Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Undercover Miss Hong
still cut drama Korea Undercover Miss Hong (instagram.com/tvn_drama)

Dalam Undercover Miss Hong, perusahaan Hanmin tidak hanya digambarkan sebagai raksasa finansial yang sarat manipulasi saham, tetapi juga sebagai ruang kerja dengan budaya internal yang kaku dan penuh kontrol. Bagi pegawai wanita, terutama yang berada di level bawah, Hanmin menjadi tempat di mana profesionalisme sering kali diartikan secara sempit melalui aturan-aturan yang mengikat tubuh, sikap, dan perilaku.

Melalui sudut pandang Hong Keum Bo (Park Shin Hye) yang menyamar sebagai karyawan baru, penonton diperlihatkan bagaimana regulasi internal ini membentuk relasi kuasa yang timpang. Berikut 5 aturan pegawai wanita di Hanmin yang memperlihatkan betapa kuatnya kontrol institusional dalam Undercover Miss Hong dan mengapa aturan-aturan ini menjadi bagian penting dari kritik sosial drama tersebut.

1. Seragam wajib yang menyeragamkan identitas

Pegawai wanita pemula, baik di kantor pusat maupun cabang, diwajibkan mengenakan seragam yang sama tanpa pengecualian. Aturan ini sekilas tampak praktis dan efisien, tetapi bagi Hong Keum Bo, seragam justru menjadi simbol penyeragaman identitas.

Perempuan di level bawah tidak diberi ruang untuk mengekspresikan kepribadian atau profesionalisme mereka secara individual. Dalam konteks Hanmin, seragam menjadi penanda hierarki yang jelas: siapa yang boleh berbeda dan siapa yang harus patuh.

2. Rambut panjang harus diikat dan ditutup hairnet

Aturan tentang rambut memperlihatkan bagaimana tubuh pegawai wanita diatur hingga ke detail paling personal. Pegawai berambut panjang wajib mengikat rambut dengan rapi dan menutupinya menggunakan hairnet yang sesuai standar perusahaan.

Bagi Hong Keum Bo, aturan ini bukan semata soal kebersihan atau kerapian, melainkan bentuk kontrol visual yang ketat. Rambut, yang sering diasosiasikan dengan identitas dan feminitas, direduksi menjadi objek yang harus disembunyikan demi citra perusahaan.

3. Kewajiban menggunakan stocking dengan ketebalan minimal 30 denier

Hanmin bahkan mengatur jenis dan ketebalan stocking yang harus dikenakan pegawai wanitanya, yakni minimal 30 denier. Aturan ini menegaskan bahwa penampilan perempuan tidak hanya dinilai dari kerapian, tetapi juga dari standar estetika tertentu yang dipaksakan.

Dalam penyamarannya, Hong Keum Bo harus menyesuaikan diri dengan detail kecil ini agar tidak terlihat melanggar norma. Ketentuan tersebut memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan menjadi bagian dari “presentasi korporat” yang dikontrol secara sistematis.

4. Protokol rapat yang wajib dipatuhi

Setiap rapat di Hanmin memiliki protokol ketat yang harus diikuti, terutama oleh pegawai wanita dan karyawan baru. Dari cara duduk, kapan boleh berbicara, hingga ekspresi yang ditampilkan, semuanya diatur secara tidak tertulis tetapi mengikat.

Bagi Hong Keum Bo yang terbiasa bersuara sebagai penyelidik OJK, aturan ini menjadi tantangan besar. Ia harus menahan diri, bersikap pasif, dan mengikuti alur hierarki meski menyadari banyak kejanggalan yang seharusnya dipertanyakan.

5. Kampanye 119 yang mengatur kehidupan sosial

Aturan paling ironis adalah kampanye 119 saat jamuan makan malam perusahaan, yakni buka satu botol minuman keras, minum satu kali, dan selesai sebelum jam 9 malam. Aturan ini diberlakukan dengan dalih menjaga etika dan produktivitas, tetapi pada praktiknya menjadi bentuk kontrol sosial atas pegawai.

Pegawai wanita dituntut hadir dalam kegiatan perusahaan, tetapi tetap harus menjaga citra dan batasan tertentu. Bagi Hong Keum Bo, kampanye ini memperlihatkan bagaimana Hanmin ingin mengatur bahkan kehidupan sosial pegawainya demi kepentingan citra korporat.

Kelima aturan ini menunjukkan bahwa Hanmin bukan sekadar tempat kerja, melainkan sistem yang mengontrol tubuh, perilaku, dan ruang gerak pegawai wanitanya secara menyeluruh. Melalui pengalaman Hong Keum Bo, Undercover Miss Hong memperlihatkan bagaimana aturan-aturan kecil justru menjadi alat kekuasaan yang efektif untuk membungkam dan menundukkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team