Jam kerja fleksibel sering dianggap keuntungan utama menjadi freelancer. Tidak terikat jam kantor membuat pekerjaan terlihat lebih santai dan bebas diatur sesuai kebutuhan. Namun di balik fleksibilitas itu, banyak freelancer justru merasa kelelahan secara fisik dan mental.
Tanpa batas kerja yang jelas, waktu istirahat kerap tersisih oleh tuntutan proyek dan target pribadi. Beban ini perlahan menumpuk dan berujung pada burnout yang sering tidak disadari sejak awal. Berikut beberapa alasan yang menjadikan freelancer rentan burnout meski jam kerja fleksibel. Apakah kamu salah satu freelancer yang merasakannya?
