Pernahkah kamu merasa terus bekerja tanpa henti, tapi anehnya gak pernah merasa benar-benar selesai? Jam kerja lewat, pesan masih dibalas, dan pikiran tetap tertambat pada pekerjaan bahkan saat hari sudah malam. Dari luar terlihat produktif, tapi di dalam kepala rasanya rapuh dan mudah lelah. Kondisi inilah yang belakangan dikenal sebagai quiet cracking, fenomena kerja berlebihan yang sering terjadi tanpa disadari.
Berbeda dari burnout yang datang dengan ledakan emosi, quiet cracking berjalan pelan dan senyap. Kamu tetap hadir, tetap menyelesaikan tugas, tapi perlahan kehilangan energi dan motivasi. Fenomena ini diprediksi makin relevan di 2026 seiring budaya kerja fleksibel yang membuat batas waktu kerja makin kabur. Yuk, simak lima cara bijak menghadapi quiet cracking agar kamu tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan kerja.
