Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Selama ribuan tahun hidup di dunia manusia, Eun Ho (Kim Hye Yoon) selalu berada pada posisi paling aman, sebagai pengamat sekaligus pengendali dalam cerita drakor No Tail To Tell. Ia memahami manusia, memprediksi reaksi mereka, dan memanipulasi situasi tanpa pernah benar-benar terlibat secara emosional.

Namun kemunculan Kang Shi Yeol (Lomon) mengganggu keseimbangan itu. Tanpa kekuatan supranatural, tanpa kesadaran akan dunia gaib, Shi Yeol justru menjadi sosok yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh Eun Ho. Ada lima alasan utama mengapa Kang Shi Yeol menjadi variabel paling tidak terduga dalam hidup Eun Ho di No Tail To Tell.

1. Manusia rasional yang tak mudah dimanipulasi

still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Kang Shi Yeol adalah tipe manusia yang sepenuhnya percaya pada logika, usaha, dan kendali diri. Ia tidak mudah terpengaruh sugesti, apalagi percaya pada hal-hal irasional yang biasanya menjadi celah bagi Eun Ho untuk mengendalikan manusia.

Sikap skeptis dan rasional ini membuat kekuatan Eun Ho tidak selalu bekerja sebagaimana mestinya. Untuk pertama kalinya, Eun Ho berhadapan dengan manusia yang pikirannya tidak mudah diarahkan, memaksanya keluar dari zona nyaman sebagai pengendali.

2. Ambisi kuat yang menolak tunduk pada siapa pun

still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Berbeda dengan manusia lain yang mudah tergoda kekuasaan atau keuntungan instan, Kang Shi Yeol memiliki ambisi yang lahir dari kerja kerasnya sendiri. Ia menolak jalan pintas dan tidak suka berada di bawah kendali pihak lain.

Ambisi ini membuatnya sulit dipengaruhi, bahkan ketika Eun Ho mencoba mengatur situasi demi keuntungannya. Bagi Eun Ho, sikap ini menjadikan Kang Shi Yeol sebagai anomali, karena manusia biasanya rela tunduk demi keuntungan, sementara Shi Yeol justru melawan.

3. Kehadirannya memicu amarah yang selama ini ditekan Eun Ho

still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Tanpa disadari, Kang Shi Yeol memunculkan amarah yang selama ini sengaja ditekan oleh Eun Ho. Interaksi mereka yang penuh benturan nilai membuat Eun Ho mulai merasakan kemarahan, keterikatan, dan kekhawatiran yang tak bisa ia jelaskan secara rasional.

Emosi-emosi ini menjadi ancaman terbesar bagi Eun Ho, karena keterikatan emosional bisa mengganggu keseimbangan perbuatannya. Di titik ini, Kang Shi Yeol bukan sekadar manusia biasa, melainkan pemicu perubahan internal yang berbahaya.

4. Kehidupan Shi Yeol berada di luar prediksi Eun Ho

still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Sebagai gumiho, Eun Ho terbiasa membaca masa depan dan memperkirakan konsekuensi dari setiap tindakan. Namun, ketika menyangkut Kang Shi Yeol, prediksi tersebut tidak selalu berjalan mulus.

Keputusan Shi Yeol sering kali lahir dari dorongan emosional dan prinsip pribadi, bukan pola rasional yang bisa dipetakan. Ketidakpastian ini membuat Eun Ho kehilangan keunggulan terbesarnya, yakni kemampuan mengendalikan alur kejadian sejak awal.

5. Kang Shi Yeol mengancam prinsip hidup Eun Ho

still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Selama ini Eun Ho berpegang teguh pada keyakinan bahwa menjadi manusia adalah kesalahan. Namun Kang Shi Yeol, dengan segala kelemahan dan tekadnya, justru menunjukkan sisi kemanusiaan yang tak sepenuhnya rapuh.

Sikap bertahan Kang Shi Yeol dalam menghadapi kegagalan dan kehilangan secara perlahan menggoyahkan prinsip hidup Eun Ho. Ancaman ini bukan datang dari kekuatan, melainkan dari kemungkinan bahwa Eun Ho mulai mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Kelima alasan ini menjadikan Kang Shi Yeol sebagai variabel paling berbahaya dalam hidup Eun Ho di No Tail To Tell. Ia bukan ancaman fisik, melainkan gangguan emosional dan ideologis yang merusak sistem hidup Eun Ho yang telah stabil selama ribuan tahun. No Tail To Tell memperlihatkan bagaimana satu manusia biasa mampu menggoyahkan makhluk abadi, bukan dengan kekuatan, tetapi dengan keberanian untuk hidup dan merasakan sepenuhnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team