Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Intinya sih...

  • Premis utama Kwak Byung Gyun adalah obsesinya pada rekor tak terkalahkan. Kemenangannya di setiap kasus bukan lagi pencapaian profesional, melainkan identitas diri.

  • Bagi Kwak Byung Gyun, pengakuan adalah tujuan akhir. Proses hukum bukan ruang dialog, melainkan alat untuk menekan hingga tersangka menyerah.

  • Kesombongan Kwak Byung Gyun bukan tanpa sebab. Sistem hukum, media, dan opini publik sering kali berdiri di belakangnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kwak Byung Gyun (Jeong Jae Kwang) bukan tipikal antagonis satu dimensi yang hanya hadir untuk membuat tokoh utama menderita. Di drakor Idol I, ia dibangun sebagai jaksa dengan reputasi nyaris sempurna, dingin, sistematis, dan nyaris tak tersentuh kekalahan. Kehadirannya memberi tekanan konstan pada cerita, bukan lewat teriakan atau ancaman terbuka, melainkan melalui keyakinan absolut bahwa sistem selalu berpihak pada orang yang tahu cara memainkannya.

Namun, justru di balik ketenangan dan kepercayaan dirinya, Kwak Byung Gyun menyimpan banyak retakan. Kasus Do Ra Ik (Kim Jae Young) memaksa karakter ini keluar dari zona nyamannya, memperlihatkan premis-premis kepribadian yang selama ini tersembunyi.

Ia bukan sekadar jaksa, melainkan simbol bagaimana kekuasaan hukum bisa berubah menjadi alat penghakiman. Berikut premis karakter Kwak Byung Gyun di Idol I.

1. Jaksa dengan rekor sempurna yang dijadikan identitas

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Premis utama Kwak Byung Gyun adalah obsesinya pada rekor tak terkalahkan. Kemenangannya di setiap kasus bukan lagi pencapaian profesional, melainkan identitas diri.

Ia mendefinisikan eksistensinya melalui statistik dan vonis. Ketika seseorang telah ditetapkan sebagai tersangka olehnya, itu berarti akhir, bukan awal pencarian kebenaran.

2. Keyakinan bahwa pengakuan lebih penting daripada kebenaran

still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Bagi Kwak Byung Gyun, pengakuan adalah tujuan akhir. Proses hukum bukan ruang dialog, melainkan alat untuk menekan hingga tersangka menyerah.

Premis ini membuatnya sering mengabaikan keraguan kecil, detail ganjil, atau fakta yang tidak sejalan dengan asumsi awal. Selama pengakuan bisa didapatkan, ia menganggap keadilan telah ditegakkan.

3. Arogansi yang lahir dari sistem yang selalu mendukungnya

still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Kesombongan Kwak Byung Gyun bukan tanpa sebab. Sistem hukum, media, dan opini publik sering kali berdiri di belakangnya.

Ia terbiasa dipuji sebagai jaksa teladan, membuatnya percaya bahwa intuisi pribadinya setara dengan kebenaran objektif. Arogansi ini menjadi premis penting yang perlahan menjerumuskannya dalam kasus Do Ra Ik.

4. Ketakutan tersembunyi terhadap kekalahan

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Di balik sikap dinginnya, Kwak Byung Gyun sebenarnya takut kalah. Kekalahan bukan hanya soal kehilangan kasus, tetapi runtuhnya citra yang ia bangun bertahun-tahun.

Ketakutan ini membuatnya defensif, emosional, dan terkadang bertindak di luar prosedur. Ia tidak sedang mengejar keadilan, melainkan berusaha mempertahankan reputasi.

5. Representasi hukum yang berubah menjadi penghakiman

still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Premis terpenting dari karakter Kwak Byung Gyun adalah posisinya sebagai simbol. Ia merepresentasikan hukum yang kehilangan empati, hukum yang lebih percaya pada asumsi daripada manusia. Dalam Idol I, ia bukan sekadar lawan Do Ra Ik, melainkan cerminan sistem yang bisa menghancurkan seseorang bahkan sebelum kebenaran terungkap.

Kwak Byung Gyun membuat Idol I terasa jauh lebih kelam dan realistis. Karakternya menunjukkan bahwa bahaya terbesar dalam sistem hukum bukanlah kurangnya aturan, melainkan manusia yang terlalu yakin bahwa dirinya selalu benar. Dan ketika keyakinan itu mulai runtuh, yang tersisa hanyalah ketakutan akan kehilangan kendali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorInaf Mei