Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review The Shrine, Film Horor Terbaru Jaejoong, Penerus The Wailing?
The Shrine (dok. BY4M Studio/The Shrine)
  • The Shrine memadukan elemen horor Korea dan Jepang dengan latar Kobe yang autentik, menghadirkan kisah hilangnya mahasiswa dan misteri spiritual lintas budaya.
  • Paruh awal film berhasil membangun atmosfer mencekam, namun naskah di bagian akhir melemah karena alur mudah ditebak dan eksplorasi shamanisme kurang mendalam.
  • Meskipun tidak sekuat The Wailing atau Exhuma, film ini tetap menarik lewat visual, nuansa lokal, serta penampilan solid Kim Jaejoong sebagai shaman Myung Jin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Penggemar film horor Asia? Kabar baik, karena film terbaru yang dibintangi Kim Jaejoong, The Shrine (2026), bakal meramaikan bioskop Indonesia. Memadukan shamanisme Korea, legenda urban Jepang, hingga berbagai kepercayaan spiritual lintas budaya, film ini mencoba menghadirkan pengalaman horor yang berbeda dari kebanyakan film supranatural.

Disutradarai dengan latar pedesaan Kobe yang sunyi dan misterius, The Shrine sempat mencuri perhatian karena disebut-sebut mengingatkan penonton pada The Wailing (2016) dan Exhuma (2024). Namun, benarkah film ini mampu mengikuti jejak dua horor Korea modern tersebut? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sinopsis The Shrine (2026)

Kisah bermula ketika tiga mahasiswa pertukaran internasional menghilang secara misterius usai mengunjungi sebuah kuil terbengkalai di Kobe, Jepang. Hilangnya mereka memicu kepanikan sekaligus membuka tabir legenda kuno tentang kamikakushi, istilah Jepang yang merujuk pada seseorang yang "dibawa pergi oleh roh atau dewa".

Kasus tersebut kemudian menarik perhatian Myung Jin (Kim Jaejoong), seorang shaman asal Korea yang memiliki kemampuan spiritual. Bersama Yu Mi (Kong Seong Ha), junior yang meminta bantuannya, Myung Jin berusaha mengungkap penyebab hilangnya para mahasiswa.

Namun semakin jauh penyelidikan dilakukan, semakin banyak kejadian supranatural yang sulit dijelaskan secara logika. Mereka pun harus berhadapan dengan kekuatan jahat yang melibatkan berbagai ritual, kepercayaan, hingga entitas misterius yang mengancam nyawa.

The Shrine
2026
2.5/5
Directed by Kumakiri Kazuyoshi
ProducerLee Eun-Kyoung
WriterChoi Deuk-ryoung, Namiko So
Age RatingR13
GenreHorror, mystery
Duration96 Minutes
Release Date10 Juli
ThemeJapanese horror, supernatural horror, occultism, Korean shamanism
Production HouseBY4M Studio
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastKim Jae Joong, Kong Seong Ha, Hana Kino, Ko Yoon Joon

Trailer The Shrine (2026)

1. Horor Jepang-Korea yang efektif, setidaknya hingga pertengahan film

Hal paling menarik dari The Shrine adalah keberaniannya mengawinkan dua tradisi horor Asia yang sama-sama kuat. Di satu sisi, film ini memanfaatkan atmosfer sunyi khas horor Jepang melalui kuil tua, desa terpencil, dan konsep kamikakushi. Di sisi lain, hadir unsur perdukunan Korea yang menjadi senjata utama Myung Jin dalam menghadapi roh jahat.

Menariknya lagi, film ini tak berhenti di sana. Ceritanya juga menyisipkan unsur kepercayaan lain, salah satunya adalah Rakshasa dalam mitologi Hindu. Perpaduan berbagai tradisi spiritual tersebut membuat dunia yang dibangun terasa cukup unik, apalagi sekitar 90 persen kru produksinya merupakan sineas Jepang sehingga nuansa lokal Kobe benar-benar terasa autentik.

Paruh pertama film berhasil memanfaatkan kombinasi itu dengan cukup efektif. Atmosfer mencekam perlahan dibangun melalui ruang-ruang kosong, ritual yang asing, hingga misteri hilangnya para mahasiswa. Rasa penasaran penonton terus dipancing tanpa harus mengandalkan jumpscare murahan.

2. Ambience sudah mendukung, tapi naskah kurang greget

Sayangnya, atmosfer ngeri yang sudah dibangun perlahan mulai runtuh ketika cerita memasuki babak kedua. Alih-alih semakin kompleks, The Shrine justru kehilangan arah dan plotnya terasa terlalu gampang ditebak.

Konsep shamanisme yang semula menjanjikan ternyata tidak pernah digali sedalam Exhuma. Begitu pula misteri yang dibangun sejak awal tidak memiliki lapisan naratif sekuat The Wailing. Film ini seperti ingin menjadi banyak hal sekaligus, mulai dari horor supranatural, misteri investigasi, hingga drama romantis, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar dikembangkan secara maksimal.

Akibatnya, alurnya terasa generik. Identitas tokoh antagonis maupun arah konfliknya mudah ditebak jauh sebelum terungkap. Bahkan twist di akhir film gagal memberikan kejutan berarti karena fondasi ceritanya sendiri sudah terlanjur rapuh.

Beberapa adegan juga terasa dipenuhi dialog eksposisi yang menjelaskan berbagai hal secara langsung. Bukannya menambah ketegangan, hal tersebut justru memperlambat ritme cerita di 30 menit terakhir.

3. Apakah The Shrine recommended untuk ditonton?

Tergantung ekspektasimu. Kalau kamu datang berharap mendapat pengalaman sinematik sekelas The Wailing atau Exhuma, kemungkinan besar kamu akan pulang dengan rasa kecewa. Misterinya tidak serumit itu, unsur shamanismenya juga tidak sedalam yang dipromosikan.

Namun, The Shrine masih menawarkan beberapa hal yang layak diapresiasi. Atmosfer di awal film cukup efektif, latar Jepang terasa autentik, dan perpaduan budaya Korea-Jepang memberikan warna yang jarang ditemui di film horor Asia. Jaejoong juga tampil cukup solid sebagai Myung Jin, meski sayangnya kualitas naskah membuat karakternya tidak berkembang secara maksimal.

Pada akhirnya, The Shrine adalah film dengan premis menarik yang gagal memaksimalkan potensinya. Film ini sukses menciptakan rasa penasaran di awal, tetapi kehilangan tenaga ketika penonton mulai membutuhkan jawaban. Bagi pencinta horor Asia, The Shrine masih layak dicoba. Hanya saja, jangan anggap kalau film ini adalah penerus The Wailing.

Curated For You

Editorial Team

Related Article