Sejak musim pertamanya, Taxi Driver selalu dikenal sebagai drama yang berani memperlihatkan wajah kejahatan dari berbagai lapisan masyarakat. Rainbow Taxi berhadapan dengan pelaku kekerasan domestik, eksploitasi tenaga kerja, kejahatan korporasi, hingga aparat hukum yang menyalahgunakan wewenang, dan hampir semuanya memiliki pola kejahatan yang masih bisa dilacak secara konvensional. Penonton diajak percaya bahwa selama masih ada bukti, keberanian, dan kemarahan yang terorganisir, keadilan versi Rainbow Taxi masih mungkin ditegakkan.
Namun, semua asumsi itu mulai runtuh di Taxi Driver 3 ketika Kelompok Samheung muncul sebagai musuh utama. Mereka tidak hanya menghadirkan konflik fisik atau emosional, tetapi juga menghadirkan rasa frustasi karena kejahatan yang mereka lakukan seolah tidak memiliki wajah, lokasi, atau bahkan pelaku yang bisa ditunjuk secara jelas. Kelompok ini membuat balas dendam tak lagi sesederhana membalas luka dengan luka, melainkan harus berhadapan dengan sistem yang sudah dirancang agar tidak bisa disentuh. Inilah lima alasan mengapa Kelompok Samheung terasa jauh lebih sulit dibandingkan villain-villain sebelumnya di Taxi Driver 3.
