Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi karyawan wanita frustasi sambil menatap layar
ilustrasi karyawan wanita frustasi sambil menatap layar laptop (pexels.com/Mikhail Nilov)

Intinya sih...

  • Karyawan cerdas emosional mampu mengakui emosi tanpa menjadikannya alasan untuk bersikap kasar atau menyalahkan keadaan.

  • Mereka tetap tenang saat kontribusi tidak dihargai dan menerima kritik tanpa merasa diserang pribadi, menjaga profesionalitas dan reputasi jangka panjang.

  • Karyawan yang cerdas secara emosional tidak ikut terseret suasana negatif, menjaga fokus kerja dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di dunia kerja, emotional intelligence sering disederhanakan sebagai kemampuan menahan emosi agar tidak meledak di hadapan orang lain. Banyak orang merasa sudah dewasa secara emosional hanya karena bisa diam saat kesal atau memilih menghindari konflik terbuka. Padahal, kecerdasan emosional tidak sesederhana itu dan tidak selalu terlihat dari luar.

Emotional intelligence berkaitan dengan cara seseorang memahami dirinya, merespons lingkungan, dan bersikap di situasi yang tidak ideal. Sikap ini sering tidak terlihat mencolok dan jarang mendapatkan pengakuan secara langsung. Enam sikap berikut memperlihatkan bentuk emotional intelligence yang jarang benar-benar dimiliki karyawan.


1. Berani mengakui emosi tanpa menjadikannya alasan

ilustrasi pria dan wanita sedang berbicara bersama (pexels.com/Studio Antoni Shkraba)

Banyak orang mampu menyadari apa yang sedang mereka rasakan, tetapi tidak semua berani mengakuinya dengan jujur. Ada ketakutan dianggap lemah jika mengakui rasa lelah, kecewa, atau tidak nyaman di tempat kerja. Akhirnya, emosi ditekan dan dibiarkan menumpuk tanpa disadari.

Emotional intelligence terlihat saat seseorang mampu mengakui emosinya tanpa menjadikannya pembenaran. Perasaan tidak nyaman tidak digunakan sebagai alasan untuk bekerja asal, bersikap kasar, atau menyalahkan keadaan. Sikap ini menunjukkan kemampuan mengelola emosi secara sadar dan bertanggung jawab.


2. Tetap tenang saat kontribusi tidak dihargai

ilustrasi wanita sedang fokus bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Tidak semua usaha di kantor akan selalu mendapatkan apresiasi yang setimpal. Ada kalanya kerja keras terasa tidak terlihat, bahkan dianggap biasa saja. Situasi seperti ini sering memicu rasa kecewa dan frustrasi yang mendalam.

Karyawan dengan emotional intelligence mampu tetap tenang dalam kondisi tersebut. Mereka tidak melampiaskan kekecewaan melalui sindiran halus, sikap pasif agresif, atau penurunan kualitas kerja. Ketahanan emosional ini membantu menjaga profesionalitas dan reputasi jangka panjang.


3. Menerima kritik tanpa merasa diserang pribadi

ilustrasi wanita menyampaikan kritik dalam rapat (pexels.com/Proyek Saham RDNE)

Kritik hampir selalu terasa tidak nyaman, meskipun disampaikan dengan maksud memperbaiki. Banyak orang langsung bersikap defensif karena merasa harga dirinya dipertanyakan. Reaksi ini sering muncul secara refleks tanpa disadari.

Sikap emotional intelligence terlihat ketika seseorang mampu memisahkan kritik dari identitas dirinya. Masukan diproses sebagai evaluasi kerja, bukan serangan personal. Dengan sikap seperti ini, kritik justru menjadi ruang belajar yang sehat.


4. Tidak reaktif terhadap emosi orang lain

ilustrasi wanita tetap tenang saat ditunjuk jari oleh pria (pexels.com/Yan Krukau)

Lingkungan kerja dipenuhi beragam emosi yang saling bertemu setiap hari. Ada masa ketika suasana terasa berat karena tekanan target, konflik internal, atau perubahan kebijakan. Tidak semua orang mampu menjaga kestabilan emosinya.

Karyawan yang cerdas secara emosional tidak ikut terseret suasana negatif. Seseorang mampu tetap tenang meski orang di sekitarnya sedang emosional atau tidak rasional. Sikap ini membantu menjaga fokus kerja dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif.


5. Menjaga batas emosional tanpa kehilangan empati

ilustrasi dua wanita bekerja (pexels.com/Produksi Kampus)

Empati sering disalahartikan sebagai kewajiban untuk selalu terlibat dalam masalah orang lain. Banyak karyawan merasa harus selalu tersedia secara emosional demi dianggap peduli dan suportif. Padahal, hal ini bisa sangat melelahkan secara mental.

Emotional intelligence justru terlihat dari kemampuan menjaga batas yang sehat. Seseorang tetap peduli tanpa larut dalam beban emosional yang bukan tanggung jawabnya. Sikap ini membantu menjaga energi dan keseimbangan emosi dalam jangka panjang.


6. Konsisten bersikap dewasa di bawah tekanan

ilustrasi wanita duduk di meja sambil bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Tekanan kerja sering kali menjadi ujian terbesar bagi kedewasaan emosional seseorang. Dalam kondisi tertekan, banyak orang berubah menjadi mudah tersinggung, defensif, atau menyalahkan keadaan. Perubahan sikap ini kerap terjadi tanpa disadari.

Karyawan dengan emotional intelligence mampu menjaga konsistensi sikapnya. Seseorang tidak membiarkan tekanan mengendalikan cara berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Konsistensi inilah yang membuatnya lebih dipercaya dalam situasi sulit.

Emotional intelligence bukan tentang menjadi orang yang selalu terlihat tenang dan kuat di permukaan. Ini adalah tentang kesadaran diri, pengendalian emosi, dan kemampuan merespons situasi dengan cara yang matang. Sikap ini sering luput disadari karena tidak selalu tampak mencolok. Namun, justru kualitas inilah yang membuat seseorang bertahan, berkembang, dan dihargai dalam dunia kerja yang penuh dinamika.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team