radio dan berbagai kompilasi lagu cinta era 1980-an, sebagian pendengar kini menganggapnya kehilangan daya tarik awalnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article