Tidak semua drama mampu menutup ceritanya dengan rasa tuntas tanpa terasa dipaksakan, tetapi Spring Fever justru berhasil melakukan itu dengan tenang dan emosional. Ending-nya tidak menawarkan keajaiban instan, melainkan hasil dari perjalanan panjang para karakter yang penuh luka, kesalahan, dan keberanian untuk berubah. Setiap penutup konflik terasa logis karena dibangun dari pilihan-pilihan sulit yang telah mereka ambil sejak awal.
Alih-alih menjejalkan kebahagiaan serba sempurna, Spring Fever memilih akhir yang realistis namun hangat, seolah mengajak penonton bernapas lega setelah ketegangan panjang. Hubungan keluarga, cinta, dan penerimaan diri ditata ulang dengan lebih dewasa. Berikut lima ending ideal yang berhasil disajikan Spring Fever beserta penjelasan mengapa semuanya terasa layak dan bermakna.
