Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cuplikan drama Korea The Art of Sarah
Cuplikan drama Korea The Art of Sarah (dok. Netflix/The Art of Sarah)

The Art of Sarah menceritakan studi kasus ekstrem soal branding. Melalui karakter Sarah Kim (Shin Hae Sun), drama ini memperlihatkan bagaimana sebuah merek mewah bisa dibangun bukan dari kualitas produksi, melainkan dari narasi, persepsi, dan psikologi konsumen.

Bagi praktisi marketing, apa yang dilakukan Sarah Kim mungkin terasa “tidak etis”. Namun di sisi lain, taktiknya justru menunjukkan bagaimana sistem luxury bekerja di dunia nyata. Inilah lima strategi marketing Sarah Kim yang terlihat curang, tapi terbukti efektif mengangkat Boudoir ke jajaran merek mewah.

1. Storytelling sebagai fondasi merek

Cuplikan drama Korea The Art of Sarah (dok. Netflix/The Art of Sarah)

Fondasi merek Boudoir yang dibentuk Sarah Kim melalui storytelling adalah sejarahnya sebagai merek pemasok tas keluarga Kerajaan Inggris. Bahkan, ada omongan kalau Boudoir adalah merek yang sudah bertahan selama ratusan tahun.

Dalam dunia branding, konsumen jarang membeli fakta. Mereka membeli makna, dan Sarah Kim berhasil menyampaikan makna ini secara tidak langsung. Ia tidak mengklaim, tapi orang-orang yang menyebarkannya dari mulut ke mulut.

2. Ilusi eksklusivitas lewat keterbatasan

Cuplikan drama Korea The Art of Sarah (dok. Netflix/The Art of Sarah)

Boudoir tidak diposisikan sebagai merek yang mudah dijangkau. Sarah Kim baru membangun merek ini, tapi karena orang-orang menganggapnya Boudoir hanya dibeli oleh 0,1 persen orang teratas, maka keterbatasan itu justru jadi eksklusivitas.

Strategi ini menciptakan kesan bahwa Boudoir bukan untuk semua orang. Semakin sulit didapatkan, semakin besar keinginan konsumen untuk memilikinya. Kelangkaan menjadi alat pemasaran utama.

3. Otoritas palsu untuk membangun legitimasi

Cuplikan drama Korea The Art of Sarah (dok. Netflix/The Art of Sarah)

Sarah Kim menanamkan klaim bahwa Boudoir memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Inggris dan sertifikasi tertentu. Meski kebenarannya tidak pernah diverifikasi secara terbuka, klaim ini cukup untuk membangun otoritas simbolik.

Dalam marketing, legitimasi sering kali tidak membutuhkan bukti mutlak. Asalkan semua cukup terdengar masuk akal dan diucapkan oleh pihak yang dianggap “berwenang”, maka keyakinan dari orang-orang itu akan muncul dengan sendirinya.

4. Detail visual jadi bukti keaslian

Cuplikan drama Korea The Art of Sarah (dok. Netflix/The Art of Sarah)

Boudoir mungkin diproduksi di Sinwol-dong, tetapi detail kecil seperti handle tas yang dipasang di Inggris menjadi pembenaran status “impor”. Bagi konsumen, detail visual dan administratif ini sudah cukup menjadi bukti keaslian.

Sarah Kim paham bahwa dalam luxury branding, detail kecil sering kali lebih dipercaya daripada cerita besar di balik produksi. Orang-orang tak peduli detail tas, yang mereka pedulikan adalah fakta barang ini berasal dari Inggris.

5. Harga tinggi sebagai alat positioning

Cuplikan drama Korea The Art of Sarah (dok. Netflix/The Art of Sarah)

Harga Boudoir yang fantastis bukan hambatan, melainkan strategi. Harga tinggi menegaskan posisi Boudoir sebagai merek kelas atas sekaligus menyaring target pasar.

Semakin mahal harganya, semakin kuat persepsi nilai dan status yang melekat. Dalam logika luxury, harga adalah simbol kelas sosial yang tak terelakkan.

Melalui Boudoir, Sarah Kim menunjukkan bahwa branding adalah soal persepsi yang berhasil ditanamkan. Taktik marketing di The Art of Sarah ini tampak curang, tapi justru mencerminkan praktik dunia nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team