Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review We, Everyday, Film Terakhir Kim Sae Ron Bersama Lee Chae Min
We, Everyday (dok. The Big Picture/We, Everyday)

Apa jadinya jika sahabat masa kecilmu tiba-tiba menyatakan cinta? Itulah yang terjadi di We, Everyday (2026), film teen romance adaptasi Webtoon "Everyday We Are." Film terakhir yang dibintangi mendiang Kim Sae Ron ini sekaligus menjadi debut layar lebar aktor Lee Chae Min.

Setelah sempat tertunda bertahun-tahun akibat kontroversi menyetir dalam kondisi mabuk yang menimpa Sae Ron, film ini akhirnya dirilis sekaligus menjadi persembahan terakhir sang aktris sebelum meninggal dunia. Lalu, apakah We, Everyday mampu menghadirkan kisah cinta remaja yang berkesan? Berikut ulasannya!

Sinopsis We, Everyday (2026)

We, Everyday menceritakan kisah tiga sahabat: Yeo Wool (Kim Sae Ron), Ho Soo (Lee Chae Min), dan Joon Yeon (Yuju, eks Cherry Bullet). Mereka tumbuh bersama dan memiliki kesamaan hobi, yaitu bermain basket.

Namun saat masuk SMA, kehidupan mereka mulai berubah. Ketiganya perlahan menemukan impian dan jalan hidup yang berbeda, membuat hubungan mereka tak lagi sesederhana saat masih kecil.

Situasi menjadi semakin rumit ketika benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, memunculkan konflik yang menguji persahabatan mereka. Ketiganya pun harus belajar jujur terhadap perasaan masing-masing agar hubungan yang sudah terjalin sejak kecil tidak hancur begitu saja.

We, Everyday
2026
3/5
Directed by Kim Min Jae
ProducerKim Nook
WriterGae Da Rae
Age RatingR13
GenreComedy, romance, coming-of-age
Duration99 Minutes
Release Date11 Maret
ThemeTeen romance
Production HouseThe Big Picture
Where to WatchBioskop
CastKim Sae Ron, Lee Chae Min, Choi Yuju, Ryu Ui Hyun

Trailer We, Everyday (2026)

1. Kisah coming-of-age yang sederhana, tapi terasa hangat

Secara premis, We, Everyday sebenarnya tidak jauh berbeda dari banyak film remaja Korea lainnya. Ceritanya berkisar pada persahabatan masa SMA, mimpi yang mulai berubah, dan cinta pertama yang membingungkan. Namun, justru kesederhanaan itulah yang menjadi fondasi film ini.

Dinamika antara Yeo Wool, Ho Soo, dan Joon Yeon adalah kuncinya. Chemistry mereka berhasil menciptakan suasana persahabatan yang meyakinkan, terutama dalam adegan-adegan santai seperti latihan basket atau momen bercanda di kelas.

Nuansa tersebut bakal mengingatkanmu pada beberapa film coming-of-age alias akil balig Korea seperti Twenty (2015), atau bahkan serial Adult Trainee (2021) yang berfokus pada kehidupan sekolah dan dinamika remaja yang baru puber.

Sebagai debut film layar lebar, Chae Min tampil cukup solid. Ia mampu menyeimbangkan karakter Ho Soo yang awalnya bertingkah sebagai sahabat saja, tapi lambat laun jadi cinta. Sementara Yuju membawa energi ceria sebagai Joon Yeon, meski porsi karakternya tidak terlalu besar. Pusat perhatian tentunya berfokus pada Sae Ron yang berhasil memainkan karakter tsundere.

2. Performa Kim Sae Ron terasa lebih emosional karena konteks di balik layar

Satu hal yang membuat pengalaman menonton We, Everyday terasa berbeda adalah konteks di luar filmnya. Kim Sae Ron dikenal sebagai salah satu aktris muda paling berbakat di Korea Selatan. Ia pernah mencuri perhatian sejak kecil lewat film-film seperti The Man from Nowhere (2010) bersama Won Bin dan A Brand New Life (2009), sebelum kemudian tampil lebih matang dalam proyek seperti The Villagers (2018) atau drama Mirror of the Witch (2016).

Dalam We, Everyday, Sae Ron tampil lebih sederhana sebagai Yeo Wool, seorang remaja yang masih bingung dengan perasaannya sendiri. Aktingnya terasa natural. Banyak emosi disampaikan lewat ekspresi kecil atau tatapan yang ragu-ragu, sesuatu yang memang menjadi kekuatan Sae Ron sejak lama.

Namun mengetahui bahwa ini adalah film terakhirnya, setiap adegan terasa lebih melankolis dari yang seharusnya. Bahkan momen-momen ringan seperti candaan bersama temannya terasa memiliki lapisan emosi tambahan bagi penonton yang mengikuti kariernya.

Menonton We, Everyday pun terasa seperti membuka kembali kapsul waktu, kembali ke masa ketika Sae Ron masih bebas bermain film sebelum kontroversi dan tragedi yang merenggut hidupnya pada awal tahun 2025.

3. Apakah We, Everyday layak ditonton?

Sebagai film remaja, We, Everyday memang tidak sepenuhnya sempurna. Beberapa transisi adegan terasa seperti dipotong terlalu cepat, membuat alurnya terasa kurang mulus dan kadang melelahkan untuk diikuti. Rasa-rasanya seperti drakor yang dijadikan film.

Tak cuma itu, beberapa momen lebay juga terasa sedikit dipaksakan sehingga terkesan agak cringey atau cheesy, sesuatu yang sebenarnya cukup umum dalam kisah cinta anak SMA. Lagipula, kalian juga pernah melakukannya saat masih SMA, bukan? Namun di balik kekurangan teknis tersebut, film ini tetap memiliki daya tarik tersendiri, salah satunya karena Kim Sae Ron.

We, Everyday mungkin bukan film remaja paling inovatif dari Korea Selatan. Tetapi sebagai karya terakhir Kim Sae Ron, film ini terasa seperti penghormatan kecil terhadap perjalanan kariernya. Ironisnya, film ini tidak menyertakan tulisan "In Loving Memory" di akhir kredit, hal kecil yang mungkin akan membuat banyak penonton merasa kecewa, atau bahkan marah.

Editorial Team