Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Idol I
still cut drama Korea Idol I (youtube.com/@Studio_Genie)

Intinya sih...

  • Kasus hukum hanya alat, bukan tujuan utama cerita

  • Sorotan utama pada penghakiman massal

  • Kritik terhadap budaya fandom dan industri hiburan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sekilas, Idol I tampak seperti drakor hukum klasik. Ada kasus pembunuhan, ruang sidang, jaksa ambisius, serta pengacara jenius yang membela kliennya. Semua elemen itu hadir dan bekerja sebagaimana mestinya. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin terasa bahwa hukum bukanlah pusat utama drama ini. Ia hanya kerangka. Yang benar-benar disorot Idol I adalah manusia dan masyarakat di sekeliling hukum itu sendiri.

Alih-alih mengajak penonton menebak pelaku atau merayakan kecerdikan argumentasi hukum, Idol I justru menelanjangi bagaimana sistem sosial bekerja, bagaimana opini publik dibentuk, bagaimana kekuasaan media memengaruhi kebenaran, dan bagaimana individu bisa dihancurkan secara kolektif tanpa pernah benar-benar diadili. Di titik inilah Idol I lebih tepat disebut sebagai drama sosial. Berikut beberapa alasan mengapa Idol I melampaui genre drama hukum konvensional, sehingga lebih tepat disebut drama sosial daripada hukum.

1. Kasus hukum hanya alat, bukan tujuan utama cerita

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Dalam drama hukum pada umumnya, pertanyaan utama adalah “siapa pelakunya?” atau “bagaimana memenangkan persidangan?”. Namun, Idol I tidak menjadikan pembunuhan Kang Woo Seong (An Woo Yeon) sebagai teka-teki utama.

Sejak awal, fokusnya bukan pada teknik investigasi yang canggih, melainkan pada dampak sosial dari tuduhan itu sendiri. Kasus hukum berfungsi sebagai pemicu untuk membongkar ketimpangan relasi kuasa antara idol, publik, media, dan aparat hukum.

2. Sorotan utama pada penghakiman massal

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Salah satu tema terkuat Idol I adalah penghakiman massal. Do Ra Ik (Kim Jae Young) dihukum lebih dulu oleh publik bahkan sebelum proses hukum berjalan. Media membentuk narasi, netizen memperkuat stigma, dan industri hiburan memilih menjauh demi menyelamatkan citra.

Drama ini dengan jelas menunjukkan bahwa vonis sosial sering kali jauh lebih cepat dan lebih kejam daripada vonis hukum. Inilah ciri khas drama sosial, menyoroti perilaku kolektif masyarakat, bukan sekadar konflik individu.

3. Kritik terhadap budaya fandom dan industri hiburan

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Idol I juga berdiri sebagai kritik tajam terhadap budaya fandom obsesif dan industri hiburan yang eksploitatif. Tekanan sasaeng, hilangnya privasi, hingga normalisasi kekerasan psikologis terhadap idol ditampilkan sebagai masalah struktural, bukan insiden terpisah.

Dunia K-Pop dalam drama ini bukan latar glamor, melainkan sistem sosial yang membentuk trauma. Pendekatan ini menjauhkan Idol I dari drama hukum murni dan mendekatkannya pada kritik sosial.

4. Karakter dibentuk oleh lingkungan sosial

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Baik Do Ra Ik, Maeng Se Na (Sooyoung) maupun Kwak Byung Gyun (Jeong Jae Kwang) tidak berdiri sebagai karakter otonom sepenuhnya. Mereka adalah produk lingkungan sosial masing-masing.

Do Ra Ik adalah korban sistem popularitas, Maeng Se Na terjebak antara profesionalisme dan loyalitas emosional, sementara Kwak Byung Gyun adalah refleksi aparat yang dibentuk oleh budaya kemenangan dan ego. Drama ini tidak menyederhanakan konflik menjadi baik versus jahat, melainkan memperlihatkan bagaimana struktur sosial membentuk pilihan individu.

5. Hukum digambarkan rentan terhadap tekanan sosial

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Dalam Idol I, hukum tidak pernah tampil sebagai institusi yang netral dan steril. Ia mudah goyah oleh opini publik, kepentingan media, dan tekanan politik.

Penyidikan yang bias, asumsi yang dijadikan bukti, serta pengabaian fakta objektif menunjukkan bahwa hukum adalah bagian dari sistem sosial yang cacat. Fokus pada kerentanan ini menegaskan bahwa yang dikritik bukan hanya individu jaksa atau polisi, tetapi sistem yang membiarkan ketidakadilan terjadi.

6. Konflik psikologis lebih dominan daripada strategi hukum

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Ketegangan utama Idol I tidak lahir dari adu argumen di ruang sidang, melainkan dari konflik batin para karakternya. Serangan panik Do Ra Ik, keraguan Maeng Se Na terhadap motifnya sendiri, serta kegamangan Kwak Byung Gyun dalam menuduh seseorang menjadi inti emosional cerita.

Drama hukum biasanya merayakan kepastian dan kecerdikan logika. Idol I justru menyoroti ketidakpastian, ketakutan, dan kelelahan mental, ciri khas drama sosial yang berfokus pada kondisi manusia.

7. Pesan utama tentang tanggung jawab kolektif

still cut drama Korea Idol I (instagram.com/channel.ena.d)

Pada akhirnya, Idol I tidak hanya bertanya siapa yang bersalah, tetapi siapa yang bertanggung jawab. Apakah hanya pelaku kejahatan? Atau juga media yang menggiring opini, publik yang menghakimi tanpa bukti, industri yang lepas tangan, dan sistem hukum yang tunduk pada tekanan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat Idol I terasa relevan dengan realitas sosial saat ini.

Kesimpulannya, Idol I menggunakan hukum sebagai pintu masuk untuk membahas isu yang jauh lebih luas, kekuasaan sosial, penghakiman massal, dan rapuhnya manusia di tengah sistem yang kejam. Ia tidak menawarkan kepuasan instan ala drama hukum konvensional, melainkan ketidaknyamanan yang memaksa penonton bercermin. Karena itulah, Idol I lebih tepat disebut sebagai drama sosial yang menyamar dalam balutan drama hukum.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorInaf Mei