Di dunia kerja, status lajang sering kali dianggap sebagai keuntungan tanpa benar-benar ditanyakan apakah orang yang menjalaninya merasa diuntungkan. Banyak ekspektasi muncul secara diam-diam, tidak tertulis di kontrak kerja, tetapi terasa nyata dalam keseharian. Ekspektasi ini sering dibungkus sebagai hal wajar, padahal dampaknya bisa cukup membebani secara mental.
Orang lajang kerap dipersepsikan lebih bebas, lebih fleksibel, dan lebih siap berkorban demi pekerjaan. Padahal, tidak memiliki pasangan bukan berarti tidak memiliki kehidupan pribadi, kebutuhan emosional, atau batas energi. Berikut lima ekspektasi tak tertulis terhadap karier orang lajang di kantor yang sering terjadi dan mungkin terasa sangat relate. Yuk, simak!
