Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cuplikan drama Korea Idol I
Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

Di awal Idol I, Maeng Se Na (Choi Soo Young) hadir sebagai sosok yang nyaris tak tersentuh. Ia dingin dan jaga jarak dengan orang lain, baik sebagai pengacara maupun sebagai manusia. Se Na tidak tertarik pada empati, apalagi keadilan.

Namun seiring cerita berjalan, perlahan terungkap bahwa sikap keras itu bukan bawaan. Di balik wajah tenang dan profesionalnya, ada masa lalu kelam yang membentuknya, dan justru dari luka itulah perubahan Se Na dimulai.

Inilah tujuh character development Maeng Se Na yang menghangatkan di Idol I. Bikin hati lega!

1. Sejak SMA, Maeng Se Na hidup sebatang kara, tanpa perlindungan yang membuatnya menderita sendirian. Namun, musik-lah yang membuatnya perlahan sembuh

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

2. Namun, hal itu bikin Se Na jadi dingin dan jaga jarak pada orang lain. Ia nyaman dengan kesendirian, memikul penderitaan seorang diri

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

3. Ia akhirnya sukses menjadi pengacara. Bukan demi keadilan, tapi demi rasa aman yang hanya bisa dibeli dengan uang

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

4. Sebagai pengacara, Se Na tak ragu membela klien yang jelas salah. Selama ia bisa memelintir fakta dan memenangkan kasus, kebenaran tak lagi penting

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

5. Saat menangani kasus Ra Ik, Se Na mulai teringat betapa kejamnya fitnah, sebagaimana apa yang terjadi pada kasus ayahnya sendiri

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

6. Sejak itu, Se Na perlahan berubah. Ia tak lagi cuek dan sinis, mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya, mendengarkan, dan peduli

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

7. Jika dulu Se Na menutup identitasnya sebagai idol demi bertahan, kini ia memilih jujur. Ia tak lagi bersembunyi di balik peran atau status

Cuplikan drama Korea Idol I (dok. ENA/Idol I)

Perkembangan Maeng Se Na di ending Idol I bukan tentang perubahan drastis, melainkan keberanian untuk merasa lagi. Dari seseorang yang hidup hanya untuk menang, ia menjadi seseorang yang memilih untuk peduli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team