Keinginan untuk keluar dari pekerjaan tetap dan hidup sebagai freelancer sering muncul saat rutinitas kantor terasa melelahkan. Fleksibilitas waktu, kebebasan memilih klien, dan kerja dari mana saja memang terdengar menggiurkan. Namun, realitas dunia lepas sering kali jauh lebih kompleks dari bayangan di media sosial. Tanpa persiapan matang, keputusan resign justru bisa berubah jadi sumber stres baru.
Banyak karyawan tergoda resign karena merasa sudah punya skill dan koneksi awal. Padahal, menjadi freelancer penuh waktu bukan cuma soal keahlian, tapi juga kesiapan mental dan finansial. Transisi dari sistem kerja terstruktur ke dunia yang serba mandiri membutuhkan adaptasi besar. Supaya kamu gak terjebak keputusan impulsif, berikut beberapa tanda yang perlu kamu perhatikan baik-baik.
