Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi seseorang kesulitan bekerja.
Ilustrasi seseorang kesulitan bekerja. (pexels.com/Mikhail Nilov)

Intinya sih...

  • Sulit menerima kritik karena inner child yang belum sembuh membuat rasa tidak aman muncul kembali di dunia kerja.

  • Takut ambil risiko karena luka masa kecil membuat seseorang takut mencoba hal baru dan merasa tidak cukup baik.

  • Mudah overthinking karena inner child yang belum sembuh membuat seseorang terlalu banyak berpikir, mengurangi produktivitas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang tidak sadar kalau luka masa kecil masih terbawa hingga dewasa. Inner child yang belum sembuh bisa memengaruhi cara kita bekerja, berinteraksi, bahkan mengambil keputusan. Dampaknya tidak selalu terlihat jelas, tapi perlahan bisa menghambat perkembangan karier.

Kesadaran akan kondisi ini penting supaya kita bisa lebih memahami diri sendiri. Yuk, kita bahas bagaimana inner child yang belum sembuh bisa berdampak pada perjalanan kariermu.

1. Sulit menerima kritik

ilustrasi perempuan dan rekan kerjanya (pexels.com/Yan Krukau)

Orang dengan inner child yang belum sembuh sering merasa tersinggung saat mendapat kritik. Mereka menganggap kritik sebagai serangan, bukan masukan. Akibatnya, perkembangan karier jadi terhambat.

Padahal, kritik bisa jadi bahan untuk tumbuh lebih baik. Kalau terus defensif, peluang belajar akan hilang. Luka masa kecil membuat rasa tidak aman muncul kembali di dunia kerja.

2. Takut ambil risiko

Ilustrasi seseorang ragu menandatangani kontrak atau proposal kerja. (pexels.com/Kampus Production)

Inner child yang belum sembuh sering membuat seseorang takut mencoba hal baru. Mereka khawatir gagal dan merasa tidak cukup baik. Rasa takut ini bisa menghambat langkah besar dalam karier.

Padahal, dunia kerja menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keberanian, peluang besar bisa terlewat. Ketakutan ini sering berakar dari pengalaman masa kecil yang penuh tekanan.

3. Mudah overthinking

ilustrasi overthinking (pexels.com/Gustavo Fring)

Inner child yang belum sembuh bisa membuat seseorang terlalu banyak berpikir. Mereka sering merasa tidak yakin dengan keputusan yang diambil. Akibatnya, pekerjaan jadi tertunda dan produktivitas menurun.

Overthinking membuat energi terkuras untuk hal-hal kecil. Bukannya fokus pada solusi, pikiran malah sibuk dengan kemungkinan buruk. Kondisi ini jelas menghambat perkembangan karier.

4. Sulit percaya diri

Ilustrasi seseorang tidak percaya diri saat presentasi. (pexels.com/Los Muertos Crew)

Rasa tidak percaya diri sering muncul dari luka masa kecil. Inner child yang belum sembuh membuat seseorang merasa tidak layak mendapat kesempatan. Mereka ragu untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Kurangnya percaya diri bisa membuat potensi besar tidak terlihat. Padahal, dunia kerja menghargai orang yang berani tampil. Luka lama membuat langkah karier terasa lebih berat.

5. Cenderung mencari validasi berlebihan

ilustrasi rekan kerja berjabat tangan satu sama lain (pexels.com/fauxels)

Inner child yang belum sembuh sering membuat seseorang haus pengakuan. Mereka merasa harus selalu dipuji agar merasa berharga. Sikap ini bisa membuat hubungan kerja jadi tidak sehat.

Validasi berlebihan membuat seseorang sulit mandiri. Mereka bergantung pada opini orang lain untuk merasa cukup. Kondisi ini bisa menghambat perkembangan karier jangka panjang.

6. Mudah burnout

Ilustrasi seseorang sulit fokus saat bekerja. (pexels.com/Kampus Production)

Inner child yang belum sembuh bisa membuat seseorang bekerja terlalu keras demi membuktikan diri. Mereka sering mengabaikan batasan tubuh dan pikiran. Akibatnya, burnout muncul lebih cepat.

Burnout membuat produktivitas menurun drastis. Karier yang seharusnya berkembang malah terhambat. Luka masa kecil membuat dorongan untuk “selalu sempurna” jadi beban besar.

Inner child yang belum sembuh bisa diam-diam memengaruhi perjalanan karier. Dari sulit menerima kritik hingga mudah burnout, semua berawal dari luka masa kecil yang belum terselesaikan. Menyadari hal ini membantu kita lebih peka pada diri sendiri, supaya karier bisa berkembang dengan sehat dan penuh energi positif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team