Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cuplikan drama Korea Love Me
Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

Di tahap hubungan yang semakin serius, keraguan Seo Jun Kyung (Seo Hyun Jin) di Love Me terhadap pernikahan bukan muncul karena kurangnya cinta. Justru sebaliknya, Jun Kyung mencintai Ju Do Hyun, tetapi ia terlalu sadar akan dirinya sendiri yang terlalu penuh batas.

Dalam Love Me, keraguan Jun Kyung terasa dekat dengan banyak perempuan dewasa yang tidak lagi memandang pernikahan sebagai akhir bahagia, melainkan awal dari tanggung jawab yang tidak bisa diulang. Inilah tujuh keraguan Seo Jun Kyung terhadap pernikahan di Love Me. Dijamin bikin relate!

1. Jun Kyung tidak percaya diri menghadapi krisis yang mungkin terjadi saat mereka sudah menikah. Semua bisa saja terjadi tanpa terduga

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

2. Menghadapi masalah yang terlihat saja sudah cukup berat untuk dihadapi. Ia takut jika suatu hari muncul kemalangan, dirinya justru akan menyerah

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

3. Ia mengenal pola dirinya sendiri. Jika di setiap situasi menjadi terlalu emosional atau menyakitkan, ia memilih menghindar

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

4. Bagi Jun Kyung, pernikahan bukan sekadar kelanjutan cinta, tetapi sebuah komitmen besar yang "tidak boleh gagal"

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

5. Ia merasa belum siap menikah, secara mental, emosional, dan situasional. Padahal, hidup dan pernikahan tidak pernah datang dalam kondisi sempurna

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

6. Alih-alih membayangkan kebahagiaan, Jun Kyung justru sibuk memikirkan kemungkinan terburuk. Semua skenario negatif ia hitung sedemikian rupa!

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

7. Jun Kyung adalah tipe orang pintar tapi pesimis, merasa sudah tahu bagaimana semuanya akan berakhir

Cuplikan drama Korea Love Me (dok. JTBC/Love Me)

Keraguan Seo Jun Kyung di Love Me terhadap pernikahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan cermin dari ketakutan yang sangat manusiawi. Ia tidak takut menikah, tetapi takut tidak cukup kuat untuk bertahan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team