Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Kasus Lee Woo Gyeom (Ryeo Un) di drakor Bloody Flower sejak awal terasa seperti vonis yang tinggal menunggu waktu. Dengan 17 korban jiwa, pengakuan terbuka, dan bukti fisik yang ditemukan jaksa, publik nyaris sepakat bahwa hukuman mati adalah akhir yang pantas untuknya.

Namun, ruang sidang tidak selalu berjalan sejalan dengan opini publik. Dalam sistem hukum, sekecil apa pun celah bisa mengubah arah putusan secara drastis. Berikut lima celah hukum yang berpotensi menyelamatkan Lee Woo Gyeom di Bloody Flower, jika tim pembelanya mampu memaksimalkan setiap detailnya.

1. Tidak ada bukti langsung tindakan pembunuhan

still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Meski Lee Woo Gyeom mengaku membunuh para korban, tidak ada rekaman atau saksi mata yang secara langsung melihatnya melakukan tindakan tersebut. Banyak bukti bersifat tidak langsung dan bergantung pada pengakuannya sendiri. Dalam hukum pidana, ketiadaan bukti langsung bisa menjadi pintu masuk untuk meragukan konstruksi dakwaan.

Tim pembela dapat berargumen bahwa pengakuan tanpa dukungan bukti konkret tidak cukup kuat untuk menjatuhkan hukuman mati. Jika ada celah dalam rantai pembuktian, maka keraguan sedikit saja dapat berpihak pada terdakwa.

2. Lemahnya unsur mens rea

still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Salah satu elemen penting dalam pembunuhan adalah niat jahat atau mens rea. Woo Gyeom konsisten menyatakan bahwa tujuannya bukan untuk membunuh, melainkan untuk menciptakan terapi medis dari darah mutannya. Ia mengklaim bahwa kematian korban adalah bagian dari eksperimen demi menyelamatkan pasien lain.

Jika tim pembela mampu membuktikan bahwa motifnya bukan kebencian atau keuntungan pribadi, melainkan keyakinan ilmiah, maka unsur niat jahat bisa diperdebatkan. Perdebatan tentang intensi ini dapat menggeser dakwaan dari pembunuhan berencana menjadi bentuk kelalaian atau pelanggaran etik medis. Dalam konteks hukuman mati, pergeseran klasifikasi ini sangat krusial.

3. Status para korban sebagai mantan narapidana

still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Semua korban yang disebut dalam kasus ini adalah mantan narapidana. Meski fakta ini tidak membenarkan tindakan pembunuhan, pembela bisa memanfaatkan konteks tersebut untuk membangun narasi bahwa korban direkrut dengan kesadaran tertentu. Ada kemungkinan bahwa sebagian dari mereka mengetahui risiko yang akan dihadapi.

Jika terbukti ada persetujuan atau pemahaman risiko dari pihak korban, maka unsur paksaan bisa dipertanyakan. Dalam hukum medis, persetujuan tindakan menjadi aspek penting. Celah ini dapat memperumit penilaian apakah Woo Gyeom bertindak sepenuhnya sepihak atau dalam situasi yang lebih kompleks.

4. Potensi manfaat medis yang terbukti

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Beberapa pasien dikabarkan menunjukkan perbaikan kondisi setelah menerima terapi berbasis darah mutan Woo Gyeom. Rekam medis dan kesaksian pasien bisa menjadi bukti bahwa eksperimennya tidak sepenuhnya gagal atau fiktif. Fakta ini membuka ruang argumentasi bahwa tindakannya memiliki tujuan penyelamatan nyawa.

Jika manfaat medis dapat dibuktikan secara objektif, pembela bisa meminta pertimbangan khusus dari hakim. Hukuman mati sering kali mempertimbangkan dampak sosial dan potensi rehabilitasi. Dalam situasi ini, Woo Gyeom dapat diposisikan sebagai ilmuwan yang melanggar hukum, bukan sekadar pembunuh tanpa nilai.

5. Pengakuan yang terlalu mudah dan terlalu sempurna

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Woo Gyeom mengakui jumlah korban, lokasi jenazah, hingga detail eksperimen dengan ketenangan yang mencurigakan. Dalam beberapa kasus hukum, pengakuan yang terlalu rapi justru menimbulkan pertanyaan tentang kondisi psikologis atau tekanan saat interogasi. Pembela dapat mengeksplorasi kemungkinan gangguan mental atau motivasi tersembunyi di balik pengakuan tersebut.

Jika kondisi mentalnya dipertanyakan secara sah, maka kapasitas pertanggungjawaban pidananya bisa diuji. Pemeriksaan forensik psikiatri dapat membuka peluang untuk mengurangi hukuman. Dalam kasus hukuman mati, isu kesehatan mental sering menjadi faktor penentu yang signifikan.

Pada akhirnya, nasib Lee Woo Gyeom di Bloody Flower tidak hanya ditentukan oleh seberapa berat kejahatannya, tetapi juga oleh seberapa cermat hukum membaca setiap celah yang ada. Drama ini dengan cerdas menunjukkan bahwa ruang sidang bukan hanya arena penghakiman, melainkan medan strategi yang menuntut ketelitian dan ketahanan mental dari semua pihak. Jika satu saja dari celah hukum itu terbukti kuat, maka arah akhir kisah Lee Woo Gyeom di Bloody Flower bisa berubah drastis dan mengguncang seluruh fondasi konflik yang telah dibangun sejak awal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team