Ilustrasi karyawan muslim di kantor (pexels.com/Edmond Dantès)
Berikan tim kebebasan untuk mengatur waktu mereka sendiri dan percayalah bahwa mereka akan melakukannya dengan tanggung jawab. Tetapkan target yang jelas dan pastikan mereka mencapainya untuk menjaga akuntabilitas.
“Jika kamu tidak mempercayai tim, lebih baik mereka diberhentikan. Itu lebih baik bagi bisnis. Tetapi jika kamu percaya pada tim, delegasikan tugas dan nilai berdasarkan tujuan serta hasil kerja, bukan berdasarkan berapa lama mereka berada di kantor,” kata Hossam Abdel Ghaffar, mentor bisnis dan CEO Transcend, dikutip laman Inc. Arabia.
Edward Ahmed Mitchell, Wakil Direktur Eksekutif untuk Council on American-Islamic Relations di Washington, D.C., juga mengamati bahwa beberapa karyawan non-Muslim merasa kasihan kepada rekan Muslim yang berpuasa, sehingga mengurangi beban kerja mereka. Namun, ia menegaskan bahwa karyawan Muslim sebaiknya tidak diperlakukan berbeda dari karyawan lain.
"Meski bekerja sambil berpuasa memang memiliki tantangan tersendiri, komunitas Muslim telah menghadapi tantangan ini selama bertahun-tahun. Mereka tetap bisa menjalankan pekerjaannya tanpa perlu dikurangi tugasnya," ujar Mitchell, dikutip laman SHRM.
Menciptakan lingkungan inklusif dapat membuat semua karyawan merasa dihargai. Rasa kebersamaan ini dapat memberikan dampak positif yang besar bagi bisnis. Strategi inklusif dapat mendorong peningkatan kinerja finansial, memperkuat budaya dan kepemimpinan, serta meningkatkan keterlibatan karyawan. Apakah budaya inklusif di kantormu sudah dipraktikkan?