RIIZE (instagram.com/riize_official)
RIIZE menjadi nama berikutnya yang terseret dalam perbincangan panjang tentang konser nekat di tengah bencana. Ada pembaruan mengenai konser RIIZE di Hong Kong dalam rangkaian 2025 RIIZE CONCERT TOUR [RIIZING LOUD] dan menuai kontroversi. Kondisi saat itu Hong Kong mengeluarkan peringatan Signal Badai No.10, yakni level tertinggi yang menandakan kondisi ekstrem, dan hampir seluruh aktivitas publik dihentikan.
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa konser akan tetap berlangsung meski kondisi cuaca ekstrem. Mereka juga menambahkan bahwa jadwal bisa disesuaikan tergantung situasi. Namun, berita ini justru membuat banyak fans geram dan mempertanyakan keputusan tersebut.
Beberapa komentar fans yang frustrasi berbunyi,
“Pemerintah ngizinin ini?? Nggak ada yang lapor ke pemerintah?? Kalian tetap mau gelar konser padahal sinyal Badai No. 10 lagi berlaku. Kalian sudah nggak manusiawi, demi uang semuanya dipaksakan. Mulai jam 5 sore? Kalian pikir semua fans tinggal di Hong Kong? Yang dari Makau, Zhuhai, Shenzhen gimana?”
“Kemarin kalian bilang ditunda sampai jam 9 malam, sekarang berubah lagi jadi jam 5?? Tunda saja ke jam 9 dan kasih refund untuk yang nggak bisa datang.”
“Gimana caranya fans dari Makau berangkat, meskipun konsernya jadi?”
“Mereka nggak pulang besok, jadi kenapa nggak ditunda ke besok saja? Topannya lewat malam ini. Kami ingin lihat anak-anak RIIZE, tapi nggak ada yang mau mempertaruhkan nyawa.”
“Ini yang kalian sebut prosedur keselamatan? Kalian terlalu memaksakan, hanya karena uang. Ini Sinyal No. 10, bukan 10 tetes hujan. Segera pastikan jadwal dan jangan tarik-ulur. Menunggu seperti ini sangat menyiksa.”
“Apa nggak ada lembaga pemerintah Hong Kong yang bisa turun tangan? Nyawa fans nggak ada harganya?”
Konser K-pop memang selalu membawa kebahagiaan, namun keselamatan manusia tetap harus menjadi prioritas utama. Keputusan untuk melanjutkan konser di tengah bencana seharusnya dipertimbangkan dengan hati-hati dan penuh empati, setuju?