Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Dampak Pasif Agresif di Tempat Kerja, Jangan Dibiarkan!
ilustrasi sekelompok orang melihat ke laptop (pexels.com/olly)

Perilaku pasif agresif di tempat kerja sering kali dianggap sepele karena tidak selalu muncul dalam bentuk konflik terbuka. Padahal, sindiran halus, diam seribu bahasa, hingga sengaja menunda pekerjaan bisa bikin suasana kantor terasa gak nyaman dan melelahkan secara emosional. Kalau dibiarkan, kebiasaan ini perlahan bisa merusak hubungan kerja dan menurunkan semangat tim.

Di lingkungan kerja profesional, komunikasi yang sehat jadi kunci penting agar pekerjaan berjalan lancar. Sayangnya, gak semua orang mampu menyampaikan rasa kesal atau kecewa secara langsung dan dewasa. Akibatnya, perilaku pasif agresif sering muncul sebagai cara aman untuk melampiaskan emosi tanpa terlihat konfrontatif. Kira-kira apa saja dampaknya? Yuk, simak pembahasan berikut!

1. Menurunkan produktivitas tim

ilustrasi wanita mengecek tablet di kantor (pexels.com/mikhailnilov)

Perilaku pasif agresif membuat komunikasi dalam tim jadi penuh kebingungan dan miskomunikasi. Orang yang bersikap pasif agresif biasanya memberi instruksi samar, menyampaikan sindiran, atau sengaja menunda pekerjaan sebagai bentuk protes terselubung. Akibatnya, pekerjaan jadi lebih lambat selesai dan koordinasi antar anggota tim ikut terganggu.

“Mengungkapkan permusuhan atau rasa kesal melalui cara tidak langsung seperti sarkasme, pujian bernada sindiran, atau menghindari tanggung jawab adalah perilaku toxic,” kata Erin Miller Weinstein, seorang terapis berlisensi, dikutip dari The Muse.

Selain itu, anggota tim sering kali lebih sibuk menebak maksud ucapan seseorang dibanding fokus menyelesaikan pekerjaan. Situasi seperti ini bikin energi mental cepat terkuras karena suasana kerja terasa penuh tekanan. Dalam jangka panjang, produktivitas tim bisa terus menurun karena terlalu banyak konflik yang dipendam.

“Produktivitas menurun karena orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menafsirkan pesan yang campur aduk daripada benar-benar bekerja,” ujar Wendy Sellers, HR consultant, dikutip dari laman yang sama.

2. Menciptakan lingkungan kerja yang toksik

ilustrasi sekelompok orang melihat ke laptop (pexels.com/olly)

Sindiran kecil, komentar sarkastik, atau kebiasaan mendiamkan rekan kerja bisa perlahan menciptakan atmosfer kantor yang gak sehat. Meski terlihat sepele, perilaku seperti ini membuat orang lain merasa gak dihargai dan selalu berada dalam tekanan emosional. Lama-kelamaan, lingkungan kerja jadi dipenuhi rasa canggung, curiga, dan ketegangan.

Kalau perilaku pasif agresif terus dibiarkan, budaya kerja yang sehat juga makin sulit terbentuk. Rekan kerja jadi takut berbicara jujur karena khawatir akan disindir atau dipermalukan secara halus. Akhirnya, kantor terasa lebih melelahkan secara mental daripada menjadi tempat berkembang bersama.

“Komunikasi menjadi kacau karena orang-orang takut terhadap agenda tersembunyi yang mungkin dimiliki orang lain,” ujar Wendy Sellers.

3. Memicu stres dan burnout pada karyawan

ilustrasi wanita berada depan laptop dengan wajah cemberut (pexels.com/anthonyshkrabaproduction)

Menghadapi perilaku pasif agresif setiap hari bisa sangat menguras emosi, apalagi kalau seseorang terus merasa disindir atau dipermalukan secara halus. Banyak karyawan akhirnya jadi lebih berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak karena takut memicu konflik tersembunyi. Situasi ini bikin mereka sulit merasa nyaman di lingkungan kerja sendiri.

Dalam jangka panjang, tekanan emosional seperti ini dapat memicu stres berkepanjangan hingga burnout. Karyawan jadi mudah cemas, kehilangan motivasi, bahkan mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri. Kalau dibiarkan terus-menerus, kesehatan mental dan performa kerja bisa ikut menurun.

4. Merusak kepercayaan antar rekan kerja

ilustrasi wanita sedang menyimak dalam rapat (pexels.com/divinetechygirl)

Hubungan kerja yang sehat dibangun dari komunikasi terbuka dan rasa saling percaya. Namun, perilaku pasif agresif bikin orang sulit mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan lawan bicaranya. Sikap seperti sengaja menahan informasi atau memberi komentar bermakna ganda bisa memunculkan rasa curiga dalam tim.

“Gaya pasif-agresif merusak kepercayaan dan menciptakan ketidakjelasan, sehingga penyelesaian konflik dan pengambilan keputusan menjadi sangat sulit,” ujar Dr. Nick Bach, psikolog spesialis komunikasi kerja, dikutip dari The Muse.

Ketika rasa percaya mulai hilang, kerja sama juga jadi ikut melemah. Rekan kerja lebih fokus menjaga diri sendiri daripada membangun kolaborasi yang sehat. Akibatnya, hubungan profesional jadi renggang dan suasana kerja terasa kurang suportif.

5. Menghambat perkembangan karier dan tim

ilustrasi seorang pria sedang presentasi (pexels.com/paveldanilyuk)

Perilaku pasif agresif sering membuat masalah di kantor gak pernah benar-benar selesai karena semuanya hanya disampaikan lewat sindiran atau tindakan tidak langsung. Padahal, konflik yang sehat seharusnya dibicarakan secara terbuka agar bisa menemukan solusi bersama. Kalau terus dipendam, masalah kecil bisa berkembang jadi konflik yang lebih besar.

Selain menghambat perkembangan individu, perilaku ini juga bisa menghambat kemajuan tim secara keseluruhan. Ide baru jadi sulit berkembang karena orang takut dikritik secara sarkastik atau dijatuhkan secara halus. Pada akhirnya, lingkungan kerja kehilangan rasa aman yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang bersama.

Perilaku pasif agresif memang sering terlihat samar dan gak terlalu mencolok, tetapi dampaknya bisa sangat besar bagi kesehatan mental maupun suasana kerja. Karena itu, penting untuk mulai membangun komunikasi yang lebih jujur, terbuka, dan sehat agar lingkungan kerja terasa lebih nyaman untuk semua orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team