Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am
still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am (instagram.com/tvchosuninsta)

Dalam Don’t Call Me Ma’am, Jo Na Jeong (Kim Hee Seon) menjadi salah satu karakter yang paling banyak menanggung luka, tetapi juga yang paling kuat menunjukkan perjalanan bangkitnya. Setelah enam tahun menjadi ibu rumah tangga tanpa dukungan suami, ia kembali masuk dunia kerja yang keras dan penuh persaingan. Alih-alih disambut dengan apresiasi, Jo Na Jeong justru menghadapi tantangan berlapis yang menguji ketahanan mental, harga diri, dan keyakinannya pada kemampuan sendiri.

Perjuangannya tidak hanya soal bertahan hidup, tetapi juga membangun kembali identitas yang pernah hilang. Ada begitu banyak tembok yang harus ia robohkan sendiri karena orang-orang di sekitarnya lebih sering meremehkan daripada membantu.

Dari dinamika kantor yang kejam hingga hubungan rumah tangga yang dingin, Jo Na Jeong harus berjuang di banyak medan sekaligus. Berikut lima pertarungan terbesar Jo Na Jeong dan bagaimana masing-masing menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupnya.

1. Membuktikan kemampuannya di perusahaan baru

still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am (instagram.com/tvchosuninsta)

Memasuki kembali dunia kerja setelah bertahun-tahun mengurus rumah tangga bukan perkara mudah. Jo Na Jeong harus beradaptasi dengan ritme cepat, standar tinggi, dan tumpukan ekspektasi baru. Ia tahu dirinya tertinggal jauh dari karyawan yang lebih muda, lebih terlatih, dan lebih percaya diri.

Namun, justru dari titik rendah inilah, ia membangun lagi keberanian. Setiap tugas ia kerjakan dengan ketelitian, setiap kritik ia jadikan batu loncatan, dan setiap kegagalan ia olah menjadi pelajaran. Jo Na Jeong berupaya membuktikan bahwa kemampuan seseorang tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertidur menunggu alasan untuk bangkit.

2. Menghadapi mentor yang justru ingin menjatuhkannya

still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am (instagram.com/tvchosuninsta)

Bukannya dibimbing, Jo Na Jeong justru harus menghadapi mentor yang memandangnya sebagai beban dan ancaman. Sang mentor meremehkan pengalamannya sebagai ibu rumah tangga, menganggap Jo Na Jeong tidak kompeten, hingga sengaja menempatkannya pada situasi yang bisa membuatnya gagal.

Dalam kondisi ini, Jo Na Jeong harus bertahan dari tekanan psikologis, sindiran, hingga sabotase halus yang dilakukan di tempat kerja. Meski demikian, ia tidak mundur. Interaksi penuh tensi ini menjadi latihan paling keras bagi kekuatan mentalnya, mengajarkannya bahwa tidak semua orang dewasa bersikap dewasa dan tidak semua mentor layak disebut mentor.

3. Berhadapan dengan peserta magang yang membencinya

still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am (instagram.com/tvchosuninsta)

Selain tekanan dari atasan, Jo Na Jeong juga harus menghadapi sesama peserta magang yang memandangnya sebagai “anomali”. Usia yang berbeda jauh, pengalaman yang dianggap tidak relevan, hingga status sebagai ibu membuatnya menjadi target penilaian negatif. Banyak dari mereka menjauhi, menyindir, bahkan terang-terangan meremehkannya.

Namun perlahan, sikap tenang dan ketekunan Jo Na Jeong mulai mencairkan sebagian dari kebencian itu. Ia menunjukkan bahwa kemampuan bukan soal usia, dan profesionalisme bukan soal siapa yang paling muda atau paling cepat, tetapi siapa yang paling konsisten.

4. Berjuang mendapat pengakuan dari suami yang tak pernah mendukung

still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am (instagram.com/tvchosuninsta)

Pertarungan terbesar Jo Na Jeong sebenarnya terjadi di dalam rumah. Suaminya, Noh Won Bin (Yoon Park), bukan hanya tidak mendukung keinginannya bekerja, tetapi juga menganggap ambisinya sebagai gangguan.

Ia meremehkan kemampuan istrinya, mengabaikan lelah fisiknya, dan tidak menghargai perkembangan yang diraih Jo Na Jeong. Setiap langkah maju yang seharusnya menjadi sumber kebanggaan, justru berubah menjadi bahan pertengkaran.

Di titik ini, Na Jeong berjuang untuk menegaskan bahwa hidupnya tidak boleh dikendalikan oleh orang yang tidak melihat nilainya. Perlahan ia sadar, bahwa untuk berkembang, ia harus memilih dirinya sendiri lebih dulu.

5. Menghadapi keraguan dan trauma masa lalu yang tak pernah hilang

still cut drama Korea Don't Call Me Ma'am (instagram.com/tvchosuninsta)

Di balik kekuatannya, Jo Na Jeong masih membawa banyak luka dari enam tahun pernikahannya yang berat. Ia pernah merasa tidak berguna, tidak diinginkan, dan tidak dihargai. Keraguan yang menumpuk itu sering muncul kembali ketika ia salah melangkah di kantor atau ketika seseorang meremehkannya.

Pertarungan ini adalah yang paling personal, melawan suara kecil di kepalanya sendiri yang mengatakan ia tidak cukup baik. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia belajar menantang suara itu, memberi dirinya ruang untuk bangga, dan memahami bahwa proses penyembuhan membutuhkan kesabaran.

Pada akhirnya, perjalanan Jo Na Jeong dalam Don’t Call Me Ma’am adalah potret nyata dari perempuan yang mencoba membangun ulang hidupnya ketika dunia justru menuntutnya tetap diam. Drama ini menunjukkan bahwa tidak ada pertarungan yang sia-sia selama seseorang terus memilih dirinya sendiri sebagai prioritas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team