Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cuplikan drama Korea Love Me
Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

Seo Jun Kyung (Seo Hyun Jin) di Love Me merupakan potret banyak perempuan dewasa di dunia nyata. Ia kesepian, tapi juga hidup dalam rasa bersalah dan trauma yang tertanam sejak lama. Kehilangan ibunya, jarak dengan keluarganya, dan ketakutan untuk mencintai lagi membuatnya selalu mempertanyakan haknya sendiri untuk bahagia.

Di Love Me, drama ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dengan mudah. Apalagi, bagi mereka yang telah terbiasa hidup dalam rasa kehilangan dan kesepian. Yuk, simak tujuh hal yang membuat Jun Kyung merasa tidak layak bahagia berikut ini. Relate banget!

1. Jun Kyung merasa kecelakaan ibunya terjadi karena dirinya. Setiap momen bahagia terasa seperti pengkhianatan pada memori ibunya

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

2. Beban ini membuatnya sulit membuka hati pada hal-hal yang seharusnya membawa sukacita, termasuk cinta baru bersama kekasihnya, Do Hyun

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

3. Teman-temannya sudah menikah dan memiliki anak, sehingga Jun Kyung merasa hidupnya berbeda dan tertinggal

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

4. Kesepian ini membuatnya mempertanyakan apakah ia benar-benar layak mendapatkan kebahagiaan yang tampak dimiliki orang lain

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

5. Jun Kyung merasa rapuh saat mulai membuka diri kepada Do Hyun. Kebiasaannya adalah selalu kabur dari kenyataan, membuat hubungan mereka lemah

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

6. Ketika mengetahui Do Hyun memiliki anak dari hubungan sebelumnya, ia merasa tak bisa bersaing dengan masa lalu yang sudah lama ada

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

7. Terlebih, Jun Kyung merasa menikmati kebahagiaan terlalu cepat adalah mengkhianati proses duka yang sedang ia jalani

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

Jun Kyung di Love Me mengajarkan kita bahwa trauma, rasa bersalah, dan kehilangan bisa menjadi penghalang untuk menerima cinta dan kebahagiaan. Langkah kecil untuk berdamai dengan diri sendiri adalah awal dari kebahagiaan yang sejati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team