Sekilas, Idol I tampak seperti drakor hukum klasik. Ada kasus pembunuhan, ruang sidang, jaksa ambisius, serta pengacara jenius yang membela kliennya. Semua elemen itu hadir dan bekerja sebagaimana mestinya. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin terasa bahwa hukum bukanlah pusat utama drama ini. Ia hanya kerangka. Yang benar-benar disorot Idol I adalah manusia dan masyarakat di sekeliling hukum itu sendiri.
Alih-alih mengajak penonton menebak pelaku atau merayakan kecerdikan argumentasi hukum, Idol I justru menelanjangi bagaimana sistem sosial bekerja, bagaimana opini publik dibentuk, bagaimana kekuasaan media memengaruhi kebenaran, dan bagaimana individu bisa dihancurkan secara kolektif tanpa pernah benar-benar diadili. Di titik inilah Idol I lebih tepat disebut sebagai drama sosial. Berikut beberapa alasan mengapa Idol I melampaui genre drama hukum konvensional, sehingga lebih tepat disebut drama sosial daripada hukum.
