Usai melebarkan sayap film Jumbo pada Lebaran tahun lalu, sutradara Ryan Adriandhy kembali bersama sebuah produksi film adaptasi berjudul Na Willa. Film ini merupakan adaptasi dari buku berjudul sama karya Reda Gaudiamo. Di bawah naungan Visinema Studio, Ryan Adriandhy kembali menghidupkan karakter dan dunia anak-anak yang penuh keajaiban.
Cerita Na Willa berangkat dari keseharian seorang anak perempuan bernama Na Willa (Luisa Adreena) yang tinggal di Krembangan, Surabaya, pada tahun 1960-an. Dia merupakan anak perempuan semata wayang dari pasangan Marie (Irma Rihi) dan Paul (Junior Liem), yang dipanggil oleh Willa sebagai Mak dan Pak.
Sebagai anak-anak, tentunya kepala si kecil Na Willa dipenuhi rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Willa, serta teman-temannya, memiliki sudut pandang lain tentang dunia di sekitarnya, sehingga kadang pertanyaan yang muncul bisa di luar ekspektasi. Meskipun begitu, Mak yang sehari-hari bersama Willa, selalu menanggapi isi kepala sang anak dengan sabar.
Di balik jalan ceritanya yang menyenangkan, film ini juga menyampaikan isu-isu sosial lewat representasi para tokohnya. Lantas, siapa tokoh representasi film Na Willa yang menyampaikan isu-isu tersebut sebagai sebuah film keluarga?
Perhatian: Artikel ini mengandung spoiler, ya!
