Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Eloise Bridgerton Jadi Tokoh Bridgerton yang 'Anomali'?
Claudia Jessie sebagai Eloise Bridgerton (netflix.com)
  • Eloise Bridgerton digambarkan sebagai sosok perempuan berani dan mandiri yang menolak norma sosial era Regency, terutama pandangan bahwa perempuan harus menikah demi status.
  • Ia menentang tekanan masyarakat terhadap debutan dan pernikahan, menunjukkan sikap kritis lewat sarkasme terhadap tradisi yang membatasi kebebasan perempuan.
  • Eloise percaya bahwa perempuan pantas memimpin dan mengutamakan pendidikan dibanding kecantikan, menjadikannya simbol feminisme modern dalam serial Bridgerton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Eloise Bridgerton (Claudia Jessie) muncul sebagai tokoh yang dicintai oleh para perempuan karena memiliki karakter berani dalam menyuarakan pendapatnya. Apalagi putri kedua keluarga Bridgerton ini selalu tampak sedang menikmati dunianya sendiri, seperti membaca buku dan berbincang dengan Penelope Bridgerton (Nicola Coughlan), sahabat sekaligus kakak iparnya. 

Meskipun begitu, Eloise justru menjadi karakter anomali alias memiliki karakter tidak umum sebagai perempuan yang hidup di era Regency. Di tengah hiruk-pikuk Kota Mayfair yang sibuk dengan debutan dan pelamar, Eloise menunjukkan kebalikan dari karakter-karakter umum tersebut dalam serial Netflix Bridgerton. Mengapa demikian? 

1. Eloise tidak terlalu memikirkan pernikaha, bahkan tidak mau menikah

Eloise Brigderton dan Penelope Bridgerton (Nicola Coughlan) (netflix.com)

Pada abad ke-19, perempuan masih memiliki batasan-batasan tertentu di masyarakat. Perempuan lahir dan tumbuh untuk menikahi laki-laki yang sesuai dengan kelas-kelas pada saat itu. Bangsawan dengan bangsawan, kelompok pekerja dengan sesamanya, serta para maid dengan orang-orang dalam kelas yang sama.

Namun, Eloise Bridgerton hadir sebagai “lawan” dari budaya tersebut. Dia menjadi representasi perempuan modern dan feminis yang tidak condong terhadap pernikahan. Bahkan, dia sempat menolak untuk tidak didebutkan setelah Daphne menikah. Menurutnya, dia tidak membutuhkan pernikahan, apalagi sampai harus menarik perhatian pelamar-pelamar yang ada. Perbedaan dirinya dengan masyarakat umum inilah yang membuat Eloise menjadi sosok anomali pada masa itu.

2. Eloise tidak suka tuntutan masyarakat yang memaksa perempuan untuk menikah

Eloise Bridgerton (netflix.com)

Meskipun dia telah menolak untuk menikah, Eloise tetap dipaksa untuk maju sebagai debutan. Sayangnya, Eloise tidak memiliki karakter yang cukup elegan untuk memberi kesan bahwa dia adalah calon istri yang tepat menurut penilaian masyarakat pada saat itu.

Setelah muncul sebagai debutan, Eloise justru ogah-ogahan untuk berkeliling kota dan menghadiri pesta-pesta demi menarik perhatian para pelamar. Dalam serial Bridgerton musim kedua, ketika menghadiri sebuah pesta bersama sang ibu, Violet Bridgerton (Ruth Gemmell), Eloise mengeluarkan kalimat sarkasme.

Dia berkata, “Aku seperti anak sapi unggulan, diikat rapi, lalu dipajang seolah siap dilelang.” Kalimat ini menyatakan bahwa kehidupan perempuan tidak jauh dari kehidupan sapi yang dipaksa debut dan “dilelang” kepada para pelamar demi sebuah pernikahan.

3. Eloise beranggapan bahwa perempuan juga pantas memimpin seperti laki-laki

Penelope (kiri) dan Eloise Bridgerton (kanan) (netflix.com)

Sebelum pandangan feminisme hadir dan merambah luas, laki-laki dianggap pantas menjadi seorang pemimpin. Laki-laki dipercaya untuk memimpin dan mengerjakan sesuatu. Bahkan, anggapan itu masih dipercaya hingga hari ini meskipun pandangan feminisme telah berkembang. Namun, Eloise justru mempertanyakan anggapan tersebut.

Dalam serial Bridgerton musim kedua, Eloise mengeluarkan sebuah pertanyaan tentang peran laki-laki sebagai pemimpin: “Aku tidak pernah mengerti bagaimana laki-laki dianggap pantas memimpin, padahal perempuan justru lebih sesuai.”

4. Eloise beranggapan bahwa pendidikan adalah pencapaian lebih baik daripada wajah cantik

Eloise Bridgerton (netflix.com)

Tidak seperti kakaknya, Benedict Bridgerton (Luke Thompson) yang mendalami seni lukis di sebuah sekolah seni, Eloise tidak menerima pendidikan terlepas dari statusnya sebagai bangsawan. Pada era Regency, pendidikan tidak tersedia untuk perempuan. Namun, Eloise mampu memberi dirinya sendiri ilmu lewat buku-buku yang dia baca.

Melalui musim pertama serial Bridgerton, Eloise tidak memandang standar kecantikan sebagai sebuah pencapaian. Apalagi sampai harus mempercantik diri hanya untuk mencari suami. Menurutnya, pencapaian yang baik adalah ketika seseorang dapat berkuliah di universitas dan menerima pendidikan. 

Tokoh Eloise Bridgerton menjadi tokoh yang cukup menarik di antara Bridgerton bersaudara. Tidak hanya gemar membaca buku, Eloise sukses muncul sebagai role model perempuan modern dengan keberaniannya. Meskipun begitu, karakter Eloise yang blak-blakan dianggap tidak lazim sebagai perempuan pada era Regency di serial Bridgerton. Apakah kamu suka atau tidak suka dengan tokoh Eloise ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team